-->

Peristiwa Toggle

Buku Murah di Blok M Square Jakarta

Harian Media Indonesia edisi 26 Januari 2015 menurunkan tiga laporan ihwal buku murah di kios buku bekas di Blok M Square. Kios yang berjejeran di lantai dasar mall ini menjadi oase bagi pemburu buku yang harganya dibanting. Sekaligus tempat ini menjadi halte pertemuan pembaca dan buku-buku khusus yang tak terduga. Berikut ini adalah tiga laporan MI. (Redaksi)

Berburu yang Murah di BMS

Puluhan lapak penjual buku yang ada di Blok M Square (BMS), Jakarta Selatan, menjadi muara pertemuan para penggemar buku. Tempat itu menjadi alternatif untuk berburu beragam buku yang dibutuhkan. Karena dijual dengan harga lebih murah jika dibandingkan dengan harga di toko buku, kebanyakan buku tersebut ialah buku-buku bekas.

Winson, seorang mahasiswa universitas swasta di Jakarta, menjadi salah satu pelanggan yang kerap berbelanja buku di sana. Penggemar komik itu sering mencari buku-buku komik bekas untuk melengkapi koleksinya. “Kalau lagi belanja, saya bisa beli sepuluhan buku ataupun komik karena di sini murah,“ ujarnya kepada Media Indonesia, saat sedang memilih buku di sebuah kios, kemarin.

Puluhan pedagang buku bekas itu menempati kios di area blok A, basement BMS.Para pedagang tersebut merupakan pedagang yang dulu berjualan buku murah di daerah Kwitang. Pada 2008, mereka digusur dari Kwitang.

“Setelah digusur, kami sempat berjualan di Thamrin City selama setahun, kemudian 2009 baru menempati kios di sini,“ kata Putra, salah seorang pemilik kios buku.

Kios-kios para pedagang itu relatif nyaman bagi para penjelajah buku. Karena letaknya yang berada di basement membuat mereka tidak khawatir akan panas dan hujan. Ruangan itu juga dilengkapi pendingin ruangan yang mengusir pengap.Namun, berbeda dengan di toko buku yang memiliki rak-rak rapi, para pedagang buku di BMS hanya memajang buku sekadarnya.Buku-buku lebih banyak diletakkan di atas sebuah meja dan ditumpuk-tumpuk seadanya. Karena kebanyakan buku yang dijual ialah buku bekas, para pemburu buku harus teliti memilih buku yang diinginkan dengan mengecek kondisi buku.

Tempat itu bisa dikata surga bagi para pemburu dan penggemar buku karena hampir semua jenis buku ada di situ, mulai buku-buku pelajaran, buku cerita anakanak, novel remaja, dewasa, pop, sejarah, sastra, filsafat, sosial, budaya, hukum, ekonomi , politik, hingga kedokteran. Majalah dan buku-buku berbahasa inggris dan bahasa asing lainnya juga ada di sini.

Harga buku pun bervariasi, mulai bukubuku lama dengan harga Rp5.000, Rp10 ribu, Rp20 ribu, bahkan hingga Rp700 ribu untuk buku berseri seperti ensiklopedia.Ada pula buku-buku yang harganya bisa sampai setengah dari harga buku di tokotoko buku besar.Lokasi strategis Lokasi kios buku di BMS yang dekat dengan Terminal Blok M terbilang strategis.Kios buku yang kebanyakan buka sejak siang itu beroperasi hingga pukul 19.00 WIB. Kios buku BMS kerap menjadi tempat singgah para pengguna kendaraan umum di Terminal Blok M. Ada yang membeli satu dua buku, ada pula yang hanya cuci mata melihat buku-buku yang dijajakan.

“Karena adanya terminal jadi orangorang yang turun dan naik bus di terminal sering ke sini, dan memang ini lokasi strategis,“ kata Putra.

Dalam sehari, para pedagang tersebut bisa mendapat omzet Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. Pedagang lainnya, Rahmat, menuturkan berbeda dengan di toko buku, para penjual di BMS tidak memberi harga pas terhadap buku-buku yang mereka jual.Para pembeli harus pintar-pintar menawar harga dengan para pedagang.

“Kita buka harga terendah Rp35 ribu sampai Rp50 ribu ke atas, tapi masih bisa ditawar sampai harga paling rendah,“ terangnya.

Tidak mau kalah dengan toko buku terkenal, para penjual buku di BMS juga memberi diskon untuk buku-buku tertentu. Mereka berharap diskon yang mereka tawarkan bisa lebih menarik minat pembeli.

“Di sini ada diskon untuk buku asli seperti buku-buku pelajaran. Makanya kalau pelajar lebih suka beli di sini,“ kata Rahmat.

Banyak Peminat, Novel Populer Jadi Sasaran para Pembajak

Buku dengan harga yang murah menjadi nilai tersendiri tidak hanya bagi para pecinta buku, melainkan juga bagi para pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan buku-buku untuk menunjang pembelajaran yang diikuti mereka. Tidak semua orang menyukai buku-buku bekas yang kondisinya sudah tidak sempurna.Ada pula yang menginginkan buku-buku masih mulus, licin, tetapi dengan harga semurah-murahnya. Bagi para pembeli buku tipe ini, harus berhati-hati, karena mungkin saja buku yang dibeli adalah buku bajakan.

Salah satu pedagang buku di Blok M Square Sony mengaku, di samping menjual buku-buku asli dirinya juga menjual buku bajakan. Buku bajakan yang dijual ini biasanya novel-novel populer, dan buku-buku materi kuliah yang banyak dicari mahasiswa. Karena peminatnya banyak, Soni selalu memenuhi stok ba rang dagangannya dengan buku-buku bajakan ini. “Ada yang bajakan, seperti buku kuliah buat mahasiswa. Itu banyak dicari mahasiswa,“ ujarnya.

Misalnya saja buku mengenai pengantar ekonomi dan manajemen terbitan indeks dijual dengan harga Rp40 ribu.Padahal harga buku asli tersebut sekitar Rp75 ribu. Meski sudah dijual murah, para pembeli bisa menawar dengan harga yang lebih murah lagi. “Masih bisa ditawar sampai harga paling rendah Rp25 ribu,“ terangnya.

Contoh lainnya, untuk rangkaian novel karya Harlequin dijualnya di kisaran Rp15 ribu-Rp20 ribu dari harga novel aslinya, Rp40 ribu. Sementara untuk seri Twilight dijual di kisaran Rp60 ribu-Rp75 ribu dari harga aslinya, Rp110 ribu.

Pandasurya, seorang pelanggan buku di BMS mengatakan para pembeli memang harus berhati-hati dan jeli melihat buku bajakan. Kebanyakan penjual tidak mengungkapkan asli tidaknya buku kepada para pembelinya. “Pembeli yang harus jeli. Sebab, penjual tidak akan mengaku kalau mereka jual buku bajakan,“ ungkapnya.

Sebagai penggemar buku, ia memiliki kiat khusus untuk membedakan buku asli dan bajakan. Yang harus dilihat pertama kali, kata dia, adalah sampul dan kemasan buku yang akan dibeli. “Biasanya sampul buku bajakan warnanya jauh lebih pudar jika dibandingkan dengan sampul asli yang sangat jelas dan terang,“ jelasnya.

Perbedaan lain yang bisa dilihat adalah jenis kertas dan kualitas jilid buku. Halaman dari buku bajakan biasanya lebih mudah terlepas karena dijilid seadanya.“Pilihannya ada di pembeli, dia harus cek langsung pas dia beli. Setelah itu dia yang tentukan tetap beli buku bajakan atau beli yang asli,“ tutupnya.

Melengkapi Dagangan, Menadah dari Pemilik

BUKU murah yang dijual di basement Blok M Plaza ini di antaranya merupakan buku bekas, termasuk buku-buku langka.Pedagang sendiri memiliki pemasok tetap yang menjual buku jenis ini. Salah satu pedagang buku bekas, Andika, mengaku mengkhususkan menjual buku bekas untuk kalangan mahasiswa dengan harga pas kisaran Rp10 ribu. Buku-buku bekas jenis ini menurutnya didapatkan dari para pemilik buku yang segaja menjual kepadanya. “Kalau buku bekas ini, ada pemilik buku yang sudah langganan ke saya. Mereka jual dan saya beli,“ ungkapnya.

Dia menerangkan, meskipun buku tersebut bekas, kondisinya masih layak pakai dan sangat dicari mahasiswa-mahasiswa untuk kepentingan kuliah. “Karena untuk mahasiswa kan yang penting isinya bisa dibaca sesuai kebutuhan dan harganya murah.“

Meski buku yang dijajakannya bukan buku baru, Andika memiliki standar untuk kualitas buku-buku yang dijualnya.Karena, kata dia, pembeli juga enggan membeli buku yang halamannya tidak lengkap atau kertasnya sudah dimakan tikus.

“Kita lihat kondisinya dulu, kalau masih bagus ada cover yang masih utuh, kondisi kertasnya masih baik, dan tidak banyak coretan, baru kita beli,“ jelas Andika.

Selain buku pelajaran, Andika juga menyediakan beberapa buku langka.Hanya saja buku langka yang dipajang tidak selengkap buku-buku pelajaran.Untuk buku-buku langka tertentu, para pembeli harus memesan terlebih dahulu buku yang mereka inginkan. Para penjual biasanya mencari dulu buku yang dipesan tersebut. “Kalau ada yang pesan baru deh kita carikan bukunya. Dan, biasanya buku itu dijual sama pemiliknya,“ terangnya.

Untuk harga beli buku langka sendiri, tergantung dari judul dan seberapa langka buku tersebut. Adapun, untuk harga jualnya tentunya tidak bisa disamakan dengan buku bekas yang paling rendah dijualnya Rp10 ribu. Semakin langka, semakin mahal bukunya. Terutama untuk buku-buku yang penulisnya sempat dilarang menulis di Indonesia. Buku langka ini dijual dengan harga ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Ia mencontohkan buku 30 Tahun Indonesia Merdeka yang dipajangnya. Andika menjual dengan harga Rp350 ribu. “Kalau buku langka tergantung jenis bukunya apa dulu. Harga bisa disesuaikan,“ tandasnya.

Untuk buku-buku bajakan, Sony, pedagang lainnya, mengaku mendapatkan buku dari daerah Bandung.

“Kalau yang begini, kami langsung dapat dari Ban-dung. Mereka yang antar ke kami,“ kata Sony.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan