-->

Peristiwa Toggle

Dunia Literasi Surabaya Terkini: Isu, Tokoh, dan Komunitas

Harian Surya edisi 12 dan 13 Oktober 2014 menurunkan laporan khusus “Bukuku Inspirasiku” yang merekam denyut dunia buku dan gerakan literasi di Kota Surabaya dan sekitarnya. Liputan khusus koran yang berdomisili di Surabaya ini menggambarkan tentang bagaimana tokoh dan komunitas-komunitas di kota niaga ujung timur pulau Jawa itu menggerakkan literasi dengan keyakinan bahwa buku memberi langgam khas atas kota. Para penggerak ini adalah mereka yang dengan sepenuh hati meyakini buku adalah bagian dari keadaban sebuah kota.

Surya

Geng Cewek Penjaga Tradisi Baca

Lima perempuan asyik berbincang dan senda gurau di sebuah kafe di pusat kota Surabaya, Sabtu (11/10/2014) siang. Berbeda dengan umumnya pengunjung cafe yang asyik memainkan gadget ber-Facebook atau ngetwit, anak-anak muda ini justru asyik dengan buku. Ada buku di tangan mereka. Beberapa buku lagi ikut menghiasi hidangan di meja.

“Ya beginilah kebiasaan kami,” tutur Diah Rizki, satu di antara anak muda itu kepada Surya, yang baru datang bergabung. Bagi anak-anak muda ini, buku menjadi menu wajib saat bertemu dan cangkruk. Tidak selalu harus cangkruk di cafe.  Cangkruk di taman dan tempat terbuka juga oke. Bahkan itu yang paling sering mereka dilakukan.

Mereka adalah geng cewek yang menyebut dirinya komunitas KBS. Tapi bukan singkatan dari Kebun Binatang Surabaya, melainkan Klub Buku Surabaya. “Ada sekitar 60 anggota yang bergabung di komunitas ini. Tapi hanya di waktu-waktu ternyata ngumpul bareng dalam jumlah besar,” tuturnya.

Kebiasaan yang paling sering, mereka bertemu dalam kelompok-kelompok kecil, seperti yang dilakukan Diah Rizki bersama Imamah, Aya, Hanny. Masing-masing mahasiswi dari Universitas Airlangga, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), dan Stikosa AWS. Dua teman lainnya adalah Hanny dan Putri Eka, masing-masing pelajar SMAN 17 dan SMAN 20 Surabaya.

Para remaja dari kampus dan sekolah berbeda itu menjadi akrab lantaran buku. Mereka sama-sama gemar membaca.

KBS ini pertama kali pada 2012. Namun setelah lahir, komunitas itu tak lagi banyak berkegiatan karena para pengurusnya yang pindah ke kota lain. “Secara kelompok memang vakum. Tapi kebiasaan membaca tetap jalan di rumah masing-masing” kata Diah.

Kegiatan kelompok baru aktif kembali Desember 2013. Setidaknya hingga sekarang, sudah tujuh kali kopi darat (kopdar) alias mengadakan pertemuan. ”Kalau kopdar, biasanya kami mengadakan bedah buku dan diskusi buku. Terakhir kami malah mengadakan blind date (kencan buta) dengan buku, lokasinya di Taman Apsari,” kata Putri Eka.

”Pas blind date itu, anggota yang datang harus membawa satu buku yang dibungkus rapat sehingga tidak ketahuan buku apa judulnya. Nah, buku-buku itu lalu saling ditukarkan. Apapun buku yang didapat harus dibaca dan nanti di kopdar berikutnya masing-masing menjelaskan apa isi bukunya,” lanjutnya.

Usai Baca Buku, Terinspirasi Ambil Beasiswa ke Belanda

Dari deretan buku yang dibaca Yuyun, selalu ada satu dua buku yang paling memberi inspirasi. Diah misalnya, mengaku sangat terinspirasi novel Edensor karya Andrea Hirata. Cerita di dalam buku ketiga dari tetralogi “Laskar Pelangi” tersebut, menjadi sebuah kisah yang menginspirasinya untuk tak berhenti mengejar mimpi betapapun sulitnya.

Sedangkan Hanny, anggota KBS yang duduk di kelas 12 SMA ini bilang sangat terinspirasi pada Rectoverso karya Dewi Lestari. Di dalam kumpulan cerpen yang terbit perdana pada 2008 itu, Hanny yang terkenal sangat ceria di komunitasnya, sangat menggemari cerpen berjudul “Aku Ada”. Cerita buku ini dirasakannya paling sesuai dengan kehidupan sosial dan hubungan pertemanannya.

Beda lagi dengan Imamah. Gadis ini menyebut buku “Negeri Van Oranje” paling menginsipirasi dirinya dibanding ratusan buku yang dilahapnya. Novel yang ditulis secara keroyokan oleh Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, dan Rizki Pandu Permana ini menggugah semangat Imamah untuk tak berhenti menuntut ilmu. Keterbatasan ekonomi tidak boleh dianggap sebagai jalan buntu. Buku cerita ini menanamkan keyakinan, ada banyak jalan menuntut ilmu bagi siapa saja yang mau. ”Novel itu tentang kehidupan mahasiswa Belanda dengan berbagai lika-liku hidupnya di sana. Buku ini menginspirasi saya untuk mengejar beasiswa luar negeri, khususnya beasiswa ke Belanda,” kata Imamah.

Sejauh ini, KBS tidak terlalu gencar berpromosi untuk menggaet anggota-anggota baru. Yang mereka lakukan hanya memaksimalkan pemanfaatan media sosial serta aplikasi perpesanan instan seperti Twitter dan WhatsApp untuk mempublikasikan agenda-agenda yang akan mereka gelar. ”Temen-temen yang ingin bergabung, bisa lihat agenda yang kami umumkan di Twitter. Kalau tertarik bisa langsung datang ke lokasi. Acaranya juga tidak melulu bedah buku, tetapi kadang kami cuma nongkrong saja atau bareng-bareng belanja buku,” ujar Dian.

Lebih Pilih Buku Dibanding Utak-Atik Media Sosial

Masih ada sederet komunitas buku dan komunitas baca. Misalnya komunitas Dbuku, Komunitas CO2, dan komunitas rumah baca di Surabaya. Mereka-mereka inilah, yang bisa dibilang tidak ikut tenggelam dalam dunia digital, dunia Facebook dan dunia sinetron, yang sedang menjadi madzab bagi mayoritas masyarakat.

Bagi mereka buku adalah hiburan dan penuntun. Media sosial tetap mereka ikuti untuk membangun jaringan. Pengalaman menjadi penikmat buku juga dirasakan Yuyun Yuniarti. Perempuan 41 tahun ini cukup menggemari buku sejak muda, dan sempat bergabung dengan Surabaya Women’s Book Club (SWBC). Di sini, ia bersama dengan para perempuan penikmat buku rajin bertemu dan sharing bacaan. ”Saya juga suka buku-buku kategori biografi seperti biografi Tan Malaka misalnya,” lanjutnya.

Menurut Yuyun, buku menjadi sumber inspirasi ia dan teman-temannya. Mulai dari inspirasi soal keluarga, mengurus dan mendidik hingga masalah-masalah kontemporer.

“Inspirasi yang paling banyak seputar cara mendidik anak” ujar mantan dosen Institut Teknologi Adi Tama Surabaya (ITATS) ini.

Namun sayang, karena kesibukan masing-masing, SWBC vakum pada 2013. Yuyun sendiri tak lagi bisa banyak beraktivitas dengan komunitas itu setelah pindah mengajar ke Malang. “Tapi hobi membaca itu tetap berlanjut sampai sekarang,” katanya.

Kegemaran membaca buku membuat Yuyun tidak begitu tertarik mengutak-atik media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lain sebagainya. ”Saya sih tidak punya (akun) Facebook karena tidak merasa nyaman di dalamnya. Kadang-kadang informasi yang diposting orang di dalam Facebook kan tidak tepat. Jadi kalau dipilih mana menghabiskan waktu untuk media sosial atau buku, saya memang lebih memilih buku,” pungkasnya.

Ini Dia Perpustakaan Buku Langka Tertua di Surabaya

Nama C2O Library makin populer di kalangan pecinta buku Surabaya. Perpustakaan ini dianggap istimewa karena memiliki koleksi yang tidak banyak ditemukan di perpustakaan umum di Kota Pahlawan ini. Utamanya literatur luar negeri dan buku-buku Indonesia berumur tua yang sudah langka.

Perpustakaan ini didirikan oleh cewek bernama Kathleen Azali tahun 2008 silam. Ia menyulap rumahnya menjadi bangunan terbuka untuk umum. Ribuan buku ia siapkan untuk memanjakan para penggemar buku yang datang berkunjung. Nama C2O Library sendiri diambil dari alamat rumah yang berada di Jalan Cipto Nomor 20, disingkat C20. Memasuki rumah itu langsung terlihat ribuan buku tertata rapi di rak.

Di belakangnya disediakan deretan meja. Di situlah pengunjung biasa membaca maupun sekadar membuka laptop. Sebuah meja kecil berdiri tak jauh dari rak. Dua buku tebal tertumpuk di atasnya. “Itu dua buku Di Bawah Bendera Revolusi. Buku-buku itu hasil sumbangan dari orang yang mendukung keberadaan C2O,” ujar Anitha Silvia, relawan yang Sabtu (11/10/2014) kemarin bertugas menjaga C20.

Anitha mengungkapkan, keberadaan C2O berangkat dari idealisme untuk mendistribusikan pengetahun. Secara umum perkembangan perpustakaan sudah sangat pesat. Karena itu C2O ingin memberikan sesuatu yang berbeda, yang tidak ada di perpustakaan umum. Utamanya literatur dunia klasik, berbahasa Inggris. Buku-buku jenis ini jarang ditemui di perpustakaan umum, bahkan toko buku besar sekali pun. Kebanyakan pengunjung berasal dari kalangan mahasiswa dan ekspatriat yang tinggal di Indonesia.

Namun belakangan ini muncul pelanggan dari kalangan pelajar dan dari lintas generasi. ”Kami ada pelanggan berusia 80 tahun, tapi ada juga yang masih anak-anak. Jadi sudah lintas generasi,” tambah Anitha.

Para ekspatriat tidak menduga ada perpustakaan dengan koleksi yang mirip dengan di negaranya. Mulai dari sejarah, politik, sastra, hingga filsafat. Buku-buku tersebut didapat dari belanja ke luar negeri atau di toko buku tua serta sumbangan banyak pihak yang mendukung.

Meski belakangan C2O juga semakin menambah koleksi berbahasa Indonesia dari penerbit lokal. Seperti Marjin Kiri, Komunitas Bambu, dan Banana Publisher. ”Kami juga berjejaring dengan perpustakaan sejenis. Antara lain dengan kawan-kawan di Semarang, Bandung, dan Makassar,” terang Anitha.

Sensasi Saat Memegang Buku Tak Diperoleh Dari e-Book

Sebagai perpustakaan partikelir, C2O masih mencari pemasukan dari buku-buku yang disewakan. Namun Anitha menegaskan, uang itu bukan untuk tujuan profit. Uang sebatas untuk menjaga kerlangsungan perpustakaan.

Untuk menjadi anggota, dikenakan iuran tahunan sebesar Rp 50.000. Sementara untuk biaya sewa satu buku yang dipinjam dikenakan tarif Rp 3.000 hingga maksimal Rp 20.000. Satu buku diberikan waktu selama dua minggu, sebelum dikembalikan. Namun untuk buku-buku yang langka, C2O membatasi hanya untuk dibaca di lokasi. ”Paling kami bisa fasilitasi untuk foto kopi. Di negara kita foto kopi kan masih legal, beda dengan di barat yang ilegal,” ucap Anitha.

Lebih jauh Anitha menyatakan, literatur Indonesia pernah mengalami pembatasan. Terutama di masa Orde Baru, banyak buku yang dilarang beredar di tengah masyarakat. Karena itu C2O bertekad memberikan pilihan lain, di antara literatur yang ada saat ini.

Cara ini untuk membebaskan masyarakat mendapatkan pengetahuan yang diinginkannya. Meluaskan pilihan pembaca, atas buku-buku berkualitas di luar literatur yang mainstream. ”Bagi sebagian orang, membaca buku sudah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Mereka selalu haus pada buku, dan kami coba menawarkan sesuatu yang lain,” katanya.

Meski perkembangan internet memudahkan penyebaran buku digital (e-book), namun buku konvensional tidak akan tergusur. Sebab memegang buku secara fisik mempunyai sensasi yang tidak diperoleh dari e-book. Termasuk mencium aromanya yang khas, yang tidak mungkin ditemukan pada e-book. Anitha menggambarkan, membaca dengan buku konvensional layaknya melihat pertunjukan musik secara langsung. Sementara e-book lebih mirip sebuah rekaman konser musik.

”Kami juga membaca e-book sebagai salah satu penyebaran pengetahuan di era internet. Tapi sensasi mencium aroma buku dan memegang bentuk fisik buku tidak tergantikan,” ujar Anitha menggambarkan. C2O juga memberikan ruang kepada para pecinta buku untuk berekspresi. Mereka bisa saling berdiskusi, riset maupun bedah buku di tempat ini.

Lewat ayorek.org, C2O juga menjadi wadah berbagai minat mereka. Ayorek.org telah menghasilkan buku dan jurnal tentang Surabaya. Segala pernak-pernik Surabaya diungkap lewat tulisan. Di luar dugaan, buku dan jurnal Ayorek sangat diminati.
Saat ini edisi ke-2 Ayorek tengah dikerjakan dengan tema sustainable city (kota berkelanjutan). Mulai dari transportasi, traveling hingga situs-situs yang ada di Surabaya.

“Minat pada terbitan pertama sangat bagus. Kami berharap ini bisa menjadi panduan lengkap tentang Surabaya,” pungkas Anitha.

Perpustakaan semakin hidup dengan berbagai program kegiatan dan event. Untuk anak-anak muda misalnya, ada program NGASO (Ngobrol Asik Surabaya Youth), satu program gathering sekaligus diskusi publik yang akan mengangkat topik-topik hangat di kalangan anak muda dan diadakan secara eventual.

Di bulan Oktiber ini misalnya, NGASO akan mengundang seluruh komunitas yang bergerak dalam industri kreatif Surabaya mengikuti Design It Yourself 2014 yang berlangsung 10-26 Oktober.

Tak Kapok Jatuh Bangun Hadirkan Pustaka Rakyat

Susah payah membangun, rumah bacaan malah disegel manajemen. Ia lalu pindahkan ribuan buku. Jadilah perpustakaan yang ramai pengunjung di tengah kampung Surabaya. Lagi-lagi kesulitan dana mengakhiri riwayatnya. Kini ia kembali mendirikan perpustakan lesehan untuk kaum jelata di Magetan.

Diana AV Sasa, nama perempuan yang tak kenal kapok itu. Ia masih saja berusaha menghadirkan taman bacaan, meski layanan sosial bernama “Dbuku” itu sudah dua kali gulung tikar.

Dbuku lahir di Surabaya 2008 silam. Modal buku yang dimiliki kala itu terbatas. Koleksi yang dimiliki sebatas buku yang terkumpul dari kegemarannya membaca dan membeli buku. Mula-mula hanya teman-teman kuliah dan komunitasnya yang menjadi peminjam.

Manajemen kecil ia terapkan. Sasa, demikian perempuan itu biasa dipanggil, mencatat sendiri dengan rapi proses pinjam meminjam itu. Aturan sederhana diterapkan. Peminjam tidak boleh melampui waktu karena bisa mengganggu calon peminjam lain yang membutuhkan. Denda diberlakukan bagi teman yang mengembalikan buku dalam kondisi rusak. Begitu juga untuk buku yang hilang.

Sasa sendiri masih melanjutkan hobi membaca sembari merintis penulisan buku. Setahun kemudian lahirlah karya pertamanya, “Para Penggila Buku”. Buku karya pertama inilah yang menjadi pelecut tekadnya mendirikan perperpustakaan yang lebih besar. “Hasil penjualan “Para Penggila Buku” itu saya gunakan menambah koleksi,” terangnya.

Ada berkah lain dari buku ini. Sarjana Bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kerap mendapat undangan keliling mengisi pelatihan atau seminar. Honor dari seminar ke seminar itu membantunya mempercepat tambahan koleksi buku.
Puncaknya, tahun 2010 Kemendikbud menggandeng Sasa untuk membuat perpustakaan. Ia pilih membuka taman bacaan di Royal Plasa Surabaya.

Perpustakaan Dbuku itu dibuka di lantai tiga pusat perbelanjaan ini. Tradisi literasi sempat menjadi kekhasan warna di tengah ramainya masyarakat yang berbelanja di mal Jalan A Yani itu. Apalagi aneka kegiatan keilmuan kerap digelar di sana. Ada bedah buku, workshop hingga pelatihan menulis.

Sayangnya operasional di mal sangat mahal. Perpustakaan Dbuku yang dijalankan dengan konsep sosial itu kesulitan pembiayaan. Hanya sekitar setahun riwayat perputakaan dalam mal itu harus berakhir. Pihak manajemen sempat menyegelnya. “Saya sempat melobi manajemen mal untuk memberi kelonggaran, tapi gagal. Saya sudah kehabisan uang, solusi satu-satunya harus ditutup,” kenang Sasa.

Angkat kaki dari mal, Sasa membawa koleksi bukunya ke sebuah rumah kontrakan di Wonokromo. Perlahan Dbuku kembali hidup. Bahkan keberadaannya di tengah permukiman, seolah menjadi obat kehausan masyarakat akan pengetahuan.

Dalam satu tahun pertama saja, anggota yang mendaftar mencapai 300 orang. Mereka dikenakan biaya pendaftaran Rp 10.000 untuk seumur hidup. Namun lagi-lagi biaya operasional menjadi kendala. Untuk menjalan perpustakaan ini, Sasa harus rela memotong pendapatannya sebagai penulis buku, penulis esai maupun berita.

Bahkan ia menyebut, kadang 50 persen penghasilannya digunakan untuk alokasi operasional. “Saya hanya berpikir, bagaimana memberi akses bagi masyarakat untuk bisa membaca,” katanya.

Penuhi Hasrat Maniak Buku, Pilih Pindah ke Magetan

Keberadaan Dbuku di tengah kampung benar-benar menjadi obat dahaga pengetahuan warga sekitar. Bukan saja para mahasiswa yang menjadi anggota, anak-anak, ibu rumah tangga, tukang becak hingga korban politik 1965 pun menjadi pelanggan.

Sasa masih ingat, anak-anak begitu menjadi gila dengan buku. Setiap hari mereka bisa berganti buku bacaan. Sementara kaum ibu meminjam buku-buku masakan, dua buku per satu minggu. Sementara para mahasiswa rata-rata satu buku per satu minggu. “Mereka begitu haus akan pengetahuan, saya bisa melihat itu. Bahkan tukang becak pun ada yang rutin datang dan meminjam buku. Itu menjadi sesuatu yang membangkitkan semangat,” ucap Sasa.

Keberadaan Dbuku bahkan mengundang perhatian penulis besar, Seno Gumira Ajidarma. Seno menitipkan lima kardus koleksi bukunya kepada Dbuku. Seno beralasan, tidak bisa lagi mengurus –ratusan buku warisan dari sang kakek tersebut. “Dbuku juga menerima titipan buku. Nanti kalau yang bersangkutan butuh, akan kami kembalikan. Setidaknya buku titipan ini semakin menambah koleksi buku kami,” katanya.

Sayangnya, lagi-lagi biaya sewa tempat menjadi kendala bagi Sasa untuk meneruskan Dbuku. Selepas Pilkada Gubernur Jawa Timur, Dbuku kolaps setelah berjuang untuk bertahan. Sasa membawa sekitar 6.000 koleksi bukunya ke Pacitan, tanah kelahirannya.

Namun Sasa tidak patah semangat. Kader PDIP ini, kini mulai merintis Dbuku di Magetan. Masih menurut Sasa, di Surabaya sudah banyak perpustakaan yang bisa diakses warga. Sementara di Magetan, belum ada perpustakaan selain perpustakaan milik pemerintah. “Kalau menurut saja, tugas saya di Surabaya sudah selesai karena perpustakaan sudah begitu banyak. Sementara di Magetan belum ada yang memulai “pelayanan” perpustakaan,” ucapnya.

Demi mendekatkan akses ini, Sasa tengah merintis perpustakaan lesehan. Rencananya setiap hari minggu, koleksi buku yang dimilikinya akan dibawa ke alun-alun Kabupaten Magetan. Di sana masyarakat bebas membaca sepuasnya. Cara ini untuk memperkenalkan Dbuku, sebelum beroperasi secara resmi. Sasa yakin, Dbuku bisa eksis di wilayah pinggiran seperti Magetan. Sebab dari sisi operasional, seperti sewa tempat relatif lebih murah. Cara ini dilakukannya, untuk memenuhi hasrat para maniak buku. Selain memupuk jiwa pengabdian, yang semakin sulit ditemukan di tengah masyarakat.

“Masyarakat sangat haus dengan pengetahuan, dan kita mencoba mendekatkan akses sumber pengetahuan,” tandasnya.

Rela Lapar Demi Kejar Buku Kesayangan ke Yogyakarta

Keakraban Lukman Wijaya dengan buku dimulai di Universitas Airlangga awal 2000-an. Awalnya, hanya buku-buku kuliah yang dibacanya. Tak disangka, setelah melahap buku kuliah, ia malah merasa semakin lapar pengetahuan. Buku menjadi istri kedua bagi Lukman. Dia aktif bercengkarama sekaligus merawat ribuan buku layaknya anggota keluarga. Pria asal Jombang ini bahkan rela tidur berbagi ranjang dengan tumpukan buku.

Itu dijalani saat masih tinggal di kamar kos di Gubeng Airlangga Surabaya 2001 silam. Buku-buku itu terpaksa dibiarkan menggunung di ranjang. Jumlah mencapai ribuan. Kamarnya terlalu sempit untuk menampungnya. Hanya ada satu lemari yang bisa masuk. Padahal pakaian dan barang berharga lain juga harus masuk lemari itu.

Melihat begitu banyaknya buku, kamar yang luasnya hanya 3 x 3 meter itupun lebih layak disebut sebagai perpustakaan mini, ketimbang kamar tidur. “Saya sendiri akhirnya jarang sekali tidur di sana,” kata bapak satu anak itu. Berbeda dengan umumnya perpustakaan, buku-buku Lukman ini kebanyakan bacaan berat. Maklum Lukman memang lebih senang membaca buku-buku serius, ketimbang fiksi.

Lukman paling gandrung melahap buku filsafat barat beraliran klasik, kontemporer sampai modern. Buku pemikiran berbagai filsuf tersedia di sana. Ada filsuf Yunani macam Socrates dan Plato. Namun Lukman lebih senang membaca buku karya filsuf Jerman, seperti Hegel, Martin Heidegger, Emmanuel Kant, Herbert Marcuse, Ludwig Feuerbach, Max Horkheimer, Friedrich Nietzsche sampai Jürgen Habermas.

Dalam sebulan, Lukman bisa menghabiskan belasan buku. Jumlah itu tergantung isi buku. Bila memiliki tingkat kesulitan tinggi, biasanya Lukman membacanya berulang-ulang dan membutuhkan waktu lama meski buku tersebut tipis. Dia mencontohkan buku karya Nietzsche. Oleh beberapa temannya, baik di kampus maupun di organisasi Front Perjuangan Pemuda Indonesia, Lukman dijuluki kamus filsafat berjalan. Hampir semua diskusi tentang filsafat bisa dia ikuti alurnya. Menurut Lukman, belajar filsafat membawanya ke realitas masa lalu yang komplet.

“Masa lalu itu kan bukan cuma potret. Ada konteks yang membangunnya. Nah di filsafat, saya bisa mempelajari banyak hal, misalnya sampai pada mengapa orang sampai memikirkan sesuatu. Filsafat adalah dasar dari pengetahuan yang kita miliki hari ini,” ujarnya berfilsafat.

Di luar filsafat, ada pula beberapa buku koleksinya masuk kategori novel dan sejarah. Ada pula koleksi buku berisi foto-foto Perang Dunia I dan II. Lukman mendapatkan buku itu tidak hanya di Surabaya. Dia sampai berburu ke Jakarta dan Yogyakarta. Beberapa kali dia harus memesan buku terbitan asing. Lukman memiliki trik sendiri untuk mendapatkan buku langka.

Dia lebih suka menganggap buku itu tidak langka, tetapi sulit diakses. “Saya berangkat ke Yogyakarta untuk mencari buku itu di toko langganan. Kalau kebetulan buku itu tidak dijual, pemiliknya mengizinkan saya fotokopi. Yang penting kan isinya sama dengan yang asli,” katanya terkekeh.

Lulusan Fisip Unair itu sempat bingung memindahkan bukunya setelah lulus kuliah. Baju yang Lukman bawa pulang ke Jombang tidak lebih dari satu tas ransel. Sedangkan bukunya harus diangkut bertahap selama beberapa minggu. Sampai di Jombang pun ia masih bingung, karena tidak ada tempat yang cukup baik untuk menyimpan hartanya itu. Ia khawatir bukunya rusak bila disimpan sembarangan.

Soal memburu buku, Lukman ingat. Ia lebih memilih lapar ketimbang kehilangan kesempatan mendapat buku. Sebagai anak kos, dia memang terlatih tidak makan teratur. “Makan cukup sekali sehari, asal tetap bisa beli buku. Tidak bisa membeli buku adalah cobaan yang sulit dihadapi. Pokoknya harus beli,” kata Lukman yang hingga kini belum berhenti memburu buku.

Saat ini ia melanjutkan studi magister jurusan sosiologi di Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Membeli buku tetap menjadi keharusan, meski harus menyisihkan uang di luar untuk anak istrinya.

Kini ribuan buku koleksinya tersimpan rapi di rumahnya di Jember. Buku-buku itu disimpan di dua lemari besar yang dia letakkan di ruang tamu dan tengah. “Buku saya sudah berpindah tiga kali. Di mana saya tinggal, di situ buku saya simpan,” kata Lukman.

2015, Tahun Gemar Membaca

Ungkapan “buku adalah jendela dunia” sudah lama populer. Tapi sayang, popularitas ungkapan ini belum bisa menggerakkan masyarakat secara masif untuk menjadi pecinta buku.

Membaca belum menjadi bisa budaya umum masyarakat. Inilah yang kini menjadi fokus program garapan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI. Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Sri Sularsih menyatakan, pihaknya mencanangkan program Gemar Membaca sebagai program prioritas pembangunan perpustakaan di tahun 2015. ”Promosi perpustakaan dan gemar membaca akan dilakukan bersama-sama,” kata Sri Sularsih.

Perpustakan akan menggandeng komunitas-komunitas membaca melakukan kampanye menggugah kesadaran tentang pentingnya buku. Para generasi muda yang kini hidup di tengah kepungan media digital menjadi sasaran utama kampanye itu. Menurutnya, perlu ditanamkan rasa butuh terhadap buku. Sebab semakin banyak buku yang dibaca akan semakin lengkap pula warna-warna dunia yang bisa dilihatnya. “Itu berarti akan semakin besar kemampuan diri untuk bersaing dan berkreasi mewarnai dunia, setidaknya untuk diri sendiri,” kata Sri.

Buku juga bisa memberi banyak inspirasi. Ada banyak buku cerita, novel, sejarah, biografi dan succes story yang penuh dengan virus penyemangat. Ada buku sains dan teknologi yang selalu siap memandu sesesorang melahirkan kreasi dan melakukan inovasi kehidupan. Masih ada seabrek genre buku lain yang terlalu panjang untuk ditulis satu persatu. Yang pasti, apapun genre buku itu telah memberikan pilihan untuk mengakrabinya, sesuai dengan minat dan kecenderungan.

Perpustakaan nasional nantinya akan melakukan sinkronisasi program itu dengan daerah. Sri berharap program itu bisa masuk hingga ke desa-desa. Peluang itu terbuka lebar. UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa yang baru diberlakukan memberi dukungan besar. Pasal 39 UU ini menyebut ada anggaran pemerintah, pusat maupun daerah untuk perpustakaan.

Selain itu, UU nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, menyebutkan, perpustakaan adalah urusan bersama yang terkait dengan pelayanan dasar. Pemerintah wajib menggalakkan kampanye gelar membaca dengan memanfaatkan fasilitas perpusatakaan tersebut.

Sulastri menjelaskan, ada banyak faktor yang mengganjal budaya membaca di Tanah Air. Ada yang disebabkan karakter masyarakat yang lebih suka dengan budaya mendengar. Era teknologi informasi yang ditandai membanjirnya gadget ikut menjadi pesaing budaya membaca.

Mencari informasi instan melalui mesin pencari Google misalnya, dianggap sudah cukup menjadi jendela dunia. Faktor lain adalah akses mendapatkan buku yang masih minim. Ini umumnya terjadi di desa-desa pelosok.

Hal ini jauh berbeda dibandingkan kondisi di kota-kota besar semacam Surabaya yang memiliki fasilitas-fasilitas perpustakaan–baik yang dikelola swasta, pemkot, maupun lembaga-lembaga pendidikan–maupun toko-toko buku di banyak tempat.

Untuk mengoptimalkan program minat baca, Perpusnas RI menyiapkan beberapa upaya, yakni melakukan revitalisasi perpustakaan, meningkatkan pemerataan ketersediaan pelayanan perpustakaan secara merata, peningkatan kualitas dan keberagaman koleksi perpustakaan, peningkatan promosi gemar membaca, dan peningkatan kompetensi serta profesionalitas tenaga perpustakaan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan