-->

Tokoh Toggle

Peter van Dongen | Penulis Buku Komik Masa Kolonial (Amsterdam)

Harian Media Indonesia edisi 23 September hlm 16 menurunkan profil Peter van Dongen. Inspirasi komikus asal Belanda ini berasal dari cerita dan foto-foto nenek dan kakek buyutnya yang hidup di era itu. Peter mulai berkarya sejak 1990 dengan bukunya Muizentheater serta mengakui besarnya pengaruh Herge (pengarang Tin Tin) dalam karya-karyanya. Selengkapnya ini profil pembuat komik “Rampokan Java dan Rampokan Celebes”:

Peter
Sejarah mencatat 3,5 abad lamanya Belanda dan kolonialisme bercokoldi Indonesia. Fakta tersebut dijabarkan secara rinci di buku pelajaran sekolah sebagai bagian dari cerita heroik merebut kemerdekaan.

Akan tetapi, bagaimana jika sejarah disajikan dalam bentuk komik bernuansa sepia dengan sudut pandang yang berbeda? Tentu akan lebih menarik dan tidak membosankan. Itulah yang dilakukan komikus kelahiran Amsterdam, 21 Oktober 1966, Peter van Dongen. Van Dongen yang memulai kariernya sebagai komikus sejak 1990 ini telah melahirkan komik dalam bahasa Belanda berjudul “Rampokan Java dan Rampokan Celebes”. Komik tersebut saat ini sudah diter bitkan dalam bahasa Indonesia oleh salah satu penerbit dalam negeri.

“Inspirasi ceritanya dari nenek saya dan kakek buyut saya yang hidup di era itu. Nenek saya suka menceritakan kepada saya kisah-kisah mengenai Indonesia dan foto-foto berlatar Sulawesi dan Jawa di era 1946,“ ungkap Dongen.

Dongen yang gemar menggambar sejak masih kecil ini mengakui bahwa ia sangat tertarik pada kisah-kisah era kolonial dari neneknya yang berdarah peranakan dan ting gal di Sulawesi. Bahkan, kakek buyutnya terbunuh oleh tentara Jawa dalam sebuah pemberontakan di era tersebut.

“Cerita yang saya tulis dalam “Rampokan Java dan Rampokan Celebes” merupakan fiksi, tapi berdasarkan kisah nyata,“ ujar pria bermata biru ini.

Kisah dalam Rampokan Java dan Rampokan Selebes meng ambil latar di Jawa dan Makassar pada 1946, ketika pemerin tah kolonial Belanda kembali ke Indonesia untuk mengambil alih kekuasaan, setelah kepergian Jepang dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Kisah tersebut bertumpu pada seorang tokoh utama yang merupakan relawan Belanda bernama John Knevel yang da lam perjalanan menuju Jawa secara tidak sengaja membunuh Erik Verhagen, seorang komunis Belanda, di atas kapal.Akibatnya, ia terus dihantui perasaan bersalah dan merasa dihantui arwah rekannya tersebut.

John rupanya datang ke Indonesia dengan motivasi untuk menemukan kembali surga masa kecilnya bersama pengasuhnya semasa kecil yang bernama Ninih. Demikian familiernya Dongen dengan situasi di Indonesia, “Rampokan Java” dan “Rampokan Celebes” menggambarkan dengan jelas situasi Tanjung Priok, Makassar, dan Bandung, dalam berba gai peristiwa. “Tahun 2004 saya ke Indonesia untuk melakukan survei, sebagai turis saja. Saya ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar untuk orientasi,“ tutur dia.

Ia menyadari setelah 60 tahun lebih berlalu, Indonesia memang mengalami banyak perubahan. Kendati begitu, Dongen menyaji kan gambaran sejarah yang dapat dinikmati penggemar komik dan sejarah mengenai Indonesia tempo dulu.

Cinta Indonesia

Membuat dua komik berlatar Indonesia belum memenuhi hasrat Van Dongen menggali khazanah budaya Indonesia. Dalam proyek mendatang, ia masih berencana membuat cerita berlatar Indonesia dengan rekannya. Proyek tersebut saat ini tengah digarap olehnya di sela kesibukannya menjadi pembicara dan komikus lepas. Saat ditanya mengenai motivasinya membuat banyak karya seputar Indonesia, Van Dongen dengan lugas mengungkap bahwa Indonesia sudah menjadi rumah baginya.

“Cuacanya yang hangat saya sangat suka. Banyak orang mengeluhkan kemacetan dan polusi, tapi buat saya itu tidak masalah. Tempat ini seperti rumah bagi saya,“ kata Dongen. Ia juga menegaskan kejadian yang menimpa kakek buyutnya dan kisah mengenai pemberontakan tentara Jawa di masa kolonial tidak berpengaruh pada cara pandangnya terhadap Indonesia. “Sudah 60 tahun lebih. Sekarang saya bisa tinggal di sini dengan aman. Warga negara Indonesia pun sangat ramah pada saya,” tukas komikus bertangan kidal ini.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan