-->

Peristiwa Toggle

Pembukaan Arsip 1965 Sembuhkan Luka Sejarah

JAKARTA — Pembukaan dokumen-dokumen rahasia peristiwa 1965 sangat penting bagi penyembuhan ”luka-luka” bangsa. Sudah saatnya bangsa Indonesia bersikap terbuka terhadap sejarahnya sendiri.

”Luka-luka itu harus disembuhkan dengan melakukan rekonsiliasi terhadap masa lalu. Pembukaan arsip-arsip rahasia ini adalah cara mengakui bahwa ada luka yang harus disembuhkan bersama,” ujar sejarawan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Baskara T Wardaya SJ, Senin (1/9).

Pembukaan dokumen-dokumen rahasia peristiwa 1965 di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) selama ini terkendala alasan-alasan politis.

Baskara menilai, pemerintah khawatir pengungkapan arsip ini akan menguak rahasia pihak-pihak tertentu. ”Peristiwa ini sudah hampir 50 tahun berlalu. Sudah saatnya masyarakat Indonesia bersikap terbuka terhadap sejarahnya sendiri,” ujarnya.

Selama ini, akademisi dan masyarakat kesulitan mencari data terkait peristiwa 1965 karena dokumen-dokumennya masih tersimpan rapat di ANRI. Mereka akhirnya mencari jalan lain dengan mewawancarai para saksi hidup atau mencari dokumen- dokumen aslinya di luar negeri.

”Saya justru bisa membuka dokumen-dokumen peristiwa 1965 di Perpustakaan Negara Amerika Serikat. Meskipun bukan warga negara, saya bisa melihatnya di sana. Negara-negara lain ternyata juga menyimpan data peristiwa penting di Indonesia,” kata Baskara.

Ia berpendapat, langkah pembukaan arsip 1965 bisa dimulai lewat penelitian-penelitian akademis. Jika belum bisa diungkap sepenuhnya, pembukaan arsip dilakukan secara bertahap.

Kepala ANRI Mustari Irawan mengungkapkan, pihaknya kini mengakomodasi masukan-masukan dari pihak yang pro ataupun kontra terhadap pembukaan arsip peristiwa 1965 yang berkaitan dengan data Partai Komunis Indonesia, termasuk gerakan pembasmiannya di Indonesia.

”Sebagai memori kolektif bangsa, tentu saja arsip harus dimanfaatkan masyarakat. Kami masih menunggu kebijakan presiden baru, apakah nantinya arsip ini bisa segera dibuka atau tidak,” ungkapnya.

Direktur Institut Sejarah Sosial Indonesia Hilmar Farid menambahkan, yang dibutuhkan sekarang adalah keputusan politik untuk mengurus masa lalu ini secara bijaksana. ”Cara-cara pembatasan seperti ini, menurut saya, bukan langkah yang bijaksana. Pembukaan dokumen bisa dilakukan secara terpimpin lewat universitas-universitas,” ujarnya.
Perspektif korban

Di samping itu, sejarah di Indonesia masih membutuhkan perspektif korban. Pengumpulan informasi sebanyak mungkin dari korban akan memberikan perspektif sejarah yang lebih menyeluruh untuk melihat konteksnya.

”Video dan buku memoar para korban peristiwa jika digarap akan melengkapi perspektif sejarah,” kata sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam.

Asvi mengatakan, peristiwa tahun 1965 dan 1998 mengakibatkan jatuhnya para korban. Ini menjadi peristiwa sejarah Indonesia yang belum sepenuhnya dapat dibuka. ”Sebagian informasi dari para korban memang sudah dijadikan seperti buku memoar atau video. Semakin banyak informasi korban, akan makin melengkapi,” ungkap Asvi.

Membuka lembaran sejarah secara faktual dari berbagai perspektif dapat ditujukan guna menciptakan pemahaman untuk solusi dan perspektif yang positif. Ini seperti diupayakan Aliansi Peradaban Perserikatan Bangsa- Bangsa, menggandeng perusahaan otomotif BMW, yang menyelenggarakan Intercultural Innovation Award (IIA) Ketiga yang diadakan di Bali, pekan lalu.

”Tujuan penghargaan IIA agar upaya pemahaman mendorong solusi dan perspektif positif itu bisa direplikasi seperti di Indonesia,” ujar Jodie O’tania, Corporate Communications Department BMW Group Indonesia.

Penerima peringkat pertama penghargaan IIA Ketiga adalah organisasi nirlaba Pusat Riset Pasca Konflik Bosnia-Herzegovina. Organisasi ini memberikan perspektif lain yang melengkapi sejarah pernah terjadinya konflik antaretnis.

Demikian Harian Kompas 2 September 2014 mengabarkan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan