-->

Komunitas Toggle

Bincang-bincang Sastra Edisi 110 Memandang Negara Lewat Panggung Srandul

B2xOIP0CAAEr5A5.jpg large

 

Apa jadinya jika karya sastra berupa geguritan dirangkai dalam sebuah pertunjukan drama tari Srandul? Apalagi tema yang di angkat mengenai persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia saat ini. Inilah yang akan dihadirkan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan Radio Buku, Paguyuban Srandhul Suketeki, dan Sanggar Anak Bagaskara UNY dalam Bincang-bincang Sastra edisi 110. Acara tersebut sedianya akan berlangsung pada Sabtu (22/11) pukul 20.00 WIB. di Amphi Teater Taman Budaya Yogyakarta.

Sebagaimana diketahui bahwa Srandul adalah kesenian rakyat berupa drama tari. Serupa kethoprak namun tampilannya jauh lebih sederhana. Sampai saat ini, seni Srandul belum menumukan kejelasan sejarahnya. Tidak ditemukan catatan yang dapat menjadi dasar ilmiah. Selain itu ditemukan beberapa versi asal-usul srandul yang kesemuanya bersifat “babad” atau cerita dari mulut ke mulut. Srandul yang dimainkan Paguyuban Seni Srandul Suketeki adalah srandul yang biasa dimainkan oleh kelompok srandul di Prambanan dan sekitarnya yang masih mempertahankan beberapa hal utama dalam kesenian itu. Misalnya alat musiknya tetap hanya terdiri angklung, kendang dan rebana.

Paguyuban Srandul Suketeki sendiri berasal dari dusun Karangmojo, Tamanmartani, Kalasan sejak 10 Maret 1983. Menjelang dekade 90-an kesenian ini mati suri. Baru pada tahun 2013 ada upaya menghidupkannya kembali dan aktif hingga sekarang. “Dalam kesempatan kali ini Suketeki akan menampilkan lakon ‘Aja Rebutan Payung Mingkup’, disadur secara bebas dari Serat Piwulang:Aja Rebutan Payung Mingkupkarya Mustofa W. Hasyim” kata Kusuma Prabawa selaku penggarap naskah sekaligus dhalang pertunjukan ini. “Lakon ini mengisahkan keadaan Kademangan Karangwetan semakin terpuruk, ibarat payung yang tertutup atau mingkup. Serupa dengan kondisi Indonesia saat ini,” imbuhnya.

Acara ini akan menampilkan pemainSukarjo, Saliman, Joko Nur Cahyo, Ismayanti, Wagiran,Wiji “Inthuk” Margiyono, Ning Marsanti, Dobrak Tirani Tegak Nurani, Gunariyanto,AjengJCB, Rela Tohpati Bela Nurani, Dyajeng Arsyila, TinukNoviaKurnia, Iksanie Putri, Tati Deni M., Octafiana Mayangsari, Wahyu Sekarsari, dan Slamet Sarwo Mintarjo. Iringan musik akan dimainkan Bidah Trisno Sudarmo, Sutrisno, Gandung Mujiyono, Sugiman, dengan wiraswara Sudarman dan Ngatijo. Semuanya adalah warga dusun Karangmojo, Tamanmartani, Kalasan, Sleman.

Diharapkan, Srandul sebagai karya seni tradisi mampu menjadi alternatif pertunjukan sastra, khususnya sastra Jawa, sehingga bentuk pemanggungan sastra menjadi semakin kaya dan dapat menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru yang bermanfaat bagi orang banyak.

Latief S. Nugraha, Sekretaris Studio Pertunjukan Sastra

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan