-->

Komunitas Toggle

14 Tahun Studio Pertunjukan Sastra

 

Pada bulan Oktober 2014  Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta (SPS) sampai pada usianya yang ke-14 (empatbelas). Bekerjasama dengan Radio Boekoe, kali ini dalam acara 14 Tahun Studio Pertunjukan Sastra akan digelar acara Hari Bersastra Yogya #2 sekaligus Bincang-bincang Sastra edisi 109 dengan “Ziarah” pada Jumat, 31 oktober 2014 pukul 19.30 WIB. di Panggung Terbuka halaman Taman Budaya Yogyakarta. Acara ini akan menghadirkan Daru Maheldaswara, Iman Budhi Santosa, Mustofa W. Hasyim, dan Hasta Indriyana yang akan memberi kesaksiannya tentang sastrawan Yogyakarta yang sudah berpulang. Di samping itu, akan tampil Teater JAB, Sanggar Lincak, Agus Sandiko feat. Muzain, dan Kak Arif Rahmanto memanggungkan karya para sastrawan.
Setelah pada ulang tahun ke 13 lalu menggelar acara Hari Bersastra Yogya, kini di ulang tahunnya yang ke 14, SPS kembali dengan Hari Bersastra Yogya #2 mengajak masyarakat sastra Yogyakarta untuk kembali ziarah kepada sastrawan leluhur  Yogyakarta. Di Yogyakarta banyak sastrawan yang telah meninggal dunia, melahirkan karya dan menorehkan jasa-jasanya dalam perkembangan sastra. Meresponse hal tersebut, SPS mewujudkannya dengan membuat buku antologi karya leluhur sastra Indonesia di Yogyakarta dengan harapan kita selaku generasi penerus sastra Yogya dapat kembali mengenal sosok sastrawan Yogyakarta yang sudah mendahului kita dan karya-karyanya.
Astana Kastawa, demikianlah SPS memberikan judul dalam buku antologi sastra yang memuat karya leluhur sastra Indonesia di Yogyakarta ini. Mereka yang karyanya terhimpun dalam antologi ini adalah Angger Jati Wijaya, Arifin C. Noer, Arwan Tuti Artha, B. Soelarto, Bakdi Soemanto, Boedi Ismanto S.A., Dick Hartoko, Endang Susanti Rustamaji, Fahrudin Nasrulloh, Hari Leo AER, Heru Kesawa Murti, Kirdjomuljo, Kuntowijoyo, Linus Suryadi Ag., Mohammad Diponegoro, Motinggo Boesje, Nasjah Jamin, Niesby Sabakingkin, Omi Intan Naomi, Ragil Suwarna Pragolapati, S.H. Mintardja, Subagio Sastrowardoyo, Suryanto Sastroatmojo, Umar Kayam, W.S. Rendra, Y.B. Mangunwijaya, Zainal Arifin Thoha dengan karya berupa puisi, cerpen, esai sastra, nukilan naskah drama, dan nukilan novel. Buku sederhana tersebut semoga dapat menjadi tempat ziarah sekaligus juru kunci sastra Indonesia di Yogyakarta.
Buku tersebut dipersembahkan untuk Hari Leo AER (alm.) penggagas sekaligus pendiri dari Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta dan para almarhum sastrawan Yogyakarta. Kesadaran dan dedikasinya di dunia seni sastra terutama dalam memasyarakatkan sastra ke masyarakat perlu diperjuangkan.
Sebagaimana diketahui, bahwa sastra merupakan identitas suatu negara yang berbudaya. Dengan sastra, manusia mampu menerjemahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi menjadi karya yang indah. Karya sastra telah mencipta nuansa yang menghadirkan suasana-suasana yang layak. Dan, melalui pemanggungan sastra, SPS tidak hanya menghadirkan sastra sebagai teks, namun juga sebagai sebuah pertunjukan (baca: sastra pasca karya). Karya sastra dihadirkan dalam pertunjukan, dalam ekspresi yang lebih  memberikan kesegaran dan gairah tersendiri sehingga sastra hadir dengan beragam ekspresi, respon serta terjemah-terjemah lain yang memikat. SPS memberikan peluang bagi hadirnya tafsir-tafsir baru dalam bentuk pertunjukan dan gelaran sastra tanpa melepaskan semangat sastra, yakni pembaruan.

Latief S. Nugraha, Sekretaris Studio Pertunjukan Sastra.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan