-->

Peristiwa Toggle

Welmin Sunyi Ariningsih: “400 naskah kuno sudah kembali dari Belanda, Jepang, Inggeris”

JAKARTA — Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menyebutkan ribuan naskah kuno Indonesia dikuasai oleh instansi pemerintahan dan warga asing.Saat ini, pemerintah Indonesia terus berupaya mengambil kembali naskah bernilai sejarah tinggi Nusantara tersebut. “Sejauh ini sudah sekitar 400 naskah kuno yang mampu diambil kembali dari Belanda, Jepang, Inggris, Eropa, dan negara lainnya,” kata Deputi Bidang Pengembangan Bahan Perpustakaan Perpusnas Welmin Sunyi Ariningsih, di sela pameran tematik naskah kuno Nusantara di Jakarta, Sabtu (25/10). Sedikitnya 40 naskah cerita panji koleksi Perpusnas dipamerkan pada acara tersebut.
Menurut dia, warga negara asing sangat tertarik pada budaya, sejarah, dokumen, dan naskah kuno, lantaran naskah kuno memiliki nilai-nilai kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang tinggi.

Warga negara asing biasanya dapat menguasai naskah kuno itu dengan membeli kepada masyarakat. Adapun instansi pemerintahan asing dapat menguasai naskah kuno ketika negara itu menjajah bangsa Indonesia. Bangsa asing itu lalu membawa, menyimpan, dan memamerkannya di museum negara bersangkutan.

“Untuk itu, kami akan berupaya mengambil naskah itu melalui perundingan hubungan diplomatik dengan negara bersangkutan, agar pemerintah asing itu bersedia mengembalikan naskah kuno tersebut,” ujar Welmin.

Di sisi lain, menurut dia, meski kini sudah ada UU No 11 Tahun 2010 yang mengatur larangan penjualan naskah kuno sebagai salah satu benda cagar budaya, kenyataan di lapangan, transaksi bendabenda cagar budaya tersebut tetap saja masih terjadi.

“Kami sulit mengawasi praktik-praktik penjualan naskah kuno kepada negara atau warga negara asing, sehingga diperlukan kesadaran masyarakat untuk tidak menjual dokumen, naskah, dan karya sastra kuno kepada negara asing, karena ini merupakan kebudayaan asli bangsa ini,” papar dia.

Ia pun berharap masyarakat yang memiliki naskah kuno menyumbangkannya kepada pemerintah untuk menjaga akar budaya dan kelestarian karya sastra khas bangsa Indonesia.

“Jika dikembalikan, naskah itu menjadi koleksi Perpusnas.Kami akan bertanggung jawab menjaga dan merawat naskahnaskah kuno Nusantara yang diserahkan masyarakat tersebut,” tukas Welmin.Keterbatasan akses Kepala Perpusnas Sri Sularsih menambahkan, saat ini Perpusnas telah mengumpulkan dan mengoleksi sekitar 10 ribu naskah atau sastra kuno yang semula tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

`’Di masa mendatang, naskah kuno akan terus bertambah se bagai koleksi Perpusnas seiring dengan telah terdeteksinya naskah atau karya sastra kuno di masyarakat,” kata dia pada kesempatan yang sama.

Ia pun berharap pameran tematik naskah kuno Nusantara yang digelar hingga 30 Oktober mendatang bisa meningkatkan kepedulian dan pengetahuan generasi muda terhadap naskah kuno.

“Ketidakpedulian generasi muda selama ini disebabkan ke terbatasan akses mempelajari naskah kuno. Itu disebabkan pengetahuan mereka hanya diperoleh dari pelajaran sastra dan bahasa di sekolah.Pameran ini sebagai upaya kami memperkenalkan kembali naskah dan sastra kuno ke masyarakat, terutama kepada generasi muda,” pungkas Sri.

Demikian Harian Media Indonesia edisi 27 Oktober 2014 mengabarkan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan