-->

Peristiwa Toggle

SBY Menyerahkan Arsip 10 Tahun Pemerintahannya ke Arsip Nasional

BOGOR — Web daring tempo.co dan kompas.com edisi 18 Oktober 2014 menurunkan berita penyerahan arsip oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Arsip Nasional Republik Indonesia. Penyerahan dokumen itu dilakukan secara simbolis di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, 17 Oktober 2014.

“Dokumen ini merupakan pertanggungjawaban saya bersama pemerintahan yang saya pimpin, kepada negara, sejarah, dan masa depan, karena akan ada ratusan ribu dokumen penting yang menjadi bagian dari sejarah,” kata Presiden SBY saat memberikan sambutan di acara penyerahan.

Menurut SBY, pengarsipan dokumen ini harus mulai dilakukan demi terciptanya administrasi yang modern di sebuah negara, baik pada pemerintah pusat, sampai pemerintah di level bawah. SBY mengatakan pengarsipan penting bagi penulisan sejarah, pembuatan buku, atau riset. “Di luar negeri, pengarsipan ini sangat-sangat penting,” ujarnya.

Melalui pengarsipan ini, SBY melanjutkan, diharapkan tak ada lagi polemik di masyarakat ihwal dokumen negara yang tak diketahui rimbanya. “Itu tidak boleh terjadi lagi,” ucapnya. “Peristiwa-peristiwa itu merupakan fakta dan kebenaran, sehingga harus tersedia.”

Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi mengatakan pengumpulan dokumen pemerintahan SBY telah dilakukan sejak Juni 2014 dan dikerjakan oleh tim yang dipimpin Sekretaris Militer Presiden. Dokumen yang diserahkan berupa undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, keputusan presiden, instruksi presiden, ratifikasi perangkat hukum, dan perjanjian internasional.

“Ada juga dokumen kepresidenan, antara lain berupa surat-surat resmi dari dan kepada presiden, beragam nota kesepahaman, himpunan naskah pidato presiden, kumpulan artikel dan buku karya presiden, hingga rekaman video dan dokumentasi foto,” kata Sudi.

Ada 212 album foto kegiatan presiden dan lebih dari 2.688 buku yang mendokumentasikan kegiatan dirinya. Negara menghabiskan anggaran sebesar Rp 295.996.848 untuk pendokumentasian ini. Anggaran termahal dikeluarkan untuk biaya pekerjaan percetakan dan penjilidan risalah serta transkrip sidang kabinet dan rapat terbatas, yakni sebesar Rp 112 juta.

Menjadi Wisata

Kepala Arsip Nasional RI Mustari Irawan mengatakan, semua arsip yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan disimpan di tempat khusus yang dimiliki lembaga penyimpan dokumen negara itu. Arsip tersebut dan arsip presiden-presiden lainnya akan dimasukkan ke museum dan akan dibuat sebagai obyek wisata.

Mustari mengatakan, ANRI memiliki program mengumpulkan semua arsip kepresidenan. Semua arsip itu akan bermanfaat bagi presiden-presiden berikutnya dan untuk pengenalan masyarakat kepada presidennya. Arsip-arsip itu akan dimuseumkan.

“Ini bisa menjadi obyek wisata. Kami rencanakan di Gedung Gajah Mada yang di bekas gedung Hindia Belanda itu kami akan bangun. Kami rencanakan tahun ini grand design disusun,” kata Mustari.

Dia menyebutkan, pembangunan itu baru akan dilakukan pada 2015 dengan melibatkan arsitek dan sejarawan. Menurut Mustari, negara-negara maju lain, seperti Korea Selatan, sudah terlebih dulu memiliki arsip kepresidenan.

“Saya berharap pimpinan nasional yang akan datang, setelah jabatannya selesai, bisa menyerahkan ke kami dan kami akan menyimpan dengan baik karena punya ruangan khusus dan diperlakukan istimewa,” kata dia.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan