-->

Peristiwa Toggle

Kisah Mereka yang Keras Kepala di Jalan Literasi

Harian Media Indonesia Minggu edisi 12 Oktober 2014 menurunkan tiga artikel ihwal mereka yang berjuang keras di jalan literasi yang sunyi untuk meniti kesejahteraan. Dunia literasi adalah dunia sosial yang mesti dikerjakan dengan bakti-hidup sepenuh-penuhnya. Mereka meyakinkan kita bahwa literasi semestinya memiliki impak ekonomi. Kisah Kiswanti dari Taman Baca Warabal (Parung Bogor), Gol A Gong dari Rumah Dunia (Banten), dan Ratna Suminar-Rudiat “Kang Yayat” dari TBM di Pasirhuri Cimaung, Bandung.

——

Kiswanti, Kere Munggah Bale

Semangatnya terbukti liat. Kemiskinan dan hinaan tidak membuat patah semangat. Dia justru ingin berbagi ilmu agar kepahitan hidupnya tidak berulang pada orang lain.

“Jamu-jamu… buku-buku…!Siapa yang mau pintar bacabuku, yang mau sehat mi num jamu. Enggak rugi beli jamu karena uangnya buat beli buku dan bukunya untuk Anda.“ Demikian slogan Kiswanti tiap kali berkeliling menjual jamu sekitar 1994-1997.

Ketika ia berkeliling menggendong jamu, keranjangnya tidak hanya berisi botol-botol, tetapi juga buku. Ketika mampu membeli sepeda, keranjang depan sepeda penuh buku, keranjang belakang berisi botol jamu. Pahitnya pengalaman hidup akibat kemiskinan mendorong Kiswanti untuk berbagi buku dan mendorong mengembangkan minat baca di kalangan masyarakat.Dia ingin orang menyadari pentingnya membaca buku dan tentu saja melek huruf agar bisa hidup dengan lebih layak.

“Membaca enggak cuma nambah wawasan, tapi bisa diaplikasikan dalam kehidupan mereka dan itu bisa meningkatkan taraf hidup juga, contohnya saya. Saya ini enggak sekolah, lo,“ cetus Kiswanti sembari senyum.

Kini, Kiswanti tidak lagi berjualan jamu. Di halaman rumah ibu dua anak di Jalan Kamboja No 71, Parung, Bogor, itu berdiri megah Taman Baca Warabal yang ia dirikan dengan bantuan mitra dan donasi orang-orang yang peduli.

Tak hanya ada perpustakaan, kegiatan di sana juga meliputi taman baca Quran, pendidikan anak usia dini, tempat kursus komputer, dan berbagai pelatihan kerajinan tangan dan memasak. Penduduk sekitar juga diajak menerapkan keterampilan yang didapat dari buku dan menjadikannya sumber penghasilan baru.Kenyang hinaanApa yang sekarang dibangun Kiswanti dan mitranya butuh perjuangan panjang. Itu tidak bisa dilepaskan dari tempaan pengalaman pahit masa kecil.Namun, yang terpenting, Kisnawati mampu melewati, memutar kepahitan dengan pikiran positif.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Kisnawati kenyang hinaan karena kemiskinan yang melekat pada keluarganya. Kere munggah bale (miskin tapi naik derajat)! Demikian temantemannya mengejek. Ia tidak punya teman karena pada zamannya, orang miskin dianggap tidak pantas sekolah.“Dulu miskin itu hina banget enggak kayak sekarang, miskin malah jadi kebanggaan. Orang mengaku miskin biar dapat bantuan langsung,“ kata dia. Hinaan tidak hanya datang dari temanteman, tapi juga pernah datang dari guru.Saat seharusnya naik ke kelas 2 SD, Kisnawati dibuat tidak naik kelas karena tidak pernah membayar SPP. ““Kamu enggak naik kelas. Walaupun kamu pintar, kamu enggak pernah bayar SPP. Sudah miskin tuh miskin saja enggak usah mimpi!“ kenang Kiswanti.

Pedih memang, tapi pengalaman itu tidak membuatnya patah semangat. “Justru saya berterima kasih ke beliau karena sikapnya itu memecut saya. Kalau saya dininabobokan saat itu, barangkali saya jadi tidak punya semangat,“ ujarnya.

Tiga bulan Kiswanti mengulang kelas 1 SD, tetapi akhirnya diperbolehkan naik kelas dengan pembebasan biaya SPP.

Lulus SD, Kiswanti yang terkenal pandai tidak mampu melanjutkan sekolah. Guru-guru menyayangkan, tetapi apa daya ekonomi kedua orangtuanya tidak memungkinkan. Ayahnya yang tukang becak minta maaf dan berjanji tetap memasok bacaan untuk anaknya walau hanya mampu beli buku bekas.

Perjalanan hidup sempat membawa Kisnawati bekerja sebagai buruh kupas kacang tanah. Sebagian penghasilan dia sisihkan untuk membeli buku.Perempuan yang kini memiliki dua buah hati itu juga pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta, di rumah keluarga asing. Ketika itu, majikannya menyadari kecintaannya pada buku. Tiap akhir bulan Kisnawati dibawa ke Kawasan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, untuk membeli beberapa buku.

Perjalanan nasib pula yang membuat Kiswanti memilih profesi sebagai tukang jamu, mengikuti jejak sang ibu, sampai akhirnya dia menemukan mitra dan mulai merintis taman bacaan yang kini terus berkembang.

Kiswanti tidak melupakan masa lalu. Masa lalu dia jadikan pijakan dengan berpikir positif untuk mencapai apa yang dia inginkan, menularkan minat baca agar setiap orang punya kesempatan menaikkan taraf hidup.

Saya Diterbangkan Kata-Kata

Buku mengubah jalan hidup Miftahudin, 31, penulis dan jurnalis surat kabar lokal Banten yang lebih dikenal dengan nama pena Harir Baldan. Lulusan Sekolah Teknik Mesin itu dulunya berjualan gorengan dan nasi uduk dengan sepeda di sekitar tempat tinggalnya di Serang, Banten. Sambil berjualan, dia suka mampir membaca di Rumah Dunia, TBM yang didirikan Gol A Gong.

Menyadari ketertarikan Harir terhadap tulisan olahraga terutama bola, Gol A Gong terus mendekatkannya pada bacaan sejenis. Lama-lama, dia melatih Harir menulis, kemudian membantu membuka jalan menekuni karier sebagai wartawan, seperti yang sudah lama Harir cita-citakan.

Kini, pekerjaan sebagai tukang gorengan sudah ditinggalkan. Sehari-hari Harir sibuk memegang rubrik olahraga dan melanjutkan pendi dikan ke perguruan tinggi. Beberapa waktu lalu, dia juga sempat diikutkan dalam kegiatan literasi di Malaysia dan Singapura. “Itu menjadi pengalaman pertamanya ke luar negeri.

Saya telah diterbangkan kata-kata,“ ujar Harir.

Taman bacaan Begitulah taman bacaan berperan dalam hidup Harir.

Presiden Forum Taman Bacaan Masyarakat Gol A Gong menyebut saat ini ada lebih dari 6.000 TBM tersebar di seluruh Tanah Air. Jumlah itu menggembirakan ka rena turut mengambil peran dalam pemberantasan buta aksara dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam perkembangannya, taman bacaan tidak hanya menyediakan buku, tapi juga menghidupkan geliat ekonomi masyarakat dengan mengap likasikan ilmu yang didapat dari buku. Makanya ada taman baca yang lekat dengan usaha pertanian, kerajinan tangan, dongeng, dan masih banyak lagi.

Dia pun mencatat banyak TBM yang justru lahir berkat orang-orang yang merasakan manfaat buku, kendati secara ekonomi mulanya tidak mampu.

Membaca Membuat Kita Sejahtera

Kesibukan memenuhi teras rumah seorang warga di Desa Pasirhuni, Kecamatan Cimaung, Bandung, Kamis (9/10).Tangan-tangan terampil sedang menata barang-barang untuk seserahan acara pernikahan yang bakal segera dilangsungkan. Ada handuk yang dibentuk menyerupai bunga, sapu tangan diubah serupa penguin, dan bahkan pakaian dalam perempuan jadi seperti ikan mas koki.

Menariknya di sela aktivitas itu, dua buku tampak berpindah tangan dari satu orang ke yang lainnya. Rupanya buku itu berisi cara melipat berbagai bahan untuk hantaran pernikahan. Meski perempuan-perempuan itu sudah cukup sering diminta menghias hantaran perkawinan, mereka terus belajar untuk mengembangkan kemampuan.Menularkan ilmu Berada di tengah mereka ialah Ratna Suminar yang akrab dipanggil Isum, istri Rudiat yang selain bekerja sebagai tukang tahu, juga penjahit, tukang hias kue, tukang servis mesin jahit, dan banyak pekerjaan lain. Suami-istri itu bersama-sama mendirikan dan mengelola Taman Bacaan Masyarakat di Kampung Pasirhuni RT 05/06, Kecamatan Cimaung, Bandung.

Meski tidak lulus SD, keduanya penggila buku. Sejak menikah 1998, mereka terus mengoleksi buku dan berusaha menularkan minat baca ke masyarakat.“Pekerjaan yang saya lakukan sekarang mengajar anak, mengurus rumah tangga, sampai membuat kue banyak belajar secara autodidak lewat buku,“ ujar Isum.

Begitu pula dengan suaminya, Rudiat, yang hanya sempat sekolah hingga kelas 4 sekolah dasar. Hobi menggambar dan melukis Rudiat terus diasah dengan belajar sendiri melalui buku bekas yang dibeli.

Rudiat yang dibesarkan seorang diri oleh ibunya jauh dari merasakan hidup serbaada. Ia terpaksa putus sekolah karena kondisi ekonomi tidak memungkinkan. Rudiat merasakan sendiri bagaimana sulitnya mendapat akses buku bacaan. Padahal, dengan tidak sekolah, buku ialah sumber ilmu pengetahuan yang bisa memberikan banyak manfaat.

Dengan berkaca dari pengalaman pribadi, Rudiat yang akrab disapa Mang Yayat bertekad menularkan minat baca dan mempermudah akses membaca pada orang lain. Sosialisasi minat baca dilakukan sembari bekerja. Saat membetulkan mesin jahit, ia minta pelanggannya mengumpulkan ibu-ibu.

Lantas sembari menunggu mesin diperbaiki, digelarnya buku untuk dibaca ramai-ramai secara gratis.

Banyak orang takjub karena meski tidak lulus SD, Mang Yayat piawai menghias kue, menjahit, dan banyak pekerjaan lainnya. Tanpa ragu, ia menjelaskan ilmunya ia dapat dari buku. “Sengaja menjelaskan seperti itu biar orang juga tertarik baca buku,“ ungkapnya.

Kegiatan menghias hantaran perkawinan bersama ibu-ibu juga merupakan satu dari sekian banyak keahlian yang didapat dari buku. “Nih Bu, saya juga merias seserahan belajarnya dari buku.“ Terdengar sesekali Isum berkata sambil menunjukkan buku petunjuknya ke warga yang tertarik menonton saat ia dan ibu-ibu lain merias hantaran perkawinan. Ia menggunakan gaya suaminya dalam menularkan minat baca di tengah masyarakat.

Menurut Yayat, mereka biasa mendapat upah Rp150 ribu untuk menghias hantaran pernikahan. Lukisan yang ia buat bisa dihargai sampai Rp700 ribu. Untuk kue pesta yang nilainya lebih dari sejuta, upah yang didapat di kisaran Rp250 ribu-Rp300 ribu. Mereka juga berjualan kue kering dan stoples hias di momen seperti lebaran. Lagilagi resepnya dari buku.

Isum dan Yayat merasakan betul arti membaca pada masyarakat di sekitar rumahnya, Kampung Ciawitali, Desa Pasirhuni.

Mereka tidak hanya menularkan minat baca ke masyarakat yang dulu dikenal gemar mabuk, berjudi, dan berkelahi, tetapi juga mengajar membaca, berkesenian, dan membuat kerajinan. Kini di kampungnya, hanya tersisa dua orang yang buta aksara.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan