-->

Peristiwa Toggle

Indonesia Siap Menjadi Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair 2015

FRANKFURT – Dalam pembukaan Frankfurt Book Fair 2014, Indonesia memperkenalkan diri sebagai tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair (FBF) 2015. Sebagai persiapannya, Indonesia melakukan road show untuk memperkenalkan budaya bangsa ke beberapa kota besar di Jerman seperti Leipzig dan Hamburg yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar RI di Jerman.

Dalam laporan web daring detik.com 8 Oktober 2014 disebutkan Indonesia membawa sebanyak 65 orang delegasi yang terdiri dari penulis, penerbit, sastrawan, budayawan, desain interior, dan chef. Di antaranya adalah Dewi Lestari, Ayu Laksmi, Slamet Raharjo, Goenawan Mohamad, Wiliam Wongso, Imelda Akmal dengan ketua delegasi dipimpin Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti. Indonesia juga membawa penerjemah bahasa asing untuk menerjemahkan buku dalam bahasa Indonesia bahasa Inggris dan Jerman.

Dalam pameran buku ini, delegasi Indonesia membawa 900 buah buku seperti buku anak, buku sastra, fiksi, non-fiksi, buku kuliner yang beberapa di antaranya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Tidak hanya itu, Indonesia juga menampilkan digital book yang akan digunakan untuk pendidikan. Buku-buku tersebut dipajang di booth Indonesia di Hall D. Adapun, booth Indonesia memiliki luas sekitar 12×6 meter tampil menarik dengan menonjolkan ornamen kayu.

Keragaman Indonesia dalam Buku

Konferensi pers itu dilaksanakan di Room Fantasy Congres Center, Frankfurt Trade Messe, Frankfurt, Jerman, 9 Oktober 2014 pukul 11.00 waktu setempat. Dalam konferensi pers untuk perkenalan Indonesia sebagai Guest of Honour of Frankfurt Book Fair 2015 itu tampil pembicara Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti, Sekjen Kemendikbud Ainun Naim, Goenawan Mohamad, dan Sekjen IKAPI Hunsi Syawie. Dubes Indonesia untuk Jerman, Fauzi Bowo (Foke) juga turut hadir.

Dalam paparannya Wiendu Nuryanti menyatakan Indonesia akan menampilkan keberagaman budaya dalam FBF 2015 melalui buku-buku karya anak negeri.

“Mungkin Anda mengenal Indonesia hanya Bali dan Jawa saja, tetapi itu hanya sebagian pulau dari Indonesia. Tetapi sebenarnya ada ribuan pulau di Indonesia lainnya yang bisa Anda jelajahi,” ujar Wiendu.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki 600 bahasa ibu, 6 agama dan 65 ribu candi bersejarah yang tersebar di beberapa pulau di Indonesia. “Anda bisa bayangkan warisan budaya leluhur Indonesia begitu banyak,” lanjutnya.

“Di Indonesia, yang dikelilingi perairan dan gunung berapi, keberagaman perbedaan yang luar biasa dapat ditemukan dalam kepustakaan. Kami ingin memperlihatkan dalam event di Frankfurt ini bagaimana dinamisnya kepustakaan Indonesia yang hanya sebagian kecil yang diketahui dunia,” tambahnya.

Karakteristik Indonesia yang dikenal dalam keberagaman bahasa dan juga memiliki tradisi dongeng. Dalam kesempatan sebagai GoH pada FBF tahun depan, Indonesia akan membawa buku-buku dengan tema yang beragam, mulai dari novel, biografi, buku kebudayaan, buku foto, buku anak dan buku pendidikan serta banyak buku lainnya.

Seperti diketahui, Finlandia merupakan tamu kehormatan dalam FBF 2014 ini. Sebagai tamu kehormatan di tahun yang akan datang, Wiendu menyatakan bahwa Indonesia akan lebih baik dan menarik lagi dalam penampilannya.

“We know Finnland is cool but Indonesia is very hot!,” tutup Wiendu. Finnland.Cool merupakan tagline Finlandia sebagai GoH Frankfurt Book Fair 2014.

Kekayaan Kebudayaan

“Kita ingin memperlihatkan kepada internasional kekayaan budaya kita ini lewat Frankfurt Bookfair ini,” kata Sekjen Kemendikbud Prof Ainun Na’im. Menurut Ainun, Indonesia memiliki beragam suku dan bangsa yang memberikan warna kebudayaan Indonesia. Sebagai negara yang multikultural, dia yakin banyak negara yang tertarik untuk mempelajari Indonesia lebih jauh lagi.

“Dan yang lebih penting lagi kekayaan kebudayaan ini menampilkan banyak harmoni, yang mana ada perhubungan antar umat beragama antar budaya yang berbeda. Kita sebagai masyarakat multikultural dan multibudaya ini kan bisa hidup sama dengan baik,” jelasnya.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang berdiri sejak zaman kerajaan hingga sekarang ini memiliki warisan budaya yang terus berkembang. “Yang penting adalah kita kan punya budaya dan sastra yang kaya, dan keberadaannya ini kan bisa kita telusuri sejak ratusan tahun lalu. Sejak zaman Hindu Budha, bahkan ada karya-karya seperti Arjuna Wiwaha, zaman Mataram, kemudian sampai zaman modern mulai dari zaman kemerdekaan ada pujangga baru sampai sekarang,” paparnya.

Roadshow Perkenalan

Untuk menunjukkan kesiapannya Indonesia melakukan road show untuk memperkenalkan budaya bangsa ke beberapa kota besar di Jerman seperti Leipzig dan Hamburg yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar RI di Jerman.

“Kami fasilitasi apa yang perlu difasilitasi, salah satu di antaranya kita cukup berhasil dan diperlukan itu roadshow. Jadi memperkenalkan bahwa kita tahun depan akan jadi guest of honour itu ke kota besar di Jerman seperti di Leipzig dan Hamburg,” ujar Fauzi Bowo, Duta Besar RI di Jerman, di Frankfurt.

Selama roadshow ini, pria yang akrab disapa Foke ini mengatakan, Indonesia mendapatkan sambutan yang positif dari Jerman. “Sambutannya sangat baik. Saya sangat surprise bahkan banyak juga yang menawarkan poetry activity untuk mensukseskan ini, ” lanjut Foke.

Menurut mantan Gubernur DKI ini, Jerman memiliki banyak ketertarikan dengan budaya Indonesia. “Itu tadi dikatakan pengertian dan mau mengerti itu berbeda. Orang Jerman itu banyak yang punya pemahaman tentang Indonesia, tetapi ingin lebih memahami indonesia lebih baik, jadi sambutannya sangat baik,” paparnya.

Untuk itu, Foke mengatakan, Indonesia perlu kerja keras untuk bisa tampil maksimal sebagai tamu kehormatan dalam FBF tahun depan. Indonesia juga bekerjasama dengan mitra di Berlin untuk mensukseskan program tersebut.

“Kita tidak kerja sendiri, kita kerja dengan mitra kita di Berlin dan beberapa kota lain akan kita kerjakan sampai praktek 2015 nanti,” katanya.

Dalam ajang internasional ini, kata dia, Indoesia baru sampai pada tahap awal dalan perkembangan literatur dibandingan dengan negara-negara lain.

“Kita pada fase permulaan, dibandingkan dengan Jerman yang perkembangan literasi dan perangkat yang ada perkembangannya barangkali jauh lebih advance dengan Indonesia,” tamahnya.

“Beberapa tahun lalu mereka sudah concern dengan elektronik literasi. Ini merupakan pelajaran sangat berharga buat Indonesia dengan memanfaatkan peluang ini sebagai guest of honour,” imbuhnya.

Demikian laporan web berita daring detik.com 8-9 Oktober 2014 ihwal kesiapan Indonesia dalam berpartisipasi di Frankfurt Book Fair 2015.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan