-->

Peristiwa Toggle

Panggung Baru Buku Lama di Media Sosial

Web berita daring detik.com edisi 9 Oktober 2014 menurunkan laporan khusus tentang menjamurnya fenomena penjualan buku lama di laman jejaring sosial. Laporan yang diberi tajuk “Cerita Baru Buku Lama” itu tak hanya mengurai sisi niaga, tapi juga hasrat berselancar ke masa silam lewat medium buku, pengembaraan mencari sensasi yang ditiupkan sejarah, hasrat kecintaan pada buku, dan tentu saja menjaga keberlanjutan peradaban yang disumbang buku. Inilah 6 postingan yang dikerjakan secara serius Is Mujiarso tentang dunia buku dalam proses pencarian sistem perniagaan dengan cara baru lewat media sosial di internet.

—-

‘Perjalanan Ajaib’ Sebuah Buku Bekas

Usai menemui penyair yang buku kumpulan puisinya akan diterbitkan, editor itu mampir ke sebuah kios buku bekas. Ketika sedang melihat-lihat buku di rak, tiba-tiba ia menemukan Pangeran Kecil karya Antoine de Saint-Exupe;ry. Ingatannya langsung melayang ke masa silam. Ia ingat, waktu kecil dulu sudah berpuluh kali membacanya. Tapi, yang kemudian bikin ia tambah kaget, buku yang dipegangnya itu ternyata tak lain buku miliknya ketika kecil dulu. Ada jejak goresan-goresan tangannya, dan ada namanya di buku itu.

Ketika sang penjual menanyakan apakah dia akan membelinya, ia menjawab tidak. “Kalau terlalu mahal harganya bisa saya turunkan,” kata si penjual. “Bukan begitu, jika aku membeli buku ini berarti aku menjadi tujuan terakhir buku ini, tapi jika tetap di sini buku ini akan melalui banyak orang lagi, dan perjalannnya akan semakin panjang,” kata yang editor cantik itu.

Tercenung oleh perkataan pengunjung tokonya, sang penjual buku pun jadi berpikir kembali tentang perjalanan yang dialami buku-buku yang menjadi dagangannya. Beberapa buku itu adalah hasil barter, beberapa lainnya dari kelarga yang mau pindah. Ada juga dari kolektor yang mengambil dari keluarga lain. Dari mana pun asalnya, mereka pasti telah melalui beberapa tangan dalam perjalannnya. Buku-buku itu berasal dari orang-orang kaya dan miskin, ibu rumah tangga dan pelajar; mereka telah dibaca di atas sofa nyaman, atau di bawah keteduhan pohon rindang, menyentuh hati orang-orang dan memberi harapan bagi yang lain. Berapa banyak tangan telah membolak-balik lembarannya, dan masih akan berapa tangan lagi setelahnya.

Di zaman digital sekarang ini, perjalanan sebuah buku bekas bisa jauh lebih dahsyat lagi daripada yang bisa dibayangkan oleh penjual buku, juga sang editor dalam kisah “Perjalanan Ajaib dan Kisah-kisah Nyata Menyentuh Lainnya: Chicken Soup for the Soul Graphic Novel” yang digambar oleh Kim Donghwa (terjemahan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cetakan pertama April 2008). Mari kita bandingkan dengan kisah di bawah ini:

Pada 1988 seorang pendaki gunung Inggris bernama Joe Simpson menulis buku berjudul Touching the Void, sebuah cerita menegangkan tentang situasi antara hidup dan mati di Pegunungan Andes di Peru. Walaupun resensi buku ini bagus, penjualannya sedang-sedang saja, dan dalam waktu singkat dilupakan orang. Sepuluh tahun kemudian sesuatu yang aneh terjadi ketika seorang pendaki lain bernama John Krakauer merilis buku tragedi pendakian gunung serupa, berjudul Into Thin Air yang sukses besar. Apa sesuatu yang aneh itu? ‘Touching the Void’ ikut terdongkrak dan mulai terjual lagi, dicari orang lagi.

Toko-toko kemudian memajang lagi “Touching the Void” bersebelahan dengan “Into Thin Air”, dan penjualannya pun terus menanjak. Sebuah penerbit bahkan kemudian meluncurkan cetak ulang versi murahnya, yang bertahan 16 minggu di daftar buku laris New York Times. Pada pertengahan 2004, penjualan “Touching the Void” telah mengalahkan “Into Thin Air”, lebih dari dua kali lipat! Apa yang terjadi? Benarkah munculnya “Into Thin Air” telah memancing dan memanggil kembali “Touching the Void”? Jawabannya bukan pada buku itu sendiri, tapi cara penjualannya yang telah berubah. Ya, penjualan online!

Ketika “Into Thin Air” pertama kali diluncurkan, beberapa pembaca menulis resensi di Amazon.com yang menunjukkan kemiripan dengan “Touching the Void”, sekaligus membuat perbandingan dengan menyebutkan bahwa buku tersebut sebenarnya lebih bagus. Orang-orang yang membaca resensi itu tertarik untuk memasukkan buku tersebut ke keranjang belanja. Perilaku pembeli ini terbaca oleh Amazon yang kemudian memberikan rekomendasi,” pembaca yang membeli “Into Thin Air” juga membeli “Touching the Void”, dan menganjurkan pembelian buku tersebut sebagai satu paket.

Orang menerima anjuran dan rekomendasi itu, merasa setuju, lalu menuliskan resensi-resensi yang lebih banyak lagi atau komentar mengenai buku-buku itu. Patut dicatat, ketika buku “Kraukeur” muncul, stok buku Simpson sudah hampir habis. Satu dasawarsa yang lalu pembaca Krauker tidak akan pernah tahu soal buku Simpson, dan kalau pun tahu akan sulit menemukannya. Namun, penjualan online mengubah situasi tersebut. Dengan memadukan ruang pajang yang tak terbatas dan informasi real-time tentang tren belanja, serta komentar masyarakat konsumen, maka terciptalah fenomena “Touching the Void”. Menurut Chris Anderson dalam buku “The Long Tail”, yang terjadi dalam hal ini adalah meningkatnya kebutuhan atas buku yang nyaris tak dipedulikan orang. Dan, itu terjadi 10 tahun yang lalu.

Kini, perkembangannya sudah lebih gila. Ribuan bahkan jutaan buku lama yang sudah tertimbun waktu berhamburan kembali tak hanya lewat toko-toko “resmi” seperti Amazon, melainkan lewat blog, akun-akun Facebook pribadi, Twitter, Instagram, dan forum-forum diskusi. Jejaring-jejaring digital di internet telah mempertemukan para penjual buku dengan kolektor, atau orang-orang yang membutuhkannya. Para penjual buku itu sendiri sebenarnya adalah kolektor juga, yang melihat peluang. Mereka memiliki persediaan buku lebih dari satu untuk setiap judul, lalu menjualnya. Namun, tentu saja, tak sedikit pula yang telah menjadikan jualan buku secara online sebagai sumber mata pencaharian utama, bukan sekedar sampingan atau iseng-iseng berhadiah pengisi waktu luang.

Berbagai kemungkinan itu berujung pada satu hal: bahwa daya hidup sebuah buku menjadi lebih panjang dari yang mungkin terjadi sebelumnya. Buku-buku bekas, yang mungkin pinggirannya sudah “gripis” atau sampulnya memudar, kini memiliki “ekor panjang” yang ajaib, yang telah memberinya nilai ekonomi lebih dari yang bisa diduga. Bahkan, berkat penjualan online, buku-buku lama itu kini memiliki nilai ekonomi yang kadang jauh lebih tinggi dibanding harga “asli”-nya ketika pertama kali diluncurkan dahulu. Buku-buku telah melampuai kemampuan fisiknya untuk bertahan, lahir kembali dalam sebuah pasar yang tak ada habisnya.

Toko Buku itu Bernama Facebook

Ariyanto (40) punya kesibukan baru yang cukup menyita waktu. Di sela rutinitasnya menjalankan tugas sebagai redaktur sebuah koran harian di Solo, kini ia harus wara-wiri ke gerai jasa pengiriman barang Wahana. Ia baru saja memulai bisnis baru: jualan buku dan majalah bekas via online. “Baru banget, masih tergolong yunior, baru mulai sekitar Lebaran kemarin,” ujarnya saat ditemui di Starbucks Solo Paragon beberapa waktu lalu. Walaupun belum lama terjun, namun ia sudah punya banyak pengalaman seru yang bisa diceritakan.

“Kemarin nemu buku rapot tahun 1970-an, aku posting, eh langsung ada yang beli,” tuturnya. Buku rapot yang dimaksudkannya adalah buku laporan nilai evaluasi anak sekolah. Dari situ, ia pun belajar memahami bisnis yang tengah dirambahnya itu. Bahwa tak hanya buku atau majalah, namun berbagai dokumen cetak, sejauh itu datang dari masa lalu, ternyata kini tengah diburu.

“Buku-buku Pram(oedya Ananta Toer) sih sudah bukan cerita baru lagi ya dalam hal ini. Yang mengherankan, buku atlas pun dilahap,” katanya seraya mengembuskan asap rokoknya. Solo baru saja diguyur hujan. Duduk di sisi luar, udara dingin sesekali terasa menyerbu. Lantai masih basah.

Ariyanto memulai bisnis itu nyaris tanpa modal. Ia tak perlu repot-repot membuat website canggih yang dilengkapi dengan berbagai fitur transaksi jual-beli. Ia juga tak membuat blog. Ia hanya memanfaatkan akun Facebook-nya, Ariyanto Mahardika, yang bahkan hanya terhubung dengan 650 orang. Memang bukan jumlah yang fantastis, tak sampai angka ribuan, namun sejak awal ia tahu bahwa bisnis yang tengah dirintisnya itu tak melulu mengandalkan jumlah teman.

“Kata kuncinya itu harus sabar,” ujarnya. Sabar untuk apa? “Untuk menemukan orang yang tepat!” sahutnya.

Aryanto hanya satu dari ratusan atau bahkan mungkin ribuan akun Facebook yang berjualan buku-buku lama. Mereka boleh dibilang merupakan generasi ketiga dari fenomena jualan buku online. Generasi pertama adalah website seperti kutukutubuku, inibuku, bukabuku, bukukita, bakulbuku, amartapura, homerianshop. Sedangkan generasi kedua adalah blog, sebut saja beberapa yang populer inibukubudi.wordpress, tsarindanbukulangka.blogspot, toko-bukubekas.blogspot.

Generasi ketiga yang berjualan di Facebook pun tak semuanya secara terang-terangan menggunakan akun yang bisa langsung dikenali sebagai pedagang buku. Seperti: Toko Buku Multatuli, Toko Buku Barokah, Kiosbukubuku Velodrom, Toko Buku Multatuli, Juragan Buku Pandean Lamper, Toko Buku Kafka, Penggiat Buku, Buku Merdeka, Parkiran Buku, Trisna Buku Tok II, Kios Buku Jadul, Jual-beli Buku Baru-bekas, Katalog Buku, Buku Bekas Layak Pakai, Kiosbukubuku, Jagad Jualan Buku, Lumah BookWarung, Buku Merdeka, Bangau Buku, Jual Buku Sastra, Toko Buku Sisyphus, Mbah Dimas Jual Buku.

Banyak di antara mereka, seperti Ariyanto, yang menggunakan namanya sendiri, sehingga bila belum berkenalan, orang tidak tahu bahwa akun tersebut jualan buku. Misalnya: Zakeus Singodrono Nugroho, Yohana Yasrin, Atha Rizq, Dodik Nugroho, Ribut Wijoto, Rien Milansi, Nurmahera, Budi Elang Semeru, Edmond Marcel. Atau, nama-nama lain seperti Lotus, Jejak Ratu Adil, Alaz Novel, Kitab Keabadian, Toko Lapangan Merah, Makaru Makara, Dilladoel Ventura.

Sudah lama Facebook menjadi tempat berjualan, dan itulah salah satu hal yang paling sering dikeluhkan oleh para pengguna jejaring tersebut. Namun, akun-akun penjual buku punya lingkaran sendiri yang guyup, tanpa ada yang merasa terganggu. Sebaliknya, mereka yang nge-add akun-akun penjual buku tersebut selalu menunggu-nunggu postingan terbaru berupa display buku-buku. Antara penjual dan pembeli (pelanggan) bahkan terjadi ikatan yang solid. Aryanto bercerita, ada salah satu pelanggannya dari Jakarta yang rutin meneleponnya, tak hanya untuk berbincang tentang buku dan arsip-arsip bersejarah, tapi juga ngobrol hal-hal lain.

Para pembeli yang loyal dan sudah menjadi pelanggan setia menghapali hari apa atau pada jam-jam berapa sebuah “lapak” –sebutan untuk akun penjual buku– menggelar dagangannya alias mem-posting penawaran buku. Akun-akun itu sendiri biasanya memasang status yang berisi pengumuman bahwa, misalnya, satu jam lagi mereka akan mem-posting buku. Tidak semua jualan buku bekas atau langka, memang. Ada juga akun yang kerap menawarkan buku baru yang masih bersegel dan sedang beredar di toko buku.

Tapi, yang paling diminati dan diburu memang buku-buku bekas yang sudah tidak ada di toko-toko buku. Sebuah buku langka yang di-posting tak jarang menjadi rebutan. Umumnya, akun-akun tersebut tidak berjualan dalam partai besar. Stok mereka terbatas, satu buku untuk satu judul. Menariknya lagi, sesama pelapak atau penjual buku juga kerap saling memesan.

“Para penjual buku di Facebook itu kebanyakan memang sekaligus kolektor. Mereka tak akan menjual buku yang disayanginya kalau tak punya dobelannya, istilahnya begitu,” kata Aryanto.

Selain fakta bahwa para penjual itu sekaligus kolektor, di antara mereka kebanyakan juga membuka kios buku di kotanya. Akun bernama Lapak Buku Tualang misalnya, memiliki “kios fisik” yang bisa dikujungi di Dago Atas, Bandung. Para pemilik akun yang berasal dari Yogyakarta kebanyakan juga pedagang buku “beneran” yang rajin membuka lapak di berbagai acara pameran buku. Sebagian dari mereka adalah mantan pengelola penerbitan dan penulis buku. Akun bernama Toko Buku Pantura misalnya, adalah Afhtonul Afif penulis buku ‘Identitas Tionghoa Muslim Indonesia, Pergulatan Mencari Jati Diri’ (Penerbit Kepik, Depok, 2012).

Selain di Bandung dan Jogja, akun-akun jualan buku di Facebook terkonsentrasi di kota-kota yang memiliki kampus seperti Surabaya, Malang, Solo, Jakarta, Semarang, Medan dan Aceh. Tapi, ada juga akun yang beralamat di kota kecil Batang, Jawa Tengah. Beberapa akun tampaknya sangat dihormati dan disegani karena telah memiliki semacam “brand” yang kuat, seperti Syech Prang (Aceh), Mijilnya Gieb (Jakarta), Andi Anang Firmansyah (Jakarta), Ikhsan Buku (Bogor), Kujang Press (Yogyakarta) dan Rio Jual Bukulamakuno (Solo).

Sedangkan para pembeli datang dari berbagai kota di seluruh penjuru Indonesia, bahkan dari luar negeri. Selain tentu saja para kolektor dan pecinta buku secara umum, mereka biasanya dari kalangan dosen, peneliti, sejarawan, wartawan, aktivis dan mahasiswa. Ariyanto berkisah, ia memiliki pelanggan yang unik, seorang juragan batako yang merupakan kolektor garis keras buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Tak hanya dari Jakarta dan Solo sendiri, pelanggan Ariyanto kini juga datang dari Australia dan Malaysia. Itu terjadi setelah ia memperluas jangkauan buku-bukunya dengan membuka “lapak” di situs jualan online besar OLX.com. Namun, “rumah” yang utama tetaplah Facebook.

Lantas, bagaimana mekanisme jual-beli di Facebook? Sangat sederhana! Peminat tinggal membubuhkan “pesan” di kolom komentar di bawah foto buku yang di-posting. Pemilik akun akan segera merespons. Selanjutnya tukar-menukar nomer rekening dengan alamat pengiriman buku. Setelah uang ditransfer dan dikabarkan, penjual akan segera mengirimkan buku yang dipesan. Mudah, cepat, praktis! Silakan mencoba!

Membajak Pram, Membangkitkan Kembali Aidit

“Kukira dalam 10 tahun terakhir banyak buku langka yang telah meroket harganya. Jika hendak membeli buku aku mungkin akan mencari Salman Rushdie atau Jack London atau Booth Tarkington” ~ John Charles Gilkey, pencuri buku langka di Amerika dalam buku “The Man Who Loved Books Too Much” (terjemahan penerbit Alvabet, Jakarta, cetakan 1 April 2010).

Anak muda itu mengambil sebuah buku dari tumpukan di sebuah kios di Pusat Buku dan Majalah Bekas Blok M Square, Jakarta Selatan. Buku bersampul lukisan wajah bertopi Pramoedya Ananta Toer itu menarik perhatiannya. “Ini berapa, Mas?” tanyanya ke penjual. Si penjual, pria yang berusia sepantaran, mengambil alih buku itu dari tangan calon pembelinya, dan menimbang-nimbang. Agak lama ia mengamati setiap sudut buku itu, sebelum akhirnya menyebutkan angka, “Tujupuluh ribu!”

Calon pembeli itu kaget. “Mahal amat!” protesnya spontan, sungguh tak menyangka dengan harga yang disebutkan. “Buku-buku Pramoedya memang mahal, Mas!” balas penjaga kios.

Calon pembeli itu tertawa kecil. Buku yang ada di tangannya itu sebenarnya bukan “buku Pramoedya”, dalam arti buku atau novel karya sang penulis legendaris itu. Melainkan, sebuah pembahasan tentang karya-karya Pram, yang diangkat dari skrispi sarjana Eka Kurniawan yang kemudian diterbitkan dengan judul “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis”. Awalnya, buku itu diterbitkan oleh Jendela, Yogyakarta. Edisi yang tengah diperdebatkan harganya itu adalah versi terbitan Gramedia Pustaka Utama yang belakangan mengambil alih naskah itu setelah Penerbit Jendela tutup.

Kejadian di sebuah kios buku pada suatu sore itu hanya sebuah gambaran kecil betapa nama tertentu menjadi bintang dalam bursa buku bekas. Pramoedya Ananta Toer sudah tidak perlu dibahas panjang lebar. Namanya harum di urutan pertama tanpa perdebatan. Permintaan terhadap buku-buku karya Pram, baik novel maupun non-fiksi memang tinggi. Dan, persediaan barang di pasar terbilang langka. Hal itu memicu munculnya produk bajakan di pasaran. Di bursa buku bekas yang terletak di lantai bawah tanah Blok M Square tersebut, buku bajakan Pram menghiasi hampir setiap lapak dan kios. Tak hanya tetralogi yang terkenal itu, tapi karya-karya lain yang “kurang populer” pun dibajak. Sebut saja Sang Pemula, Arok Dedes hingga Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Belakangan, novel Arus Balik yang merupakan salah satu masterpiece Pramoedya yang paling diburu kolektor dan pecinta buku juga beredar bajakannya, dengan cetakan yang terbilang bagus, dalam kemasan hardcover yang gagah.

Buku-buku bajakan itu diperhalus dengan istilah POD (print on demand) atau cetak digital. Hal itu, konon, untuk menyiasati kelangkaan barang yang memang sudah tak bisa diatasi sementara permintaan pasar sangat tinggi. Buku-buku pram lainnya yang menjadi primadona “POD” adalah “Cerita dari Jakarta” dan “Cerita dari Blora”. Belakangan, tren “cetak digital” atas nama permintaan pasar itu merambah juga ke buku-buku lain. Kalau Anda ketemu karya-karya terjemahan Albert Camus ataupun Maxim Gorky keluaran penerbit-penerbit Jogja era 90-an, telitilah dengan detail, kemungkinan sangat besar itu versi “cetak ulang digital” alias bajakan dengan kualitas yang bagus. Buku sejarah karya Takashi Shiraishi “Zaman Bergerak” terjemahan penerbit Grafiti juga masuk dalam barisan ini; waspadalah.

Dan, jangan salah, buku-buku KW tersebut juga dijual dengan harga yang relatif mahal. Bajakan Tetralogi Pulau Buru mungkin masih bisa dibawa pulang dengan harga Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per buku. Tapi, untuk Cerita dari Blora atau Cerita dari Jakarta minimal Rp 60 ribu.

Namun, di sela-sela produk bajakan tersebut, tak menutup kemungkinan pembeli bisa menemukan buku yang asli. Bila itu terjadi, jangan kaget, harganya pasti dibandrol tinggi sekali. Buku “Percikan Revolusi Subuh” yang bersampul hijau-angker itu pernah muncul dengan label harga Rp 300 ribu! Di beberapa akun jualan buku di Facebook, novel “Arok-Dedes” cetakan pertama tahun 1999 bisa laku minimal Rp 400 ribu. Keluarga Gerilya cetakan 1960-an ditawarkan dengan harga Rp 550 ribu dan langsung dipesan. Karya Pram lainnya, “Tempoe Doeloe” terbitan Hasta Mitra, 1982 juga memiliki pasaran harga yang sama, di kisaran Rp 500-an ribu. Sedangkan dua jilid “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” ditawarkan seharga Rp 700 ribu.

Beda di pasar offline, beda pula situasinya di pasar online. Di lapak-lapak jualan buku di Facebook, produk bajakan nyaris tak punya tempat. Para pedagang maupun pembeli, yang pada dasarnya adalah sama-sama pecinta dan kolektor buku, sangat menghargai karya asli. Namun, memang ada sedikit pengecualian. Ada satu nama selain Pramoedya yang juga menjadi primadona lapak buku bekas, namun cukup bisa dimaklumi jika karya-karyanya beredar dalam versi bajakan. Nama tersebut adalah DN Aidit.

Selama ini, masyarakat umum mungkin hanya mengenal nama tersebut dalam kaitan dengan kontroversi G30S. Padahal, sebagai ketua partai dan politikus, Aidit adalah seorang pemikir dan penulis yang produktif. Nah, buku-buku hasil buah pikiran Aidit tersebut kini menjadi buruan para kolektor dan pecinta buku. Dikarenakan buku-buku Aidit jauh lebih langka dibandingkan dengan karya-karya Pram, maka pembajakan terhadapnya seolah bisa diterima.

Hal itu terbukti ketika sebuah akun pedagang buku bernama Bukuku Lawas yang beralamat di Solo mem-posting “buku” karya Aidit berjudul “Menempuh Djalan Rakyat” edisi tahun 1952. Ia memberi keterangan tambahan bahwa “buku” tersebut hanyalah versi “repro scan” tapi “persis aslinya”. Cetakan supertipis yang berisi pidato Aidit tersebut ditawarkan dengan harga Rp 55 ribu per eksemplar, dan ia memiliki stok 22. Apa yang terjadi? Dalam waktu kurang dari seminggu buku tersebut sudah ludes dipesan.

Kendati demikian, segala kemungkinan bisa terjadi di jagad penjualan buku online, dan kemunculan versi cetakan asli karya Aidit pun bukan “hil yang mustahal”. Pada suatu kali sebuah akun menjual “Pilihan Tulisan” (Jilid 1, 2 dan 3) karya Aidit dengan tambahan keterangan “bukan fotocopy”. Buku-buku itu dicetak pada tahun 1959, 1960 dan 1965 dalam kemasan hardcover oleh Jajasan Pembaruan, Jakarta. Total setebal 1500 halaman! Berapa harganya? Untuk buku-buku tertentu yang tergolong sangat langka, pemilik akun biasanya tak mencantumkan harga. Peminat dipersilakan mengontaknya dengan mengirim pesan pribadi atau SMS.

Belakangan, buku Aidit yang berjudul “Menggugat Peristiwa Madiun” juga muncul di lapak Facebook, dan langsung diserbu peminat yang menanyakan harganya. Mengingat langkanya edisi asli buku ini, maka urusan harga dibicarakan secara bisik-bisik di luar kolom komentar.

Dari Gerilya Hingga Lelang Buku: Para Penjaga Ilmu di Era ‘Cyberloak’

Para pelanggan yang dia ingat dengan baik adalah individu aneh, para eksentrik berpakaian lusuh yang menghabiskan uangnya atas buku-buku dan katalog daripada baju dan makanan ~ “Libri di Luca”, Novel tentang Perkumpulan Rahasia Pecinta Buku, Mikkel Birkegaard (terjemahan Serambi, Jakarta, cetakan 1, Novemver 2009).
“Jooosss…!” Rony Rudal terpekik girang. Lelang buku yang dibukannya berakhir dengan happy ending. Tjerita dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer edisi cetakan 1964 yang dilelangnya ditutup dengan angka yang memuaskan: Rp 520 ribu.

Rony Rudal? Lelang buku? Jangan tertawa dulu. Rony Rudal itu nama sebuah akun Facebook yang beralamat di Malang, salah satu dari ribuan akun jualan buku bekas yang populer di jagad maya. Dan, lelang buku adalah salah satu modus yang biasa ditawarkan oleh akun penjual buku untuk melepas koleksi yang dinilai langka ke pasaran.

Rony menggelar acara lelang buku tersebut di akun Facebook-nya. Lelang dibuka pada Senin, 29 September pukul 19.45 WIB, dan berakhir keesokan lusanya, Rabu, 1 Oktober pukul 21.00 WIB. “Diawali dengan angka 150, berlaku kelipatan 10. Lewat dari pukul 21.00 penawaran tidak berlaku lagi,” tulisnya mewanti-wanti.

Dalam bulan yang sama, lelang juga digelar oleh akun bernama Mijilnya Gieb yang beralamat di Jakarta. Pada 25 September ia melelang buku “Hoakiau di Indonesia”, lagi-lagi karya Pramoedya. Bid dimulai dari Rp 20 ribu dengan minimal kenaikan selanjutnya Rp 10 ribu. Ketika ditutup pada 27 September pukul 22.00 WIB, buku terbitan Garba Budaya cetakan kedua tahun 1998 tersebut terjual dengan harga Rp 330 ribu.

Menjual buku langka di Facebook memang gampang-gampang susah, demikian pula berlaku hal yang sama bagi peminat yang ingin mendapatkan sebuah buku tertentu. Di kalangan para pecinta buku ada ungkapan, buku ibarat jodoh, kalau belum takdirnya tak akan bertemu. Oleh karenanya, berbagai cara dan pendekatan dilakukan baik oleh para penjual maupun (calon) pembeli terhadap sebuah buku.

Di forum-forum komunitas online seperti Kaskus, selain terjadi diskusi dan penawaran berbagai macam barang, bukan hal baru ketika ada orang yang mengumumkan tengah mencari sebuah buku. “Permisi agan-agan, ane lagi mencari buku lama judulnya “Kekalahan Manusia Petani: Dimensi Manusia dalam Pembangunan Pertanian” karangan Greg Soetomo…kalo ada yang punya di rumah atau mau dijual ane mau beli gan…SMS aja ke no ane ya gan,” demikian pernah terbaca dari seorang user yang meninggalkan nomer teleponnya.

Seorang pecinta buku dengan Facebook Rama Prambudhi Dikimara bahkan membuat album khusus di akunnya yang diberi nama Buku-Buku Yang Saya Cari. Di album itu, direktur Lembaga Kajian Pendidikan, Kebudayaan dan Politik Dewantara Institute tersebut memajang foto-foto buku yang tengah diburunya, dan berharap jika ada orang yang menjualnya mau menghubunginya. Tampak di album tersebut buku-buku langka bertema seputar sejarah komunisme di Indonesia, seperti “PKI Korban Perang Dingin (Sejarah Peristiwa Madiun 1948)”. “Sampulnya merah putih dengan gambar palu arit dan nama-nama penulis Aidit dan Musso,” tulisnya menambahkan keterangan untuk memperjelas.

Lucunya, postingan di album itu justru segera menarik perhatian orang yang menyatakan berminat untuk memesannya. Hal itu menunjukkan bahwa minat terhadap buku langka di pasar Facebook sungguh tinggi. Rama punya istilah untuk proses perburuan buku di Facebook tersebut, yakni gerilya buku. Dan, dengan sendirinya dia pun menyebut dirinya sebagai gerilyawan buku. Hingga kini ia masih terus bergerilya untuk mencari buku-buku yang ingin dimilikinya.

Istilah gerilyawan buku juga digunakan oleh Mijilnya Gieb, ketika menggambarkan dunia perburuan dan jual-beli buku bekas. “Peredaran buku di Jakarta itu sudah dimulai saat dini hari. Saat kita terlelap, para gerilyawan buku sudah berebutan jatah buku bagus di sebuah pojok lusuh utara Jakarta,” ujarnya. Pojok lusuh utara Jakarta yang dimaksudkannya adalah Jatinegara.

Dari “pojok lusuh” itulah harta karun bernama buku bekas, buku langka, dokumen-dokumen dan arsip bersejarah, naskah-naskah tua berdebu digali, diseleksi, dipilah-pilah untuk kemudian dipajang di dinding Facebook, ditawarkan dengan harga tertentu, atau dilelang, dan diserbu serta jadi rebutan banyak peminat. Mereka, baik para penjual maupun pembeli –yang pada dasarnya adalah sama-sama gerilyawan buku– adalah para penjaga ilmu pengetahuan di era cyberloak, era pasar loak maya, meminjam istilah Putut Widjanarko dalam buku “Elegi Gutenberg: Memposisikan Buku di Era Cyberspace” (Mizan, Bandung, cetakan pertama, Mei 2000). Dalam istilah Rama, mereka adalah “manusia-manusia aneh di zaman yang serba instan”.

Apapun istilahnya, para pecinta dan kolektor buku, maupun siapa saja yang sewaktu-waktu membutuhkan rujukan untuk keperluan penelitian dan hal-hal akademis lainnya, patut berterima kasih kepada orang-orang seperti Mijilnya Gieb, Rony Rudal dan akun-akun penjual buku di Facebook yang jumlahnya barangkali ribuan. Jerih payah mereka telah memudahkan distribusi pengetahuan di masyarakat. Walaupun itu mungkin memang menjadi mata pencaharian, atau setidaknya apa yang mereka lakukan itu memiliki nilai ekonomi bagi dirinya, namun dampaknya jauh lebih besar daripada itu.

Selain “pojok lusuh” yang digambarkan Mijil, menurut pemilik akun jualan di Facebook asal Solo, Ariyanto Mahardika, salah satu sumber penggalian “harta karun” buku (bekas) adalah pameran-pameran berskala besar yang biasanya penuh obral. Di Jakarta saja, dalam setahun ada empat kali pameran buku, begitu pun di Bandung dan kota-kota besar lainnya seperti Yogyakarta bahkan Solo. Pameran buku telah menjadi agenda rutin di berbagai kota, dan para pegadang buku akan berburu buku di arena itu untuk dijual kembali. Selain di berbagai pameran, mereka juga menyambangi pasar-pasar buku bekas seperti Palasari dan Jalan Kahuripan di Bandung, Shopping Center di Yogyakarta atau Alun-alun Utara di Solo.

Gudang-gudang penerbit pun tak luput menjadi incaran para pedagang buku tersebut. Pendek kata, itu artinya mereka telah menjalankan peran dalam satu rantai panjang distribusi buku sebelum akhirnya sampai ke pengguna. Perjalanan buku memang jadi lebih panjang, tapi bayangkan, tidak semua orang berkesempatan pergi ke pameran atau apalagi menghabiskan waktu mengulik pasar-pasar loak. Bahkan di masa sekarang, ke toko buku pun menjadi kemewahn bagi orang sibuk. Maka pilihannya adalah penjualan online. Hal itu terbukti dari lakunya pula buku-buku baru yang sebenarnya masih beredar dan mudah dijumpai di toko buku. Para pedagang buku di Facebook, ya, para gerilyawan buku itu, telah menjadi jembatan antara penerbit, toko buku, dan eksibitor-eksibitor buku lainnya dengan masyarakat modern yang sebagian besar waktunya habis di depan internet.

Harga Selangit, Ini Dia Buku Seksi Primadona Lapak

Sejarawan JJ Rizal terkaget-kaget tak percaya. “Tujuh juta, Mas? Serius, nggak lagi mimpi?” tanyanya dengan nada setengah sinis. Reaksi spontan itu muncul ketika ia ditawari oleh seseorang –via Twitter– dua jilid buku “Di Bawah Bendera Revolusi”-nya Bung Karno.

Kekagetan JJ Rizal belum seberapa dibandingkan dengan kemasygulan komunitas pecinta buku yang ada di Facebook ketika membahas sebuah postingan seorang user di Kaskus yang menawarkan buku Pramoedya Anantas Toer dengan harga superfantastis. Buku yang ditawarkan adalah “Arus Balik” cetakan ketiga tahun 1995, dengan bandrol harga…Rp 30 juta!

Bagi kolektor dan pecinta buku yang sudah “kaffah”, penawaran harga itu menimbulkan tawa. Mengingat, masih sangat banyak karya Pram yang jauh lebih langka dibandingkan dengan yang ditawarkan itu. Memang, buku yang dijual itu bertanda tangan Pram. Namun, hal itu justru memicu kontroversi lain: banyak yang meragukan apakah itu tanda tangan “basah” atau hanya cetakan.

Buku-buku Soekarno dan Pramoedya adalah “makanan sehari-hari” para pelaku jual-beli buku tua yang berkumpul di Facebook. Dengan kata lain, jangan main-main dengan klaim “buku langka” pada mereka. Sebab, langka itu pada akhirnya akan menjadi relatif. Di lapak-lapak online yang ada di Facebook, buku Pram yang dinilai paling langka sekalipun bisa sewaktu-waktu muncul. Harga tak lagi menjadi isu, sebab mereka tahu –dan secara tak langsung mereka sendiri yang menyepakati– angka pasarannya.

Di Facebook, menjual buku dengan harga Rp 700 ribu bisa dilakukan dengan sangat mudah, secepat mengedipkan mata. Itu terjadi ketika akun bernama Toko Buku Multatuli mem-posting buku “AD-ART Konstitusi PKI” yang dikeluarkan oleh Comite Central Partai Komunis Indonesia tahun 1964. Buku setebal hanya 79 halaman itu terjual hanya dalam 2 menit setelah di-posting. Segala buku atau dokumen yang berbau “kiri”, bersentuhan dengan sejarah PKI, menempati posisi tertinggi dalam “kasta” pasar buku bekas.

Buku “Pokok-pokok Adjaran Tan Malaka” yang dikeluarkan DPP Partai Murba tahun 1960 yang hanya setebal 66 halaman, laku dijual Rp 325 ribu. Buku tentang tokoh yang sama, berjudul “Peringatan Sewindu Hilangnya Tan Malaka” yang berangka tahun 1957 tak menunggu lama untuk “di-book” oleh calon pembeli walau dibadrol dengan harga Rp 350 ribu.

Tak hanya buku-buku “kiri” dari masa “jadul”, terbitan masa kini pun memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Buku “Menyingkap Kabut Halim 1965” misalnya. Buku yang disusun oleh Aristides Katoppo dan timnya ini terbit pertama kali tahun 1999. Tapi, kini sudah punya nilai jual-kembali yang fantastis. Di blog tsarindanbukulangka.blogspot misalnya, buku ini dibandrol Rp 150 ribu. Di sebuah lapak di situs jualo.com bahkan lebih gila lagi: Rp 200 ribu. Namun, di lapak-lapak Facebook, masih ada akun yang menawarkannya dengan harga bersahabat, di kisaran Rp 60 ribuan.

Buku-buku terjemahan karya-karya Karl Marx, atau berbagai pembahasan tentang pemikirannya, juga punya nilai jual yang tinggi. Terjemahan karya-karya filsuf kontemporer seperti Nietzsche dan Michel Foucault setiap kali dilempar di dinding Facebook bisa dipastikan jadi rebutan. Buku-buku ini umumnya merupakan hasil kerjaan penerbit-penerbit Yogyakarta yang menjamur sejak akhir dekade 1990 hingga pertengahan dasawarsa 2000. Dulu, barangkali buku-buku itu dicerca dan dikecam dengan aneka tudingan, seperti “terjemahan yang buruk” dan kualitas cetakan yang asal-asalan. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, sebuah buku tak lagi (semata-mata) dinilai berdasarkan isinya, melainkan sebagai benda fisik hasil kreasi seni. Perwajahan sampul juga jadi pertimbangan utama dalam melihat buku lama.

Maraknya akun-akun penjualan buku di Facebook ikut mendorong munculnya cara pandang baru terhadap buku bekas. “Nggak tahu ya, kalau sudah tampil di Facebook itu buku jadi mempesona, seolah-olah jadi bagus banget. Nilai ilusif ini menjadi semakin tinggi jika buku itu sudah ada yang nge-book, atau di kolom komentar tampak bahwa buku itu jadi rebutan,” tutur pelapak buku di Facebook asal Solo, Ariyanto Mahardika.

Ariyanto benar. Untuk membuktikan pernyataannya, ini ada contoh kecil kejadian yang menarik. Pada 10 April akun bernama Trisna Buku Tok II (Surabaya) menawarkan 4 stok novel “Kebangkitan” karya Leo Tolstoy terjemahan penerbit KPG, Jakarta. Dalam sekejap buku tersebut langsung habis dipesan pada hari itu juga. Tapi, komentar yang masuk masih terus mengalir bahkan hingga September kemarin. Masih banyak yang berminat dan menanyakan ketersediaan buku tersebut.

Di luar buku-buku Soekarno, “kiri”, dan Pram, buku-buku dengan tema-tema yang antik, judul-judul eksotik dan penulisnya memiliki ketokohan atau popularitas tertentu, merupakan primadona-primadona lapak online. Para pelapak (pemilik akun penjual buku di Facebook) dan pembeli punya istilah untuk buku-buku semacam itu sebagai buku yang seksi. Buku-buku ini jelas sudah tidak beredar di toko, tidak mudah dijumpai, terbit di era 80-an hingga 90-an dan awal dekade 2000. Salah satu contohnya buku berjudul “Seni Lukis, Kesenian dan Seniman” karya S Sudjojono. Buku setebal 108 halaman terbitan Aksara Indonesia, Yogyakarta, Juli 2000 tersebut ketika muncul lagi di lapak-lapak online hari-hari ini, bisa laku dijual seharga Rp 65 ribu.

Buku-buku sejarah terjemahan Pustaka Jaya era 80-an dengan sampul hardcover berdesain minimalis seperti “Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang” karya Harry J Benda atau “Abangan Santri dan Priyayi” karya Clifford Geetz kini telah menjadi karya klasik yang langka, mahal dan diburu kolektor. Dari penerbit yang sama termasuk juga karya Sartono Kartodirdjo “Pemberontakan Petani Banten 1888” yang sudah sangat langka. Karya-karya Kuntowijoyo, “Radikalisasi Petani” (Bentang, 1993) dan “Madura: Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris 1850-1940” (Mata Bangsa, 2002) juga harus disebut.

Ada setidaknya dua buku lagi yang tak boleh ketinggalan dalam pembicaraan ini, sebagai primadona yang hingga sekarang masih terus diburu para kolektor dan pecinta buku di lapak-lapak Facebook: “Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946” karya Benedict Anderson (Sinar Harapan, 1988) dan “The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966” karya Robert Cribb (Mata Bangsa, 2003). Selamat berburu, dan siapkan kocek yang tebal jika sewaktu-waktu menemukannya!

Buku: Pamer, Jodoh, Nostalgia

Adhe menata buku-bukunya di lantai. Semuanya buku karya Seno Gumira Ajidarma (SGA). Ia lalu memotretnya dan mengunggahnya di Facebook dengan hashtag ‘Pamer Arsip’, dan caption sebagai berikut: “Aku pertama kali baca tulisan SGA di Jurnal Prisma tahun jebot, waktu nulis soal film Rocky IV. Lalu baca karya-karya fiksinya yang lain, juga non fiksinya soal komik dan film. Sembah sujud untuk doi. Produktif, apik. Ini buku-buku karya dia yang diterbitkan prabrikan Jogja”.

Di foto itu tampak buku “Iblis Tak Pernah Mati” terbitan Galang Press dalam dua versi sampul yang berbeda. Lalu, ada novel “Jazz Parfum dan Insiden” yang kini banyak diburu orang lagi karena sudah langka. Juga, ada buku non fiksi yang sempat jadi fenomenal, “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara”. Dan, tentu tak ketinggalan, kumpulan cerpen yang paling hits, “Saksi Mata”.

Tapi, ada yang dirasa Adhe masih kurang. “Saya masih nyari ‘Jakarta 2039’,” katanya. Yang dia maksud adalah buku komik yang diangkat dari salah satu cerpen Seno dengan judul sama. Posting-an tersebut segera mengundang banyak komentar. Dalam sekejap hingga berhari-hari kemudian terjadilah obrolan di kolom komentar. Ada yang menyambutnya dengan ikutan #pamerarsip.

“Kebetulan pagi ini ada 3 buku SGA yang tergeletak tak jauh dari bantal, tak apalah saya sertakan buat ikut pamerarsip,” tulis Lapak Buku Tualang, sebuah akun jualan buku yang beralamat di Bandung. Tiga buku yang dipamerkan itu adalah Negeri Kabut, Wisanggeni Sang Buron dan Dunia Sukab.

Lalu, pemilik akun yang sama melanjutkan, “Jadi ingat zaman dulu pas di satu hari Minggu di pasar kaget Gasibu menemukan Negeri Kabut terdampar di emperen dengan harga 8000 perak itu pun masih saya tawar hahaha…ah buku memang jodoh-jodohan.”

Soal buku adalah jodoh, fotografer Yudhi Soerjoatmodjo pernah punya pengalaman yang bikin hati masgul. Ia pusing mencari buku “Jejak Pangan: Sejarah Silang Budaya dan Masa Depan” karya Andreas Maryoto. Ia pun memansang pengumuman di wall Facebok-nya dengan menge-tag hampir 40 akun penjual buku yang ada di jejaringnya. Satu per satu komentar pun mulai bermunculan. Hampir semua mengatakan tidak punya. Sampai 5 hari kemudian Ada komen yang menunjukkan buku tersebut. Yudhi pun girang. Ia siap membayar berapapun. Tapi, ternyata orang itu tak bermaksud menjual bukunya. “Ini koleksi pribadi,” katanya. Rupanya, ia pun hanya mau pamer.

Pamer arsip dan bertukar kenangan tentang buku hanyalah satu bentuk romantisme antarpecinta buku yang bisa terjadi di Facebook. Tentu tak hanya itu. Seiring dengan saling pamer koleksi, dan saling bikin iri, terjadi juga obrolan ringan tentang isi buku-buku.

Aktivis industri buku indie di Yogyakarta, Irwan Bajang pun muncul di forum tersebut dan nimbrung. “SGA ini keren, kalau nggak kenal dia kayaknya saya nggak tahu mana tulisan bagus dan tidak. Jika hanya boleh baca satu buku saya akan pilih salah satu buku SGA,” ujar pendiri Indie Book Corner itu.

Lalu terjadilah diskusi tentang cerpen Matinya Seorang Penari Telanjang, dan apa buku kumpulan cerpen Seno yang terbaik. Menurut Irwan, Saksi Mata. “Tapi, Seno sendiri menganggap kumcer terbaik dia Negeri Kabut. Ya, sebelas-duabelaslah,” katanya.

Obrol-obrol ringan yang menggelitik itu memancing Lapak Buku Tualang untuk kembali menyahut, “Buku kumpulan cerpen Atas Nama Malam memperkenalkan saya kepada SGA sampai akhirnya tersesat dalam dunia kibul beliau sampai sekarang,” katanya.

“Nah, gini ini lho buku tuh, diobrolin isinya bukan cuma pada rebutan ngumpulin doang hehehe…” seloroh Adhe sang pemicu diskusi.

Dengan pamer koleksi buku-buku SGA terbitan “prabrikan Jogja” tersebut, Adhe sebenarnya sedang bernostalgia. Pada awal dekade 2000 ia mengelola penerbit buku yang diberi nama Jendela. Bersama-sama Bentang Pustaka, Galang Press, Aksara Indonesia, dan masih banyak lagi ia ikut mewarnai jagad perbukuan Indonesia dengan karya-karya alternatif yang sangat khas. Pada 2007 Jendela tutup, bersamaan dengan gelombang runtuhnya penerbit-penerbit Jogja yang “salah urus”.

Kini, Adhe masih tetap berkiprah di perbukuan. Penulis buku “Declare: Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007)” itu terus bergerilya. Ia membuat akun Kujang Press dan berjualan buku di Facebook. Ia juga punya rencana untuk menerbitkan kembali sejumlah buku terbitan Jendela. Yang sudah dikerjakannya adalah “Orang-orang Terbungkam” karya Albert Camus dan “Hikayat Kadiroen” karya Semaoen. Ia sudah menyebar pengumuman di Facebook, dan mendapat respons yang positif.

Langkah Adhe itu mengundang novelis Dewi Kharisma Michellia untuk melemparkan tantangan, bagaimana kalau sekalian menerbitkan kembali karya-karya Seno Gumira. “Mungkin Mas Adhe mau menggaet SGA ke ranah penerbitan Jogja lagi daripada buku-bukunya semakin menjadi tua di Jakarta,” ujar penulis novel Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya itu.

“Menjadi tua di Jakarta” adalah frase yang kerap disebut Seno dalam tulisan-tulisan kolomnya tentang kehidupan metropolitan. Dewi menggunakannya barangkali untuk menyindir bahwa buku-buku Seno yang diterbitkan oleh “pabrikan Jakarta” menyedihkan dilihat dari segi seni perbukuan. Apapun itu, bagi Adhe, tantangan tersebut bisa-bisa saja diwujudkan. Tapi, jika memang tak memungkinkan lagi, Irwan Bajang punya kabar yang menyejukkan.

“Saya sempat ngobrol dengan SGA di IKJ beberapa hari sebelum dia nolak Bakrie Award. Dia bilang, saya itu sudah tua belum nulis banyak, masih banyak yang harus saya tulis. Saya malas urusi penerbitan, royalti dan lain-lain, kalian fotokopi saja. Fotokopian juga sudah bagus kok….” kisah Irwan menirukan sastrawan pujaannya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan