-->

Peristiwa Toggle

Sastra Digital dan Menghidupkan Buku Elektronik

JAKARTA — Di Harian Kompas, 8 Januari 2015, diturunkan dua potong berita. Tentang sastra digital dan menghidupkan kembali buku elektronik. Menurut sastrawan Sapardi Djoko Damono, kehadiran sastra digital di tengah masyarakat membuat sastra semakin cair dan terbuka. Karya-karya sastra kian mudah diakses oleh banyak orang dan bentuknya pun lebih beragam. ”Ini membuktikan bahwa teknologi merupakan pendukung perkembangan sastra,” kata SSD.

Fenomena sastra digital membantu menyebarluaskan kecintaan terhadap sastra kepada orang-orang yang dulu tidak memiliki akses terhadap sastra. Keterbatasan akses itu, misalnya, karena tidak memiliki biaya untuk membeli buku sastra.

Sapardi juga mengungkapkan, sastra digital mampu memperkenalkan dunia seni tulis kepada orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal sastra. Hal itu baik untuk mendekatkan dan membuat masyarakat menghargai literatur, baik karya penulis lokal maupun asing.

Selain itu, Sapardi berpendapat bahwa pakem standar sastra mencair. Kini, sastra lebih menggunakan pendekatan terhadap selera pembaca yang berbeda-beda. ”Masalah karya tersebut bermutu atau tidak bermutu adalah penilaian subyektif, tergantung kebutuhan setiap pembaca.
Tidak perlu khawatir karena pembaca akan memilih sesuai dengan standar mereka,” kata Sapardi.

Pada kesempatan terpisah, penyair Acep Zamzam Noor mengutarakan, keberadaan sastra digital mendekatkan penulis dengan pembaca. ”Dulu, penulis tidak tahu reaksi masyarakat setelah membaca karyanya,” ujar Acep. Sekarang, penulis bisa memantau pendapat publik atas karyanya melalui komentar-komentar di media sosial,” katanya. Umpan balik dari para pembaca tersebut akan sangat membantu perkembangan seorang penulis.

Acep juga menjelaskan, sastra digital tidak mengecilkan keberadaan sastra cetak. Menurut dia, masyarakat memahami, meskipun di laman internet terdapat karya-karya bermutu, cerita pendek ataupun puisi itu biasanya tidak melewati proses seleksi profesional seperti layaknya sastra cetak. Setiap penulis bisa dengan bebas mengunggah karya. “Seleksi memang bergantung pada standar redaktur media cetak tempat karya diterbitkan. Tetapi, hal ini setidaknya menunjukkan, karya melewati ’uji materi’ dan layak terbit,” ujar Acep.

Buku Elektronik

Untuk mengurangi ketimpangan akses terhadap pendidikan berkualitas, pemerintah menggiatkan kembali penggunaan buku elektronik, terutama di sekolah-sekolah di daerah perbatasan dan daerah dengan tingkat indeks pembangunan manusia yang rendah. Buku elektronik, yang kini diberi nama E-Sabak atau Sabak Elektronik, ini akan berisi materi ajar yang interaktif.

Kebijakan itu dikemukakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, di Jakarta, seusai bertemu dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara serta Direktur Enterprise dan Business Service PT Telkom Muhammad Awaluddin. Anies didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Achmad Jazidie dan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud Hamid Muhammad. ”Ke depan, proses belajar mengajar akan memakai tablet E-Sabak ini sehingga bisa menekan biaya dan tidak dipengaruhi faktor lain, seperti kertas dan masalah distribusi bukunya,” kata Anies.

Ketika ditanya tentang perbedaan E-Sabak dengan Buku Sekolah Elektronik (BSE), program di era Mendikbud Kabinet Indonesia Bersatu II Mohammad Nuh, Anies menegaskan, keduanya jelas berbeda, terutama pada bagian pola perancangan materi ajarnya. Materi ajar dirancang khusus untuk buku elektronik sehingga lebih interaktif. Berbeda dengan BSE yang bukunya bisa dicetak. ”Bahan-bahan kuis untuk guru juga diberikan melalui E-Sabak ini. Dengan penggunaan tablet, materi akan lebih kaya dan kualitas materi ajarnya bisa dijaga,” papar Anies.

Muhammad Awaluddin membenarkan, program sabak elektronik seperti ini pernah dijalankan pada 2011 dengan nama sabak juga. Hanya saja, perbedaannya ada pada jumlah peserta didik yang akan menerima program ini. ”Dulu sudah pernah diujicobakan. Namun, belum dilakukan secara masif, seperti rencana sekarang ini,” ujarnya.

Menkominfo Rudiantara menjelaskan, dari sisi jaringan internet, dapat dilakukan optimalisasi. Koneksinya tidak perlu harus ke Jakarta, tetapi dapat dilakukan dengan rerouting (mempermudah akses data lewat internet). Fasilitas jaringan Kemdikbud dapat dimanfaatkan kementerian lain, seperti Kementerian Kesehatan, untuk menghubungkan puskesmas-puskesmas. ”Kami punya white list bagi dunia pendidikan. Teknologi V-SAT yang akan digunakan,” ucapnya.

Awaluddin menambahkan, layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi ini disediakan dalam satu paket layanan, yang mencakup perangkat, jaringan, dan aplikasi. Nanti akan disediakan tiga alternatif jaringan, yakni fixed line, seluler berbasis 3G, dan satelit (V-SAT). ”Setiap anak akan mendapatkan perangkat, jaringan, dan aplikasi atau buku elektronik,” ujarnya.

Akan tetapi, Anies mengatakan, tablet yang akan digunakan setiap peserta didik di sekolah tidak dapat dimiliki oleh anak, tetapi meminjam dari sekolah. Meski dana sudah dialokasikan, besarannya tak disebutkan. ”Dari hasil sidang kabinet tadi di Istana tentang RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional), program pembangunan akan fokus di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) termasuk pendidikan. Orientasinya ke pedesaan,” ungkapnya.

Anies berharap, dengan solusi berbasis teknologi informasi dan komunikasi ini, peserta didik di wilayah 3T bisa mendapatkan pengetahuan dan informasi yang sama dengan mereka yang tinggal di wilayah perkotaan. Wilayah 3T itu, antara lain, adalah Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara.

Demikian dua guntingan berita dari Harian Kompas, 8 Januari 2015. Simak terus kronik buku yang dicatat dan disimpan di radio buku dan warung arsip

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan