-->

Peristiwa Toggle

Buku Indie dalam Persaingan di Dunia Penerbitan

Harian Kompas edisi 12 Januari 2015 menurunkan liputan buku dengan narasumber Dani Ardiansyah (Indie Publishing, Depok, Jawa Barat), Rahmah (Nerbitkan Buku, Surabaya), Irwan Bajang (Indie Book Corner, Yogyakarta), Aan Ratmanto (Atap Buku, Yogyakarta), Damar Hutauruk (IKAPI). Mereka berkomentar tentang ceruk persaingan dalam produksi dan penjualan buku indie. Berikut kliping selengkapnya. (Kerani)

 

JAKARTA — Buku yang diterbitkan penerbit indenpenden alias buku indie kian mewarnai dunia perbukuan Indonesia. Melalui penerbitan independen, para penulis yang tak mendapat kesempatan dari penerbit besar bisa menerbitkan karya mereka. Namun, situasi itu juga mendatangkan risiko, yakni tidak terkontrolnya kualitas buku yang terbit.

Penerbitan independen ada yang bertujuan menerbitkan buku sesuai dengan permintaan penulis. Namun, ada pula yang khusus menerbitkan buku-buku beraliran tertentu yang memiliki ceruk pasar kecil. ”Tujuan dari penerbitan jenis pertama ialah agar setiap orang bisa menyampaikan gagasan dalam bentuk buku,” ujar Dani Ardiansyah, pendiri perusahaan penerbit Indie Publishing di Depok, Sabtu (10/1).

Dani menuturkan, syarat menerbitkan buku di perusahaannya relatif mudah, yaitu tak mengandung pornografi dan pesan kebencian pada kelompok tertentu. ”Selain dari hal-hal SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), kami tak menolak jenis naskah apa pun. Naskah yang kami terima diedit agar lebih layak dibaca. Kemudian, diterbitkan dalam waktu 30 hari kerja,” ujar Dani.

Umumnya perusahaan penerbitan independen menawarkan pilihan paket. Mulai dari harga Rp 1 juta hingga Rp 8 juta yang bergantung kepada jumlah halaman, rancangan sampul, dan jumlah eksemplar. Buku-buku yang terbit umumnya novel, buku motivasi, dan buku panduan.

Pada saat terpisah, pemilik perusahaan Nerbitkan Buku yang berbasis di Surabaya, Rahmah, mengatakan, penulis muda pengguna jasa penerbitannya biasanya mencetak maksimal 1.000 eksemplar karena masih ingin membaca selera pasar.

Segala kerugian penjualan ditanggung penulis. Jika kelak buku dipermasalahkan kualitasnya, referensi, daftar pustaka, bahkan dituding plagiat, penerbit tak menanggung akibatnya. ”Kami menandatangani perjanjian, setelah terbit, konten merupakan urusan penulis,” kata Rahmah.

Penerbit independen yang menerbitkan buku khusus dengan ceruk pasar kecil umumnya meraih konsumen dengan mendekati komunitas penulis, komunitas sejarah, dan komunitas sastra. Indie Book Corner di Jakarta, misalnya, hanya memilih naskah sastra, seperti novel atau puisi yang berkualitas tinggi, tetapi memiliki pangsa pasar kecil. ”Justru karena ceruk yang spesifik, seleksi naskah amat ketat,” kata Irwan Bajang, pemilik Indie Book Corner.

Hal serupa diutarakan Aan Ratmano, pemilik Atap Buku di Yogyakarta. Penerbit itu hanya menerbitkan buku yang mengandung unsur sejarah. Para redakturnya memiliki latar belakang studi atau peneliti sejarah.

Ketua Badan Perbukuan Ikatan Penerbit Indonesia Damar Hutauruk mengatakan, dengan semakin banyaknya penerbit independen, penerbit anggota Ikapi kian ketat dalam mengawasi redaksional suatu naskah. Seleksi naskah buku mempertimbangkan dua hal, yaitu mutu isi dan potensi pasar. ”Redaktur berperan sebagai penjaga gawang yang menyaring naskah sesuai persyaratan idealisme dan bisnis,” ujarnya.

Kronik Buku Indonesia adalah upaya mengumpulkan kliping-kliping peristiwa dan komentar tentang dunia buku di Indonesia dari beragam media.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan