-->

Peristiwa Toggle

Toko Buku “Kalam” Tutup 30 September 2014

JAKARTA — Portal berita daring “Kantor Berita Radio KBR”  portalkbr.com 23 September 2014 mengabarkan terhitung sejak 30 September 2014, Toko Buku “Kalam” resmi ditutup. Toko buku yang berada di Jl Utan Kayu 68H Jakarta Timur itu tutup setelah 17 tahun berdiri.

Toko Buku Kalam merupakan bagian dari Komunitas Utan Kayu, yang juga terdiri dari Teater Utan Kayu, Galeri Lontar, Kedai Tempo, dan Pustaka Utama Grafiti. Supervisor di Toko Buku Kalam Dewi Arumiati Pattiasina mengatakan, setelah sebagian anggota komunitas pindah ke Komunitas Salihara, seperti Teater Utan Kayu, pada awal tahun 2009, hari-hari di Kalam mulai sepi.

“Saya pernah bilang sama Mas Gun (Goenawan Mohammad, red), kenapa nggak toko buku dipindahin ke sana juga? Tapi mungkin karena gedung sudah dipakai untuk Gerai,” cerita Dewi. Gerai merupakan sebuah toko yang menjual berbagai pernak-pernik sekaligus beberapa buku di Komuitas Salihara.

Toko buku ini berdiri pada tahun 1997 dan dikenal karena menjual buku-buku yang dilarang pada masa pemerintahan Soeharto. Menurut Dewi, pada masanya Kalam dikenal sebagai ‘toko buku kiri’.

“Beberapa penulis yang menganggap bukunya kiri akan menaruh bukunya di sini, karena tahu pembacanya ada di sini,” jelas Dewi. Di sini dengan mudah ditemukan buku-buku sejarah tentang komunisme, kritik terhadap Soeharto serta tetralogi Pramoedya Ananta Toer yang di masa Soeharto sempat dilarang dijual.

‘Aku Bangga Jadi PKI’ karya Dr. Ribka Tjiptaning juga merupakan salah satu buku yang dijual di Kalam. Buku yang bercerita tentang kehidupan Ribka sebagai anak dari Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro, seorang anggota Partai Komunis Indonesia ini, sempat dilarang dijual ataupun diterbitkan oleh Wakil Presiden Hamzah Haz pada tahun 2002.

Ketika toko buku ini ramai pengunjung di tahun 2000-an, sekitar 10 sampai 15 orang pengunjung datang setiap harinya. “Mereka biasanya datang mencari buku yang mereka bilang tidak bisa mereka temukan di tempat lain,” kata Dewi. Hingga kini ada sekitar 1000 judul buku yang dijual di Kalam.

Karena buku-buku ini pula, tak sedikit orang tak dikenal yang datang ke Toko Buku Kalam dan mengancam menarik peredaran sejumlah buku. Terjadi beberapa kali sebelum dan sesudah masa reformasi, Dewi bercerita ada beberapa orang yang mengaku mahasiswa ataupun tidak mengaku dari mana, marah-marah dan ingin mengambil paksa beberapa buku.

“Saya bilang, dibaca dulu dong bukunya. Masa ditarik?” tutur Dewi, mengingat kejadian yang terakhir terjadi tahun 2008 itu.

Demikian portalkbr.com mengabarkan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan