-->

Tokoh Toggle

Nadya Mulya | Rambah Dunia Penulisan | Jakarta

Harian Media Indonesia, 9 Januari 2015, di halaman 28, menurunkan profil penulis buku “Moms and the City”. Nadya adalah runner-up 1 Putri Indonesia 2004, presenter, dan kini hasratnya menemukan pelabuhannya: dunia penulisan. Ini kisah ringkasnya. (Redaksi)

Nadya Mulya, Passion Menulis (MI 28)

TIDAK mau berpuas diri, Nadya Mulya merambah dunia penu lisan. Baru-baru ini karyanya yang berjudul “Moms and the City” dirilis. Setelah itu, karya “Moms and the Kitchen” akan dirilis dalam waktu dekat.

Perempuan kelahiran Jakarta, 19 Februari 1980, ini sebelumnya dikenal sebagai model, aktris, penulis, dan presenter Indonesia. Lantas apa yang mendasari keinginannya merambah dunia penulisan? “Aku ingin memiliki kegiatan saat hamil, aku pikir presenting apalagi acting kan harus dikurangi saat hamil karena capai. Kalau menulis bisa dilakukan sambil bersantai,“ ujar Nadya yang menjadi presenter di acara ulang tahun ke-87 pendiri Mustika Ratu, Mooryati Soedibyo, di Jakarta, Senin (5/1).

Runner-up 1 Putri Indonesia 2004 ini mengaku aktivitas di dunia hiburan menyita waktu.

Dengan menulis, ia lebih leluasa menghabiskan waktu bersama dua putrinya, Nadine Andjanimulya Mudijana dan Nuala Andharamulya Mudijana, buah pernikahannya dengan Dastin Mirjaya Mudijana.

“Selain itu, aku memang dari kecil hobi menulis. Apalagi waktu kuliah S-2 sempat buat banyak paper, kemampuan menulis jadi terasah. Aku menemukan passion aku yang lain, selain menjadi presenter tentunya,“ kata dia.

Menurutnya, semua orang bisa menjadi penulis. Ia mengakui menulis bukan perkara mudah. Namun, ia meyakini siapa saja dapat mengasah potensi untuk menulis.

Nadia menilai melalui tulisan, karakter seseorang akan tampak. Ia membandingkan dua penulis Indonesia favoritnya, yakni Tamara Geraldine dan Dewi Lestari, yang hadir dalam gaya yang berbeda.

“Keduanya hebat, menyenangkan baca tulisan mereka. Akan tetapi, gaya penulisan mereka kan berbeda. Tamara yang santai, ceplas-ceplos, sedangkan Dee yang serius. Itu mencerminkan karakter seseorang. Tulisan itu jujur,“ tutur wanita bertubuh ramping ini.

Untuk itu, ia membagikan kiat bagi siapa saja yang ingin memulai menulis agar jujur dan jadi diri sendiri. “Jangan dipaksain kalau memang sukanya itu, jangan berusaha jadi orang lain, gaya penulis itu beda-beda dan akan kelihatan,“ tandas pengagum penulis serial teenlit “Sophie Kinsela” ini.Pengalaman pribadi Karena itu pulalah, Nadia memilih untuk menulis tentang kesehariannya sebagai ibu. Kedua bukunya masih seputar kesibukannya sehari-hari membesarkan dua putrinya.

“Aku menuangkan pengalaman aku saja sebagai ibu. Mungkin itu cerita yang menarik bagi ibu-ibu urban,“ kata dia.

Nadia amat mensyukuri kesempatan yang diberikan Tuhan untuk mengasuh dua putrinya. Ia mengatakan sosok perempuan Indonesia idealnya ialah seseorang yang berkiprah di masyarakat, tetapi tidak meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan ibu.

“Agar bisa terus berkarya dan menginspirasi, perempuan tidak harus melupakan kodratnya sebagai ibu.Itulah perempuan Indonesia,“ tandas dia.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan