-->

Peristiwa Toggle

Wiendu Nuryanti di Frankfurt Book Fair: “Saatnya penerbit buku membuat jaringan internasional”

FRANKFURT — Pada kesempatan tahun ini dan tahun depan, FBF harus dimanfaatkan para penerbit buku untuk membuat jaringan internasional.
ENETAPAN Indonesia sebagai tamu kehormatan atau Guest of Honour pada Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 harus dimanfaatkan industri perbukuan nasional untuk bangkit menengok level internasional. Pasalnya, selama ini industri perbukuan nasional belum menarik perhatian para penerbit internasional. ‘’Kehadiran industri perbukuan dalam negeri pada level internasional sangat terbatas sekali,’’ ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) bidang Kebu dayaan Wiendu Nuryanti di Frankfurt, Jerman, 9 Oktober 2014.

Menurut Wiendu, FBF merupakan upaya strategis mempertemukan penerbit Indonesia dengan penerbit dari berbagai negara. Dengan demikian, ajang pameran buku terbesar di dunia itu sangat diperhitungkan.

Pada FBF kali ini misalnya, ada sekitar 7.000 stan dari sekitar 100 negara. Mereka mengikuti pameran buku terbesar kedua di dunia itu mulai 8-12 Oktober, dan diperkirakan akan dikunjungi sekitar 300 ribu orang.

Sebagai tamu kehormatan, Indonesia tahun depan akan mendapatkan ruang pamer yang sangat luas, sama dengan tuan rumah Jerman. Indonesia akan diberi kesempatan memperkenalkan budaya dengan pertunjukan dan diskusi.

Wiendu berharap kesempatan FBF tahun ini dan 2015 dapat dimanfaatkan para penerbit buku untuk membuat jaringan internasional.

‘’Pemerintah hanya memfasilitasi, mempertemukan, dan diharapkan 2-3 tahun ke depan para penerbit dalam negeri tidak lagi sulit memasarkan buku mereka ke luar negeri.’’ Ia yakin setelah industri perbukuan bergerak, akan muncul minat menulis dan pada akhirnya meningkatkan minat baca masyarakat. Duta Besar Indonesia untuk Jerman Fauzi Bowo menambahkan FBF 2015 juga bakal memberi kesempatan kepada penulis muda untuk tampil.

Selama ini orang luar negeri lebih banyak mengenal penulis-penulis tua seperti Pramoedya Ananta Toer.

‘’Pada FBF 2015 akan ditampilkan para penulis muda yang tulisannya bagus-bagus. Kami akan memberikan panggung untuk mereka, yang selama ini tidak pernah ada,’’ papar mantan Gubernur DKI Jakarta yang biasa disapa Foke tersebut. Maryono menyatakan untuk persiapan Indonesia menjadi tamu kehormatan FBF 2015, Indonesia akan menerjemahkan 200 judul buku ke bahasa Jerman. Hingga kini, yang telah tuntas diterjemahkan sekitar 40 buku dan sekitar 100 buku dalam proses penerjemahan.

Saat ditanya kendala untuk menyediakan 200 judul buku yang telah diterjemahkan dalam bahasa Jerman, Wiendu mengatakan banyak masalah yang tidak diduga. Ia mencontohkan sulitnya mendapatkan penerjemah yang memenuhi persyaratan. Selain itu sistem keuangan yang berlaku di Jerman mengharuskan tak boleh secara langsung memanfaat kan jasa penerjemah, harus melalui agen. Juga, belum ada aturan jelas menetapkan buku yang harus diterjemahkan.`’Masih mencari-cari model yang pas,” katanya.

Foke menambahkan, permasalah lain adalah minimnya jumlah penerjemah di Jerman.`’Penerjemahnya juga masalah, jumlahnya hanya lima orang yang profesional, jadi sulit untuk dipaksakan.” Meski begitu, Wiendu yakin dalam penyelenggaraan FBF 2015, Indonesia mampu menyediakan 200 buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jerman.

Demikian Harian Media Indonesia edisi 10 Oktober 2014 mengabarkan dari Frankfurt, Jerman.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan