-->

Komunitas Toggle

STUDIO PERTUNJUKAN SASTRA: MENGUBUR NISAN DI TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

“…Pada sebuah senja yang menyelurupkan matahari dalam langit jingga, lelaki itu mencari namamu, memburu kuburmu. Duganya, kau sudah berbaring tenang di dalam sekotak petiyang baru diketam kemarin malam. Di sana, di antara barisan nisan di bawah naungan kamboja berbunga ruah. Mungkin pula, kau sudah melupakannya atau kau sudah tak memiliki ingatan lagi karena nyawamu telah terbang ke langit. Betapapun, lelaki itu tak akan meninggalkan tanah pekuburan tanpa melihat namamu dalam sepatok nisan…”

Ituadalah sepenggal kisah dari cerita pendek buah pena Asef Saeful Anwar yang berjudul “Pasarean”, salah satu dari limabelas cerita pendek yang ada dalam buku kumpulan cerita pendek Lamsijan Memutuskan Menjadi Gila. Sejak diluncurkan pada 12 September 2014 silam, buku kumpulan cerita pendek yang diterbitkan oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM tersebut masih menjadi buah bibir kalangan sastra di Yogyakarta. Terlebih setelah buku tersebut didiskusikan oleh esais Tia Setiadi dan cerpenis Eko Triono pada 5 November 2014 lalu saat Bulan Bahasa di FIB UGM, buku tersebut berhasil mencuri perhatian pencinta sastra terlihat dari banyaknya permintaan atas buku tersebut kepada penulisnya.
Kali ini, Studio Pertunjukan Sastra bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta, Pusat Studi Kebudayaan UGM, dan Radio Bukuakan membaca ulang cerpen-cerpen karangan Asef Saeful Anwar dalam acara Bincang-bincang Sastra edisi 112. Acara bertajuk “Mengubur Nisan” ini sedianya akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 24 Januari 2015 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta pukul 19.30 WIB. Berperan sebagai pembicara dalam acara ini adalah sastrawan Raudal Tanjung Banua dengan pemandu acara Fitriawan Nur Indrianto. Dalam acara ini, akan ditampilkan drama berjudul “Mengubur Nisan” yang diangkat dari cerpen “Pasarean” oleh Mbes Rio Sinang.
“Pusat Studi Kebudayaan UGM kini telah memosisikan diri sebagai badan penerbitan bagi sejumlah karya yang memang layak untuk dibaca kalangan akademik ataupun masyarakat yang lebih luas.” Ungkap Aprinus Salam selaku kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM. “Dulu Pusat Studi Kebudayaan UGM dikenal sebagai lembaga yang melaksanakan penelitian di bidang budaya. Kini masyarakat sastra menyambut baik upaya Pusat Studi Kebudayaan UGMdengan mengembangkan perannya tidak sekadar menjadi lembaga sebagai pusat riset dan analisis budaya, tetapi juga sebagai pusat dokumentasi, pusat kreasi, dan pusat legitimasi dengan penerbitan buku antologi cerpen ini,” kata Mustofa W. Hasyim sastrawan sekaligus ketua Studio Pertunjukan Sastra.
Karya berupa kumpulan cerpen ini merupakan karya fiksi pertama yang diterbitkan Pusat Studi Kebudayaan, begitu pula bagi penulisnya.“Kebetulan kumpulan cerpen yang diterbitkan adalah kumpulan cerpen tunggal pertama saya yang berisi eksplorasi-eksplorasi baik dari segi ide cerita, teknik penceritaan, maupun bentuk cerpennya sendiri. Semoga masyarakat dapat meneromanya, menyisihkan rezeki dan waktunya untuk buku ini, yang kemudian memberikan tanggapan berupa kritik dan saran,” imbuh Asef Saeful Anwar saat ditemui.
Asef Saeful Anwar sendiri adalah lulusan Ponpes Sunan Pandan Aran yang melanjutkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia UGM serta Program Pascasarjana Ilmu Sastra UGM. Sejumlah tulisan termasuk cerpennya acapkali dipublikasikan di media massa dan majalah sastra. Saat ini, hasil penelitiannya yang berjudul Persada Studi Klub dalam Arena Sastra Indonesia sedang dalam proses penerbitan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan