-->

Literasi dari Sewon Toggle

Transisi 2014

Dalam kalender 2014, tak terlalu banyak yang dilakukan Yayasan Indonesia Buku. Karena inilah tahun transisi terbesar setelah 2006 dan 2009.

Di tahun 2006, Indonesia Buku berdiri yang dimulai dengan riset besar-besaran tentang pers dan kronik Indonesia di Jakarta, sekaligus menetapkan sikap bahwa penerbit IBOEKOE memilih jalur penerbitan indie sebagai jalan publikasi karya. Yang dimaksud dengan indie adalah: mencipta/meriset naskah sendiri, memproduksi dan mencetak sendiri lewat POD dalam selimut “Limited Edition”, dan mendistribusikan sendiri lewat jalur-jalur khusus dan setapak.

Pada tahun 2009, Indonesia Buku untuk pertama kali keluar dari kerja-kerja internal dan menyapa masyarakat dan komunitas literasi dengan dibukanya Perpustakaan Gelaran Ibuku. Pembukaan perpustakaan ini sekaligus momen Indonesia Buku terjaring dengan kerja lembaga dan komunitas yang lain; melakukan muhibah dan sekaligus menjadi ruang tandang yang teduh bagi komunitas lain untuk berbagi. Di era 2009-2012 ini lahirlah dua sayap penting Indonesia Buku, Radio Buku dan Warung Arsip. Dua lembaga yang saat ini menjadi mesin perkakas di garda depan kerja harian literasi Indonesia Buku.

Adapun tahun 2014 menjadi tahun ketika Indonesia Buku memiliki rumah baru. Sebelumnya, lebih kurang 8 tahun, Indonesia Buku mengontrak rumah di Patehan Wetan, Alun-Alun Kidul. Dan di setiap tahun, sebagaimana banyak dialami komunitas nirlaba, ada satu purnama ketika diliput was-was untuk membayar tagihan kontrak rumah. Dan tentu saja itu menghambat laju perputaran mesin komunitas. Banyak yang selamat dari purnama menggelisahkan itu. Tapi banyak juga yang tumbang.

Indonesia Buku, di saat-saat lesu darah, mendapatkan rumah barunya yang abadi ketika Kepala Pengawas Yayasan Indonesia Buku menghibahkan studio seni tercintanya yang dibangunnya dengan segenap-genap gairah pada 2007 untuk ditempati. “Kalian bisa mengerjakan apa saja, merombak suka-suka. Asal diperuntukkan kerja-kerja peradaban yang baik. Asal tidak disewakan menjadi tempat kos-kosan,” itu pesannya. Pendek, umum, tapi jelas. Untuk kerja-kerja kemasyarakatan.

Kerja kemasyarakatan itulah yang ditafsir menjadi pembuka pintu rumah baru ini dengan menyelenggarakan “Booklovers Festival”, 23 April – 23 Mei 2014. Syukuran yang berbentuk festival ini adalah cara memperkenalkan rumah baru yang jika dilihat dari jarak 500 meter mirip kotak hitam di tengah sawah. Di rumah yang halamannya masih luas ini, tantangan finansial ketersedian ruang kerja bisa untuk sementara diatasi. Namun tantangan yang abadi dari semua kerja ini adalah memelihara kreativitas dan memupuk daya tahan menghadapi hidup harian, dan purnama-purnama tertentu yang mengirim badai.

Jika di tahun 2014 rumah ini masih berantakan di sana-sini karena tak punya interior yang memadai untuk menampung puluhan ribu buku, maka tahun 2015 adalah tahun pembenahan. Dimulai dari membangun kembali studio Radio Buku yang dirobohkan di Patehan wetan pada Agustus 2014. Dan disusul dengan penanganan ruang Warung Arsip dan perpustakaan yang bisa menampung 100 ribu buku.

Di pekan-pekan berikutnya, “Literasi dari Sewon” memperkenalkan sosok-sosok yang menjadi pematok tapal bagi Indonesia Buku. [gusmuh]

IMG_8310

IMG_2111
– – – + – – –

    “Literasi dari Sewon”

    adalah cerita dari praktik internal yang dilakukan para penggiat Indonesia Buku

    dan/atau seluruh praktik literasi yang berlangsung di dalam pagar

    Gedung Bale Black Box. Posting setiap Senin malam!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan