-->

Tokoh Toggle

Bakdi Soemanto, Sastrawan dan Guru | #Obituari #RIP

Harian Kompas Minggu edisi 12 Oktober 2014 menurunkan dua tulisan tentang berpulangnya Bakdi Soemanto pada Hari Sabtu, 11 Oktober 2014 di RS Panti Rapih Yogyakarta. Yang pertama adalah berita kematian dan yang kedua adalah refleksi pengabdian Bakdi Soemanto pada dunia sastra, teater, dan kebudayaan pada umumnya. Sehari kemudian Jawa Pos edisi 13 Oktober 2014 menurunkan esei nekrologi tentang jejak kesasteraan Prof Bakdi berjudul “Kerja Literasi dan Pesan” . Berikut tiga tulisan selengkapnya.

Bakdi Soemanto, Sastrawan_Obituari, Buku

YOGYAKARTA — Sastrawan Bakdi Soemanto meninggal pada usia 73 tahun di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, Sabtu (11/10) pukul 03.45. Pegiat kesenian dan akademisi serba bisa itu akan disemayamkan di pemakaman keluarga besar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (13/10).

”Sejak Jumat, 3 Oktober lalu, Bapak memang dirawat di RS Panti Rapih setelah jatuh di rumah. Beliau memiliki riwayat penyakit jantung dan diabetes,” kata putra kedua Bakdi, Krishna Dharma (42), di rumah duka di Jalan Podang, Demangan Baru, Sleman.

Krishna mengatakan, pemakaman ayahnya dilakukan Senin karena menunggu adiknya dari Australia. Sebelum dimakamkan, jenazah Bakdi akan disemayamkan di Balairung UGM untuk mendapat penghormatan dari sivitas akademika UGM.

Bakdi dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, pada 29 Oktober 1941. Dia menikah dengan Nin Bakdi Soemanto dan dianugerahi tiga anak. Sastrawan dengan nama lengkap Christoporus Soebakdi Soemanto itu lulus dari Jurusan Sastra Inggris UGM pada 1978. Dia lalu menjadi Ketua Dewan Kesenian DIY tahun 1979-1989.

Sebelumnya, pada pertengahan 1960-an, Bakdi bekerja di majalah kebudayaan Basis. Sebagai sastrawan, Bakdi aktif menulis cerpen, puisi, dan naskah drama. Dia juga menulis esai, kritik sastra, dan ulasan teater serta menerjemahkan berbagai karya sastra dan naskah teater.

Sebagai akademisi, Bakdi meraih gelar doktor dari UGM pada 2002 dengan penelitian terhadap drama Waiting for Godot karya Samuel Beckett (1906-1989), peraih Nobel Sastra 1969. Dia juga Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Karya Bakdi antara lain kumpulan cerpen Dari Kartu Natal ke Doktor Plimin (1979) dan Mincuk (2004), kumpulan puisi Bibir (2002) dan Kata (2006), serta kumpulan naskah drama Majalah Dinding (2006). Dia juga menerbitkan buku kajian sastra dan teater, seperti Jagat Teater (2001), Rendra: Karya dan Dunianya (2003), dan Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya (2006). Tahun ini, kumpulan cerpennya berjudul Tart di Bulan Hujan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.

Seniman teater Azwar AN menyebut Bakdi sebagai seniman serba bisa. Sebagai akademisi, Bakdi dikenal tekun mengamati karya-karya sastra dan teater para seniman muda. ”Sebagai pengamat kesenian, dia tidak pandang bulu,” kata Azwar.

Bagi sastrawan Iman Budhi Santosa, Bakdi merupakan sosok yang terbuka dan mudah bergaul. ”Dia tak pernah membeda-bedakan teman berdasarkan ideologi atau apa pun. Ideologinya adalah kemanusiaan,” ujarnya.

Sementara itu, di Makassar, Sulawesi Selatan, duka menyelimuti keluarga besar almarhum Jenderal M Jusuf, mantan Panglima ABRI dan tokoh nasional asal Sulawesi Selatan. Kemarin, istri M Jusuf, Elly Saelan, meninggal dalam usia 84 tahun. Sebelumnya, Jumat malam lalu, keponakan M Jusuf, Andi Tenri Gappa, meninggal dalam usia 55 tahun.

Elly yang juga adik mendiang tokoh pejuang kemerdekaan asal Makassar, Emmy Saelan, meninggal di RS Akademis Jaury Jusuf Putera, Makassar, Sabtu pukul 16.20 Wita. Elly meninggal setelah menjalani perawatan selama beberapa bulan terakhir akibat penyakit yang dideritanya.

Elly menyusul suaminya yang wafat tahun 2004. RS Akademis adalah rumah sakit yang dibangun oleh M Jusuf tahun 1962.

——

Antara Kesenian dan Ilmu Pengetahuan

Seno Gumira Ajidarma

Bakdi Soemanto, begitulah ia menuliskan namanya dalam karya cerita pendek. Nama lengkapnya adalah Christoporus Soebakdi Soemanto. Namun, di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, nama ini harus diawali dengan Profesor Doktor (disingkat Prof Dr) karena statusnya sebagai pengajar memang mewajibkannya memasang gelar itu dalam kegiatan akademik.

Ketika lulus S-1 sebagai mahasiswa tua, Bakdi Soemanto, yang sebelumnya sudah lama mengajar, masih menuliskan namanya seperti ketika menulis cerita pendek dan mendapat peringatan birokrat kampus, yang mengatakan bahwa kerendahan hati seperti itu hanya merepotkan karena sekretaris harus berkali-kali pula melakukan koreksi, mengganti kertas, dan seterusnya. Saya ingat cara menceritakannya yang sambil geleng-geleng kepala dan cengengesan tanpa unsur kesombongan sama sekali atas kerendahhatiannya itu.

Humoris yang serius
Dalam cerita pendek ataupun kehidupan sehari-hari, kacamata humor memang merupakan ciri khas Bakdi Soemanto. Jika menceritakan sebuah anekdot, sering Bakdi sudah tertawa geli lebih dahulu sebelum pendengarnya paham apa yang lucu dalam ceritanya itu. Namun, meskipun belum paham, pendengarnya bisa ikut tertawa melihat bagaimana Bakdi sungguh-sungguh geli dengan ceritanya itu!

Pada saat yang sama, Bakdi Soemanto adalah seorang akademisi yang tidak perlu diragukan keseriusannya. Skripsinya tentang John Dryden, penyair dan dramawan dari dunia sastra Inggris, tentu perlu untuk membuktikan penguasaan atas bidang studinya. Namun, tesis dan disertasinya jelas merupakan langkah yang melampaui urusan dalam kelas; yang pertama tentang prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG dengan pendekatan semiotik Roland Barthes (1999); yang kedua perbandingan makna pementasan Waiting for Godot karya Samuel Beckett di Indonesia dan Amerika Serikat dengan rujukan berbagai teori, dari Martin Esslin sampai Wolfgang Iser, yang terakhir ini memberi peran besar pembaca dalam penafsiran. Dalam kedua karya ilmiah yang sudah diterbitkan itu, Bakdi bukan sekadar menggunakan teori siap pakai, melainkan juga seperti menguji seberapa jauh jangkauan teori-teori tersebut.

Perhatian Bakdi terhadap jarak yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan terhadap manusia dapat ditengok dari cerita pendek ”Doktor Plimin” (1978). Dalam cerita ini, Plimin yang telah menjadi doktor ahli komputer lulusan luar negeri melecehkan keris pusaka keluarga yang harus dipakainya dengan pakaian adat meski merupakan pesan dari Mbah. Dengan kata lain, Plimin telah menjadi penyembah logika terbatas yang menempatkan keris sebagai benda tidak berguna, yang tersentak dengan kenyataan bahwa para ahli internasional dalam konferensi yang juga diikutinya justru sedang menggali kembali segenap dimensi pengetahuan dan akar tradisi yang melahirkan keris itu. Ilmu pengetahuan telah membuat Doktor Plimin terasing dari dunianya sendiri.

Sebaliknya, penguasaan Bakdi atas teori-teori ilmiah tampak membuatnya mampu memandang dunia dengan lebih jernih tanpa harus menjadikannya berjarak, melainkan semakin akrab, seperti dapat ditengok dari cerita pendek ”Kompor Gas” (1988). Dalam cerita ini, terdapat nama-nama yang dibentuk oleh zamannya masing-masing, yakni Karta Areng, penjual arang yang mendapat nama dari barang dagangannya tersebut, yang kemudian tersingkir oleh Marta Lenga (lenga = minyak tanah). Pada gilirannya, bahan bakar gas yang menyingkirkan Marta Lenga dari peredaran melahirkan nama Den Harja Gas. Melalui kisah istri narator yang mengganti kompor minyak tanah dengan kompor gas, sebuah fiksi mampu mengungkap konteks sosial ekonomi yang tentu saja begitu cerdas karena penulisnya sangat menguasai pendekatan semiotik!

Kembali ke kampus
Mereka yang membaca buku HB Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai IV (1967), akan menemukan jejak bahwa Bakdi Soemanto pernah menulis puisi. Memang benar, Bakdi harus dicatat juga sebagai penulis cerita yang bagi saya tergolong wajib baca, tetapi sumbangan Bakdi yang penting adalah sebagai penerjemah ataupun yang terutama adalah pengamat teater. Dengan wilayah pengamatan mulai dari ketoprak, wayang orang, sampai teater modern ataupun kontemporer, jasa Bakdi terbukti antara lain dari penghargaan yang diberikan Federasi Teater Indonesia. Analisis dunia lakon Bakdi adalah contoh yang baik dari risalah yang tidak sekadar bermodalkan naluri.

Posisi Bakdi sebagai pengamat teater, dengan nuansa akademik yang kental, kiranya merupakan wacana otobiografis juga jika menengok latar belakang keterlibatannya dalam dunia sandiwara. Dilahirkan di Surakarta pada 1942, suami dari Lana Indrayani dengan tiga anak ini pernah bermain dalam lakon Hamlet dengan sutradara Jasso Winarto pada 1967 di Gedung PPBI Yogyakarta sebagai Laertes ataupun dalam Monserrat dengan sutradara Fred Wibowo. Penting disebut, ikut mendirikan Bengkel Teater pada 1967, dan Rendra tercatat menyebutnya sebagai Penjaga Intelektual Bengkel Teater, mungkin karena kecenderungannya untuk selalu argumentatif jika mengeluarkan pendapat. Azwar AN pernah mengingat, setiap kali latihan olah gerak, Bakdi Soemanto hampir selalu menirukan gaya Semar, dengan telunjuk menunjuk-nunjuk ke udara.

Dunia kesenian yang romantik ini nyaris memutuskannya dari dunia akademik. Pernah merantau ke Jakarta, Bakdi, yang seperti banyak seniman lain ikut menumpang tidur di Balai Budaya, berkisah bahwa nasi yang dijual warung-warung di sekitarnya masih banyak gabahnya. ”Orang seperti Nashar itu, kok ya, betah,” katanya. Ketika saya mengenalnya pada 1975, beliau sudah berada di kampus sebagai asisten dosen yang belum lulus kuliah, tetapi yang hampir selalu dikira sudah jadi dosen. Dalam salah satu perbincangan, Bakdi menyebut kalimat back to campus dengan tekanan nada yang menunjukkan bahwa sebelum itu telah berpikir yang sebaliknya.

Di kampus, ia dikenal sebagai dosen yang sangat menyukai lagu ”Autumn Leaves” (Joseph Kosma/Jacques Prévert), bahkan mampu menyanyikannya dalam bahasa Inggris ataupun Perancis yang merupakan versi aslinya, terutama bagian: ”Since you when away the days grow long… and soon I’ll hear old winter song.” Komentarnya: ”The days grow long itu, kan, ngelangut (rasa kosong yang dalam). Urip krasa suwung (hidup terasa seperti di dunia tanpa penghuni)…. Dahsyat.”

Kata ”dahsyat” bersama ”absurd” memang tercatat sering diucapkannya. Bakdi dikenang para mahasiswanya selalu berjuang agar mereka bisa lulus, baik melalui bimbingan ilmiah maupun secara pribadi mengejar mereka dengan segala cara agar menyelesaikan kuliah. Terhadap saya yang bukan mahasiswanya pun, dan hanya mengenalnya dalam status sebagai pelajar sekolah menengah, Bakdi menghargai saya sebagai lawan bicara yang seolah-olah setara dan tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap bahwa saya sungguh-sungguh masih ingusan. Tidak banyak saya temui orang seperti beliau.

Bakdi Soemanto telah pergi, Sabtu (11/10) dini hari kemarin. Berangkatlah lebih dulu, Mas Bakdi. Kita lanjutkan diskusi kita nanti.

—-

Bakdi Soemanto (1941–2014): Kerja Literasi dan Pesan
Bandung Mawardi

BERMULA dari puisi, Christoporus Soebakdi Soemanto (29 Oktober 1941–11 Oktober 2014) mengajak kita merenungi diri dan kehidupan. Puisi berjudul Gelas (1980) memberi pesan: Terlalu terbatas mata kita/ buat menatap dan mengerti/ yang paling sejati. Kini, Bakdi Soemanto telah menutup mata, meninggalkan dunia sini bergerak ke ’’dunia sana’’. Almarhum bakal menatap kesejatian setelah menjalani hidup dengan pelbagai pengabdian dengan ekspresi puisi, teater, cerpen, dan esai. Profesi Bakdi Soemanto adalah dosen atau akademisi, berperan sebagai penabur ilmu dan merangsang selebrasi literasi.

Di jagat akademik, Bakdi Soemanto adalah profesor dan doktor. Titel itu berbeda dengan kesadaran berbagi kata dan makna melalui kerja literasi. Di kalangan teater dan sastra, Bakdi Soemanto adalah tokoh tekun dalam penggembalaan kata-kata. Hidup bergelimang kata. Persembahan puisi, cerpen, dan esai bermisi ke pembentukan diri beradab, mengacu ke renungan kesejatian melalui pesan dan perlambang. Bersastra dan berteater adalah laku keutamaan, penggenapan dari peran-peran akademik dan keseharian. Bakdi Soemanto memang telah menutup mata, tapi mewariskan ratusan tulisan bagi mata pembaca, dari masa ke masa.

Pewarisan buku menjadi bukti kerja literasi atau agenda semaian berperadaban dengan kata dan makna. Kita mewarisi buku Angan-Angan Budaya Jawa (1999), Jagat Teater (2001), Godot di Amerika dan Indonesia: Suatu Studi Banding (2002), Bibir (2002), Doktor Plimin (2002), Rendra: Karya dan Dunianya (2003), Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya (2006), Belajar Bela Rasa (2011), dan Taar di Bulan Hujan (2014). Di Indonesia, mewariskan buku-buku ibarat pengabdian tak usai meski usia telah berakhir. Buku-buku selalu mengajak kita mengenang almarhum. Membaca dan memberi tafsir adalah bentuk penghormatan. Dulu, Bakdi Soemanto dalam puisi berjudul Tikar (1984) mengisahkan ironi nasib tikar: Kita siap dibakar/ dan tidak tercatat dalam sejarah. Bakdi Soemanto dengan buku pantas mengganti bait itu menjadi: Kita siap dibaca/ dan tercatat dalam sejarah. Buku membuat biografi dan sejarah terus bergerak sampai ke pembaca terakhir saat zaman akhir.

Bakdi Soemanto lahir dan bertumbuh di Solo. Setelah lulus SMA, Bakdi Soemanto melanjutkan kuliah ke UGM, memasuki dunia ilmu pengetahuan dan seni. Di Jogjakarta, Bakdi Soemanto perlahan menjadi penulis ampuh. Kehidupan bersama kalangan akademik dan seniman semakin menguatkan kemauan menekuni kerja literasi, merambah ke pelbagai ekspresi seni. Basis keilmuan pun dipertaruhkan dengan garapan disertasi mengenai naskah Waiting for Godot (Samuel Beckett). Bakdi Soemanto tampil sebagai doktor teater, sosok langka di dunia akademik Indonesia. Bakdi Soemanto hadir di Solo (25 September 2014) untuk berceramah mengenai Waiting for Godot dalam Mimbar Teater Indonesia IV tetap mengabarkan makna teater.

Kita cenderung mengenali Bakdi Soemanto adalah sastrawan. Pengabdian di jagat sastra dimulai puluhan tahun silam. Barangkali latar keluarga memberi pengaruh gairah berkesenian. Bakdi Soemanto lahir dari keluarga aristokrat di Solo, kota dengan kesejarahan seni selama ratusan tahun. Kesadaran bersastra memunculkan konklusi: ’’Sastra bukan rumus fisika, tetapi ia adalah ungkapan kemanusiaan, mengandung jutaan kemungkinan.’’ Bakdi Soemanto berguru pada sastrawan-sastrawan kondang. Para tokoh memberi pesona agar pematangan bersastra terus dijalani meski usia bakal terus menua. Buku kumpulan cerpen dan penulisan buku biografi sastrawan menerangkan kemauan menghadirkan sastra ke publik.

Cerpen tak cuma cerita. Bakdi Soemanto menggarap dan mempersembahkan cerpen untuk bertaruh makna dan kontekstualisasi kehidupan. Sindiran dan pesan dalam cerpen Doktor Plimin (1978) bisa menjadi representasi kepekaan tematik. Bakdi Soemanto berkisah lakon pendidikan, memunculkan tokoh-tokoh ironis berlatar modernisasi di Indonesia. Kota-kota di Indonesia mengalami perubahan karena nalar pembangunanisme. Kota memancarkan ilusi-ilusi. Keberadaan institusi-institusi pendidikan di kota turut mengalami ambiguitas. Para murid dan mahasiswa memang bersekolah dan berkuliah demi mengangankan nasib. Mereka cenderung tergoda alat transportasi modern agar tampil mentereng saat ke sekolah atau kampus. Masa 1970-an, Bakdi Soemanto melihat ada kecanduan sepeda motor di kalangan siswa dan mahasiswa. Mereka mau belajar jika memiliki sepeda motor.

Pesan kritis diajukan melalui perspektif tokoh bernama Doktor Plimin: ’’… ia memuji datangnya motor di negerinya. Motor akan mempersingkat perjalanan. Siswa dan mahasiswa akan bisa menggunakan sisa waktu yang semula habis di jalan untuk belajar lebih suntuk.’’ Kebanggaan diungkapkan berdalih kesuksesan pembangunan di Indonesia. Sepeda motor menjadi lambang kemodernan, kecepatan, pertumbuhan ekonomi, dan kehormatan. Setelah memberi sanjungan, kritik pun diajukan secara kalem: ’’Tetapi apakah dengan kendaraan bermotor siswa dan mahasiswa lantas berprestasi lebih tinggi.’’ Sepeda motor tak menjamin orang menjadi pintar. Di Indonesia, sekolah dan kampus dipenuhi sepeda motor dan mobil. Lahan parkir selalu penuh. Jalanan pun dipaksa menjadi tempat parkir. Di sekolah dan kampus, jutaan orang berpredikat siswa dan mahasiswa tampak sedang ’’memarkir diri’’ tanpa ada kepastian bermisi ilmu dan peradaban.

Cerpen bisa mengabarkan zaman buruk. Bakdi Soemanto dalam cerpen berjudul Tart di Bulan Hujan (2011) memuat sindiran-sindiran telak atas situasi Indonesia. Roti untuk ulang tahun adalah santapan lazim di Indonesia, menggantikan tradisi lawas. Si tokoh bernama Uncok dengan sinis berkata bahwa roti mewah adalah ’’makanan menteri, bupati, wali kota, serta para koruptor’’. Di ujung kalimat, kita menemukan kemarahan pada koruptor. Roti menjadi sasaran permusuhan pada koruptor. Istri Uncok nekat membeli roti berharga mahal demi selebrasi ulang tahun bertabur kasih. Uncok malah melanjutkan kritik berkaitan uang untuk membeli roti dan wabah korupsi: ’’Kita memang mau kiamat. Hakim, jaksa, polisi, pengacara, menteri, anggota DPR nyolong semua.’’ Korupsi telanjur merusak suasana hidup, memicu lara dan luka publik. Emosionalitas Uncok sengaja ditampilkan untuk menguak korupsi di Indonesia.

Bakdi Soemanto telah pergi meninggalkan kita dengan warisan-warisan pesan. Kita bakal mengenang, berbekal tulisan-tulisan mengenali Bakdi Soemanto dan mengerti Indonesia. Kematian mungkin disambut air mata. Kita melanjutkan dengan sambutan ’’air kata’’, mengaliri Indonesia dengan puisi, cerpen, dan esai. Begitu.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan