-->

Peristiwa Toggle

Sastra Digital: Rindu Bekerja Tanpa Suara

Harian Kompas edisi 10 Januari 2015 menurunkan kompilasi wawancara dengan penyair Khrisna Pabichara, prosais Djenar Maesa Ayu, Agus Noor, dan Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison Jamal D Rahman. Keempatnya berbicara tentang situasi dan tantangan “Sastra Digital” masa kini. Berikut ini kronik selengkapnya. (Redaksi)

”BACALAH mataku atas nama Tuhanmu yang mencurahkan cinta tanpa meminta sedikit pun pamrih”. Kalimat puitis itu dicuitkan akun @1bichara di laman Twitter. Tak lama, dia lantas menulis lagi, ”Seperti Tuhan, rindu bekerja tanpa suara”.

”Saya mengunggah tulisan di Twitter kalau sedang mood,” kata pemilik akun itu, Khrisna Pabichara, saat dihubungi, Jumat (9/1). Dari rumahnya di Bogor, Jawa barat, penyair dan penulis itu cukup getol mengunggah kalimat-kalimat puitisnya. Kegiatan itu dilakukan nyaris tanpa batas waktu; bisa pagi, siang, larut malam, bahkan dini hari.

Tak sia-sia, catatan-catatan pendek itu disambut cukup hangat oleh para pengikutnya (followers) di Twitter. Buktinya, tak berselang lama, satu per satu unggahan itu langsung di-re-tweet (dicuit ulang) oleh sejumlah akun lain, bahkan beberapa memberi tanda ”favorit”. Ada juga akun yang memberi komentar, ”Semoga dia mendengar rinduku.”

Bagi Khrisna, media sosial, seperti Twitter atau Facebook, sangat membantu membuka pintu sastra lebar-lebar kepada masyarakat yang sebelumnya kurang mengenal atau belum memiliki akses terhadap sastra. Kini, dengan satu klik saja, pembaca bisa menikmati berbagai macam karya tulis di laman-laman media sosial.

”Media sosial harus bisa dimanfaatkan oleh para penulis. Daya jangkaunya kepada masyarakat luar biasa luas,” tutur penulis buku Sepatu Dahlan dan Surat Dahlan itu.

Jika ingin berhubungan dengan khalayak pembaca lebih luas, penulis bisa aktif mengunggah karyanya di laman media sosial. Apalagi, dengan sifat internet yang interaktif, dimungkinkan untuk terjadi komunikasi dari berbagai arah
dan melibatkan lebih banyak orang.

Dengan begitu, interaksi antara penulis dan pembaca pun kian dekat. Lihat saja akun @1bhicara, beberapa saat setelah tulisan diunggah ke jaringan internet, reaksi pembaca langsung terlihat.

Lebih dari itu, media sosial juga mendorong gairah keberaksaraan dalam waktu singkat. Ada harapan bakal tumbuh minat membaca sekaligus menulis bagi para netizen (internet citizen) yang giat berselancar di dunia maya. Apalagi, karya-karya itu bisa didiskusikan secara terbuka, tanpa dibatasi jarak dan waktu.
Mental tebal

Penulis lain, Djenar Maesa Ayu, juga cukup aktif memanfaatkan internet untuk menampilkan karya-karyanya. Keberanian mengunggah karya di laman daring (dalam jaringan) menuntut penulis untuk memiliki mental tebal. ”Ada komentar yang menarik dan memberi masukan, tetapi ada juga yang sifatnya negatif. Itu semua tergantung kepada cara penulis menanggapi,” ujarnya.

Ia mengaku, meskipun komentar-komentar tersebut membuat lebih dekat kepada para pembaca, tidak otomatis mengakibatkan dia mengubah gaya dalam berkarya demi memuaskan keinginan mereka. Hal tersebut tampak pada keputusannya untuk menerbitkan kumpulan cerita pendek berdasarkan cuit-cuitnya di Twitter ke dalam antologi Twitit.

”Tidak masalah, unggahan itu mendapat reaksi positif atau negatif. Saya mengembangkannya menjadi cerpen murni karena keinginan sendiri, bukan karena unggahan itu banyak disukai pengikut,” ungkap Djenar.
Konsep

Penggunaan media digital dalam memopulerkan karya juga melahirkan gaya tulisan baru. Laman media sosial memiliki tempat yang terbatas, misalnya hanya bisa menggunakan beberapa ratus kata. Untuk laman blog, apabila ditulis terlalu panjang, pembaca juga jenuh. Mereka cenderung menyukai tulisan yang tak terlalu panjang. Oleh karena itu, karya-karya di media sosial umumnya tidak terlalu panjang dan penulis harus lebih cermat memanfaatkan ruang.

Terkait hal ini, penulis dan penyair asal Yogyakarta, Agus Noor, mengatakan, pembaca sebaiknya tidak serta-merta berpendapat bahwa gaya tulisan tersebut adalah bentuk sastra yang baru. ”Karya sastra memiliki konsep memperjuangkan gagasan artistik. Bukan sekadar menerbitkan tulisan di media cetak dan digital. Harus diingat, keberadaan teknologi hanyalah sarana penyalur karya ke masyarakat, bukan pembentuk sastra,” paparnya.

Bagi dia, pembaruan bentuk sastra terjadi apabila ada konsep yang mengusung gagasan-gagasan baru.
Elaborasi

Menurut Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison Jamal D Rahman, posisi sastra selalu berubah seiring perkembangan zaman. Dulu, sastra dianggap sebagai karya yang adiluhung atau tinggi, kini lebih merakyat. Kehadiran sastra digital mendorong demokratisasi di dalam dunia kesusastraan. Kedudukan penulis tidak hanya dimonopoli para penyair atau elite sastrawan, tetapi juga mencakup orang-orang biasa. Ini wajar
dalam perkembangan kebudayaan.

Hanya saja, ternyata konsep karya sastra itu belum banyak berubah. Padahal, idealnya karya sastra terus mengalami elaborasi bahasa, tema, dan daya ungkap baru. ”Semestinya keberadaan sastra digital membuat elaborasi semakin beragam,” kata Jamal.

Ia mencontohkan, puisi sastra cetak masih berupa tulisan dengan ilustrasi. Sekarang sudah ada puisi jenis tipografi dengan kalimat-kalimat disusun sebagai gambar. Puisi itu harus dinikmati secara keseluruhan, tidak bisa hanya gambar atau kata-kata saja.

Dalam situasi sekarang, lanjut Jamal, bisa jadi bakal muncul bentuk-bentuk ekspresi baru, unik, bahkan ekstrem, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Semua itu memberi pilihan luas bagi para pembaca. Penulis pun dituntut lebih kreatif.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan