-->

Peristiwa Toggle

Sanksi Blacklist Jangan Hambat Distribusi Buku

JAKARTA — Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta sanksi yang diberikan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) kepada penyedia atau percetakan tidak menghambat pengadaan dan distribusi buku ajar kurikulum semester II atau berikutnya. “Perlu diperhatikan, apakah sanksi itu berakibat pada penundaan percetakan buku ajar kurikulum 2013 semester mendatang atau tidak. Ini harus dipikirkan matang-matang,“ kata Koordinator Monitoring dan Pelayanan Publik ICW Febri Hendri di Jakarta, 23/9/2014.

Sebelumnya, LKPP masih enggan membeberkan percetakan pemenang tender yang diberi sanksi terkait dengan keterlambatan distribusi buku ajar kurikulum 2013 ke sekolah-sekolah.

Mereka masih mendalami kasus per kasus percetakan pemenang tender yang diduga bersalah. Jika terbukti bersalah, mereka akan masuk daftar hitam (blacklist) dan tidak mendapat tender mencetak buku ajar untuk semester II.

Menurut Febri, berdasarkan catatan ICW, selama satu semester penyedia harus mencetak 250 juta buku. Sementara itu, kapasitas produksi seluruh perusahaan percetakan hanya 3,1 juta buku per hari. Kapasitas produksi itu dihitung berdasarkan asumsi penyedia percetakan hanya mengerjakan percetakan buku kurikulum dan tidak mengerjakan proyek percetakan yang lain.

“Jadi, jangan sampai sanksi justru akan membuat kapasitas produksinya lebih rendah serta berakibat pada tertundanya pula buku untuk semester dua ke setiap sekolah,“ kata Febri.

Ia pun meminta kepada LKPP untuk mengumumkan 10 percetakan bermasalah dari 30 percetakan atau penyedia yang ditunjuk mencetak buku.

Koordinator Konsorsium PT Intermasa (salah satu penyedia buku ajar kurikulum) Imron Rosadi mempertanyakan rencana sanksi blacklist oleh LKPP. Imron sendiri belum mendengar kabar 10 percetakan yang akan di-blacklist.

“Apa dasarnya percetakan di-blacklist? Apabila penyedia di-blacklist, justru pencetakan buku untuk semester II nanti terancam tidak selesai lagi lantaran pencetaknya berkurang,“ tegas Imron.

Demikian dikabarkan Harian Media Indonesia edisi 24 September 2014.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan