-->

Tokoh Toggle

Ebbie Vebri Adrian | Sembilan Tahun Bertualang demi Buku Fotografi Indonesia | Jakarta

Siapa bilang menulis buku itu gampang. Tanyalah Ebbie Vebri Adrian. Sembilan tahun dilakoninya berkeliling tanah air dan menjual aset untuk mewujudkan impian: membuat buku fotografi tentang keindahan alam negeri. Buku dengan 1.300 foto itu jadi. Judulnya: “Indonesia A World of Treasure”. Ebbie memberitahu kita mencintai Indonesia dengan buku itu mesti dilalui dengan kerja keras. Tri Mujoko Bayuaji menurunkan kisah Ebbie di Harian Jawa Pos yang dipublikasikan 13 Januari 2015. Simak laporan selengkapnya di bawah ini. (Redaksi)

Ebbie Vebri Adrian

DUNIA fotografi sebenarnya bukan bidang yang akrab digeluti Ebbie. Lulusan ilmu komputer dan ilmu pemerintahan itu sebenarnya lebih senang menjadi pengusaha. Dia memang memiliki usaha di kampung halamannya, Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Namun, hobi pencinta alam dan membaca buku telah membawa pria 38 tahun tersebut untuk bertualang keliling Indonesia mengabadikan keindahan alam. Sembilan tahun dia blusukan dari satu destinasi ke destinasi lain untuk berburu objek foto.

”Selain camping, caving, dan diving, saya hobi baca buku tentang Indonesia,” kata Ebbie saat ditemui Jawa Pos akhir Desember 2014.

Ketika itu, dia menunjukkan buku hasil blusukan-nya, Indonesia A World of Treasure. Buku bersampul hitam itu berisi 1.300 foto yang bercerita tentang 1.000 destinasi wisata dari 34 provinsi di Indonesia. Buku tersebut cukup tebal, 543 halaman, dengan kualitas kertas yang luks. Di sampulnya, Ebbie mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya: Jelajahilah Negerimu.

Hebatnya, meski tebal dan lumayan mahal, dalam waktu dua bulan sejak di-launching pada 10 November lalu, seribu eksemplar buku Ebbie langsung ludes. ”Sekitar 950 eksemplar saya jual lewat Facebook. Sebanyak 50 buku lainnya saya bagikan kepada orang-orang dekat dan pihak-pihak yang berjasa atas terbitnya buku ini,” ujar pria yang masih melajang itu.

Berbagai buku tentang Indonesia yang dibaca Ebbie itulah yang membuatnya penasaran untuk bertualang keliling dari Sabang sampai Merauke. Sayangnya, kebanyakan buku itu adalah karya orang luar. Masih jarang buku bikinan orang Indonesia.

”Kalaupun orang Indonesia yang buat, rata-rata tematik. Misalnya, tentang pantai atau heritage saja. Kenapa tidak ada yang membuat buku foto tentang Indonesia secara luas?” ujarnya.

Rasa penasaran Ebbie memuncak pada 2004 sehingga membuatnya mengambil keputusan besar yang mungkin sulit dilakukan orang kebanyakan. ”Saya jual aset, kuras tabungan, bahkan menjual usaha yang sudah jalan. Saya ingin membuat buku tentang Indonesia,” ungkapnya.

Keputusan Ebbie itu memunculkan pertentangan di internal keluarga. Sang ayah, Adnan Amir, adalah yang pertama menentang keputusan Ebbie tersebut. Sebab, kala itu Ebbie sudah memiliki usaha sendiri yang cukup sukses.

”Ayah bilang, saya ini gila. Sebab, usaha saya saat itu sudah menghasilkan pendapatan yang tidak sedikit,” ujar Ebbie tanpa bersedia menyebutkan jenis usahanya tersebut.

Meski ditentang sang ayah, Ebbie tetap kukuh pada keputusannya. Dia lalu melakukan hal-hal yang ”tidak masuk akal” untuk mengejar impiannya membuat buku fotografi tentang Indonesia itu. ”Sayang, ayah tidak sempat menyaksikan karya saya ini. Beliau keburu meninggal pada akhir 2005,” katanya.

Petualangan Ebbie dimulai pada Januari 2005. Dia mengawalinya dari nol. Sebab, dia sama sekali tidak memiliki latar belakang keahlian fotografi. Karena itu, hal pertama yang dilakukan adalah membeli kamera, lalu mempelajari lewat manual book-nya. Tapi, baru enam bulan kemudian, dia mulai mengerti teknik fotografi, mulai komposisi, pencahayaan, dan sebagainya.

Selama berkeliling Indonesia itu, Ebbie dituntut pandai-pandai memanajemen segala kebutuhannya, terutama keuangan yang terbatas. Dia tidak tahu jumlah uang yang dikeluarkan selama sembilan tahun petualangannya.

”Yang jelas, miliaran rupiah. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, saya harus sewa kapal, beli alat-alat, bodi kamera, dan lain-lain,” ujarnya. Selama sembilan tahun berkeliling Indonesia, Ebbie tercatat membeli sembilan bodi SLR, beberapa pocket camera, serta belasan lensa.

Empat tahun petualangannya, Ebbie kehabisan uang. Untungnya, sang ibu, Dewi Warni, mau men-support aktivitas anak sulungnya tersebut. Selain itu, foto-foto karya Ebbie mulai laku. Sejumlah perusahaan nasional memanfaatkan karya Ebbie untuk media promosi.

”Kami sekeluarga pusing kalau mikir duitnya. Yang penting bukunya kini sudah jadi,” ujar kakak Dina Adelina dan Robi Ferdian tersebut sambil menepuk-nepuk buku karyanya.

Menurut Ebbie, tidak banyak yang tahu bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam serta bangunan heritage yang sangat luas. Yakni, benteng Keraton Buton yang luasnya mencapai 23 hektare. Foto Keraton Buton itu didokumentasikan dengan indah dalam buku Ebbie.

”Keraton Buton sudah masuk Guinness Book of World Record sejak 2006,” ujarnya. Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki gugusan atol atau karang terbesar ketiga di dunia, yakni di Takabonerate.

Ebbie menyatakan, selama hampir satu dasawarsa bertualang, bukunya nyaris tidak lengkap. Hingga tujuh tahun petualangannya, ada satu fenomena unik di Indonesia yang belum bisa didokumentasikan. Yakni, puncak Cartenz di pegunungan Jaya Wijaya, Papua.

”Masih ada lembaran kosong di buku saya jika Jaya Wijaya tidak masuk,” ujarnya.

Bukannya dia tidak mampu menuju ke sana. Namun, wilayah Jaya Wijaya merupakan bagian dari eksplorasi tambang PT Freeport. Ebbie sudah berusaha meminta izin berkali-kali ke Freeport, namun selalu gagal.

Jalan baru terbuka lebar setelah pada akhir 2012 dia didapuk menjadi pemateri dalam workshop fotografi karyawan PT Freeport. Di workshop itulah dia bertemu Wahyu Sunyoto, vice president PT Freeport, yang mengikuti workshop bersama anaknya. Wahyu tergugah saat Ebbie menceritakan pengalamannya mendokumentasikan alam Indonesia, namun belum bisa menjelajahi kawasan Jaya Wijaya.

”Saat sesi istirahat, saya punya kesempatan untuk mendekati Pak Wahyu. Saat itulah saya mendapat izin untuk memotret Jaya Wijaya,” ujar Ebbie gembira.

Bukan hanya izin, Ebbie juga mendapat fasilitas istimewa dari Freeport berupa helikopter. Dengan heli itu, dia leluasa menjelajahi puncak Cartenz. ”Kebetulan, cuaca saat itu bagus. Langit biru. Alhamdulillah, kan,” ujarnya senang.

Sembilan tahun berkeliling Indonesia, dia menyatakan empat kali akan dirampok. Untungnya, semua gagal. Ebbie juga pernah kehilangan sebagian data foto hasil kerja kerasnya lantaran hard disk-nya rusak dan tidak bisa di-recovery.

”Saya kehilangan foto sekitar 10 provinsi sampai hampir putus asa rasanya. Terpaksa saya ulangi yang hilang itu,” tuturnya.

Selain kehilangan data, pengalaman yang tidak terlupakan dialami saat mendokumentasikan keindahan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. ”Saya dua kali ke Wakatobi. Dua kali pula hampir mati,” ujarnya.

Pengalaman pertama ke Wakatobi adalah pada 2008. Saat itu, setelah selesai memotret, Ebbie bersiap pulang dengan menyewa kapal nelayan menuju Baubau. Namun, baru dua jam perjalanan, mesin kapal yang ditumpangi rusak. Di tengah laut, Ebbie terombang-ambing selama tiga hari tiga malam tanpa makanan.

”Untungnya, pada hari ketiga, ada kapal nelayan lain yang lewat. Saya dan nelayan yang membawa saya diselamatkan. Kalau tidak, mungkin saya sudah mati,” kenangnya.

Pengalaman kedua terjadi pada 2012. Kala itu, Ebbie sudah mempersiapkan diri lebih baik dengan menyewa perahu yang dilengkapi lima mesin. Namun, malang. Setelah memotret sunset di Bukit Tomeya, dia mengalami kecelakaan. Motor yang ditumpangi bersama seorang dive master terperosok saat menuruni bukit. Dia mengalami luka parah di tangan dan kaki.

”Seminggu saya bed rest di rumah sakit. Untung masih selamat. Kamera saya juga selamat,” imbuhnya.

Sebelum buku fotonya itu dicetak, Ebbie sebenarnya mendapat tawaran dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang bersedia mencetaknya. Hanya, syaratnya, buku tersebut tidak boleh diperjualbelikan.

”Buku itu mau dibagikan gratis ke pejabat. Untuk apa dibagikan terbatas buat mereka? Masyarakat Indonesia harus melihat buku saya. Saya bukan konglomerat, saya juga butuh uang untuk hidup,” tegasnya.

Ebbie akhirnya memutuskan untuk mencetak sendiri bukunya. Karena itu, dia harus mengurai lebih dari 300 ribu foto untuk diseleksi. Proses layout pun dilakukan sendiri. ”Sebenarnya buku ini akan saya luncurkan pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober lalu. Tapi, pencetakannya molor sehingga dipilihlah baru pada Hari Pahlawan, 10 November, bisa dirilis,” jelasnya.

Ebbie bangga akhirnya bisa meluncurkan buku foto tentang Indonesia itu. Namun, dia belum puas. Dia merasa baru sebagian kecil Indonesia yang sudah terjamah.

”Indonesia punya 17.508 pulau. Saya baru masuk 300-an di antaranya. Begitu pula di antara lebih dari 5.000 destinasi, saya baru masuk di 2.500 tempat. Sampai tua pun sepertinya tidak akan selesai,” ujarnya menggambarkan.

Namun, untuk petualangan berikutnya, Ebbie mengungkapkan tidak perlu mengeluarkan biaya sendiri lagi. Sebab, sejumlah sponsor menyatakan bersedia membiayai proyek ”tidak masuk akal” Ebbie selanjutnya.

”Saya akan kembali mengelilingi Indonesia. Tapi, tidak hanya melalui foto, melainkan juga video. Tujuannya, mengedukasi masyarakat betapa indahnya negeri ini,” tandas dia.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan