-->

Peristiwa Toggle

Seribu Kata di Ubud Writers & Readers Festival 2014

Harian Media Indonesia Minggu edisi 12 Oktober 2014 menurunkan dua laporan perhelatan Ubud Writers & Readers Festival di Ubud Bali, 1-5 Oktober silam. Menurut laporan ini sastrawan Indonesia harus jadi raja di negeri sendiri untuk menggenggam Nobel. Perhelatan UWRF tahun ini dianggap sukses. Namun, helatan yang dimulai sejak 11 tahun silam itu tidak diimbangi dengan pembacaan sastra daerah.Inilah dua laporan lengkap yang ditulis Iwan Kurniawan.

——–

MATAHARI sore mulai condong ke ufuk barat. Hamparan sawah menghijau diapit deretan pepohonan kelapa membuat sinarnya berpendar kala jatuh di beranda sebuah kafe di Jl Bisma, Ubud, Bali. Di ruangan bergaya Bali itu, puluhan penulis berkumpul.

Mereka hadir untuk ikut merayakan perhelatan peluncuran antologi dwibahasa bertajuk Saraswati Wisdom & Knowledge yang menjadi salah satu acara utama pada Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), 1-5 Oktober lalu.

Sore itu, tepat pukul 17.00 Wita, langit Ubud begitu biru. Kicauan burung pemakan padi pun samar dan lamat terdengar dari beranda. Para penulis dan penikmat sastra lainnya harus berdiri seraya mengikuti acara peluncuran.

Para penulis (novelis, cerpenis, penyair) tampak hadir. Mereka adalah peserta yang terpilih mewakili Indonesia pada ajang tahunan itu. Para penulis prosa, yaitu Absurditas Malka, Agus Rois, Bambang Kariyawan Ys, Dias Novita Wuri, Erni Aladjai, Fadel Ilahi El-Dimisky, Faisal Oddang, Maggie Tiojakin, Ninda Daianti, S Metron Masdison, dan Sulfiza Ariska. Untuk penulis puisi, yaitu Bunyamin Fasya, Ishack Sonlay, Regi Sastra Sena, serta Rio Fitra SY.

Para penulis pun membacakan karya lewat `seribu bahasa’ secara spontan.Ada yang tampak bingung, gugup, canggung, dan ada beberapa pula yang tidak menguasai panggung sehingga terasa hambar.

Agus membacakan karyanya yang ter maktub dalam antologi berjudul Nandung Emak, misalnya, harus terbatah-batah.“Maaf, saya bicara bahasa Indonesia saja ya. Agak canggung bicara Inggris,“ tuturnya, sopan seraya membacakan puisinya, Sabtu (4/10).

Begitu pula dengan Ishack. Penyair muda asal NTT itu membacakan puisi Doa.Ia tampak atraktif dengan memainkan rekaman instrumen yang sudah ia siapkan di ponselnya. Alunan instrumen lagu khas Suku Dawan mengalun perlahan mengiringi ia membacakan puisinya. Namun, pembacaan Doa itu terlalu buru-buru sehingga tidak pas dengan alunan musik.

Audiens selama perhelatan UWRF memang sangat didominasi pengunjung asing. Itu bisa dilihat pada beberapa diskusi yang hampir semua ruangan dihuni orang-orang berkulit putih. Perhelatan tahun ini sedikitnya dihadiri 150 penulis dari 25 negara berbeda. Persoalan korupsi Topik lainnya yang cukup menyita perhatian, yaitu topik terkait korupsi dan kemanusiaan yang dibahas pada sesi berbeda. Seri korupsi itu menghadirkan tiga pembicara, yaitu penulis Jill Jolliffe (Australia), Jacqui Baker (Australia), dan Elizabeth Pisani (Inggris).

Pisani dikenal sebagai periset yang sudah belasan tahun meneliti tentang Indonesia. Persoalan korupsi juga menjadi pandangan utamanya sehingga ia selalu menuliskan di berbagai media internasional.

“Korupsi di Indonesia sangat masif.Bahkan, kata yang sepadan untuk menggambarkan orang melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme di sini pun diadopsi dari bahasa Inggris,“ cetusnya.

Begitu pula dengan Jolliffe yang cukup terkenal lewat karya nonfiksinya yang juga telah difilmkan, yaitu Balibo. Pada sesi itu, ia menyampaikan berbagai persoalan terkait invansi Indonesia ke Timor Leste pada 1975. Persoalan kemanusiaan itulah yang membuat ia menuliskan Balibo sehingga sempat menggemparkan pihak Indonesia. Buku itulah yang membuat sutradara Robert Connolly memfilmkannya.

Panitia juga menggelar sebuah acara Tribute Night to Lempad. Lempad memiliki nama panjang I Gusti Nyoman Lempad (1862-1978) merupakan salah satu seniman ternama Bali.

Selain itu, ada tema lingkungan yang menjadi lebih membumi, yaitu persoalan kerusakan biota laut hingga dampak buruk pembunuhan gajah di Asia hingga Afrika. Pemateri lingkungan, yaitu CEO The Body Shop Indonesia, Suzy Hutomo, novelis sekaligus aktivis lingkungan Naneng Setiasih, dan Co-Founder of Be Elephans Be Elephans Nadya Hutagalung.

Perhelatan UWRF tahun ini terasa sukses. Namun, helatan yang dimulai sejak 11 tahun silam itu tidak diimbangi dengan pembacaan sastra daerah. Semuanya berpatok kepada sastra Barat yang notabene dinilai sebagai sastra kelas wahid. Para peserta dari Indonesia pun seakan hadir sebagai tamu di rumah sendiri.

Janet De Neefe, Founder and Director of UWRF, menyatakan pihaknya telah menerjemahkan karya penulis Indonesia ke bahasa asing agar lebih dibaca lagi oleh pembaca luar. “Tema tahun ini ilmu pengetahuan (Dewi Saraswati) sehingga itu bisa sebagai jalan bagus bagi penulis Indonesia.“

Lokasi perhelatan UWRF yang terpencar dan tidak difokuskan di suatu lokasi tertentu membuat pengunjung tidak bisa mengikuti setiap pembahasan. Jangan sampai ajang bergengsi itu hanya sebagai seremonial tahunan yang hanya milik bangsa asing. (M-2)

Perlu Mengakrabi Science Fiction

Sambil menunjukkan foto dan film dokumenter, Nadya Hutagalung, CoFounder of Be Elephans Be Elephans, langsung menyapa para audiens saat tampil dalam sebuah sesi diskusi lingkungan pada perhelatan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2014 di Fivelements, Ubud, Bali.

Ia tampak santai seraya menyapa sekitar seratusan orang yang memenuhi ruangan diskusi. Di sudut ruangan, terpajang foto-foto bertema lingkungan yang dipajang selama helatan UWRF, 1-5 Oktober. Kehidupan petani hingga nelayan terbungkus rapi dalam setiap bingkai karya.

Nadya hadir untuk mengupas tentang persoalan lingkungan, terutama pembantaian gajah di berbagai pelosok dunia, termasuk Asia dan Afrika.Maklum, gadis berdarah Batak itu merupakan aktivis penyelamatan gajah.

“Novel maupun dokumenter yang mengupas tentang kehidupan gajah sangat minim. Saya tertantang sehingga ikut membuat dokumenter, bukan novel,“ ujarnya santai seusai memberikan materi, sore itu.

Tidak hanya persoalan gajah yang menjadi perbincangan, topik pembahasan lingkungan pun menjadi salah satu ulasan hangat. Novelis sekaligus aktivis lingkungan Naneng Setiasih pun merasa tertantang untuk menulis lagi novel berikutnya yang masih berpatokan pada kerusakan biota hingga perjalanan mengunjungi suatu daerah tertentu.

“Masih minim penulis yang mengupas tentang persoalan kerusakan laut. Makanya, saya menulis novel berdasarkan data realis,“ timpal Naneng yang juga penulis novel De Journal itu.Minim penulis fiksi ilmiah Keberadaan penulis di mata Naneng yang mengupas soal isu lingkungan masih bisa dihitung dengan jari.Padahal, kata dia, di Malaysia dan Jepang, banyak penulis novel fiksi tentang lingkungan yang bermunculan.

Tak hanya itu, Naneng memang se ngaja memfokuskan novelnya bertema lingkungan karena itu sudah menjadi hal yang ia tekuni sejak remaja.

Karya-karya asing diakuinya cukup memengaruhi perjalanan menulisnya. Sayangnya, Naneng merupakan penulis yang tidak bisa menyelesaikan novelnya secepat kilat. Ia bahkan harus meriset 5-10 tahun untuk bisa mendapatkan hasil maksimal.

“Jangan kita tanyakan di Eropa.Kesadaran penulis di sana bukan lagi pada persoalan pribadi, melainkan pada masyarakat luas. Kita perlu akrabi science fiction,“ jelas perempuan alumnus Institut Teknologi Bandung itu.

Naneng pun mengaku isu lingkungan sangat kuat untuk dijadikan sebagai bahan science fiction. Apalagi, keberadaan Indonesia yang memiliki persoalan lautan (biota laut) sangat menggiriskan.

Tak dapat dimungkiri, kerusakan lingkungan, baik di laut maupun di darat, menjadi isu hangat yang tercuat pada UWRF kali ini. Tak mengherankan, novel-novel yang mengupas tentang ekosistem sangat minim peminat. Bila ada, itu pun penulis dari kalangan ilmuwan.

Salah satunya, sastrawan muda asal Singapura, Stephanie Dogfoot. Ia kerap mengusung tema lingkungan dalam karya-karyanya. “Lingkungan itu luas cakupannya sehingga kita bisa melihat dari berbagai pandangan. Lingkungan bersih, kita juga hidup sehat,“ tuturnya.

CEO The Body Shop Indonesia, Suzy Hutomo, dalam pemaparannya mengaku prihatin dengan kerusakan lingkungan, terutama anak-anak di desadesa yang mengonsumsi makanan berkemas secara sembarangan.

“Saya sering jalan ke desa-desa.Anak-anak tidak lagi makan kacang goreng, namun mengonsumsi makanan toko. Nah, saat mereka konsumsi, biasanya membuang bungkusan (sampah) secara sembarangan. Plastik itu bisa larut hingga beratus tahun, lo. Ini perlu pendidikan, termasuk lewat sastra,“ tuturnya.

Sayang, di saat para pembicara menyampaikan perihal persoalan lingkungan, baik biota laut maupun satwa daratan di dalam ruangan perhelatan UWRF, sekelompok remaja di luar sibuk mencari burung dara.Mereka menggunakan senapan angin untuk menembak mangsa.

Beberapa kali mereka membidik ke sasaran, namun tak ada hasilnya.Tak lama berselang, terdengar pekik burung, dan jatuh terkulai lemas ke tanah. Darah segar mengucur dari dada kiri. Salah satu remaja berhasil me nembak jatuh seekor burung dara untuk bekal makan malam. Mereka pun melangkah pulang dengan senyum di bibir.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan