-->

Tokoh Toggle

Patmi Yati | Mengajak Anak Bercerita | Samarinda

Harian Kompas edisi 19 September 2014 menurunkan ulasan sosok berprestasi di bidang pendidikan anak berusia dini. Perkenalkan, Patmi Yati dari Samarinda. Ia adalah yang gigih mengajar dan menuliskan buku untuk si belia.

————

Patmi Yati, Mengajak Anak Bercerita_Buku, PendidikanBERAWAL dari kegemaran menulis dan membaca, Patmi Yati (42) mengajak anak didiknya untuk berkisah. Cerita itu lalu ditulis ulang dan dicetak menjadi buku bacaan anak-anak. Selama 14 tahun, Patmi hidup bersama imajinasi anak-anak yang penuh warna.

Patmi adalah Kepala Taman Kanak-kanak Islam Kreatif Salsabila di Samarinda, Kalimantan Timur. Dia mengelola lembaga itu secara mandiri dan kreatif. Kiprahnya itu membawa dia mendapatkan penghargaan sebagai Kepala Taman Kanak-kanak Berprestasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketika ditemui di Jakarta seusai menerima penghargaan, Agustus lalu, dia membacakan cerita dari salah satu muridnya yang berusia lima tahun. Cerita itu diterbitkan dalam buku berjudul Bercerita Itu Asyikk…!!.

”Di suatu pulau ada banyak orang yang mau pergi ke masa lalu. Mereka membawa segala peralatan masuk ke dalam kapal. Mereka pergi dengan senang. Mereka naik kapal lama sekali. Tidak kembali-kembali…,” ceritanya.

”Ketika mendengar murid bercerita, saya deg-degan. Ceritanya mendebarkan,” kata Patmi yang mulai mengajak anak-anak bercerita sejak tahun 2000.

Sebelum mengajak bercerita, dia membawa anak-anak mengunjungi tempat-tempat menarik, seperti kantor pemadam kebakaran, toko buku, taman, ataupun tempat bermain. Setelah itu, dia meminta mereka menceritakan ulang apa yang mereka lihat atau rasakan.

”Teknik berceritanya seperti mengobrol. Sesekali saya memberikan pertanyaan, tidak seperti presentasi,” ujarnya.

Untuk anak-anak yang enggan bercerita di kelas, dia meminta orangtua merekam cerita di rumah. ”Ada anak yang bercerita soal ibunya yang gendut, tetapi cantik dan baik hati. Bagi si anak, ibunya itu luar biasa,” katanya.

Cerita lain yang membuat dia terkesan adalah cita-cita murid yang ingin menjadi guru. Alasan si murid adalah karena senang menerima nasihat-nasihat yang diberikan Patmi saat mereka makan kacang bersama.

”Anak-anak merekam semua kegiatan sederhana yang bermakna. Jadi, guru harus menyusun metode kegiatan bemain dan belajar yang bermakna. Kegiatan itu menyimulasi otak dan membekas di hati anak,” ujar Patmi.

Sekitar 14 tahun lalu, untuk pertama kali dia mencetak buku cerita anak-anak. Lembar buku itu berupa hasil fotokopi dan dijilid spiral, lalu dia bagikan kepada murid saat kenaikan kelas. Meski sederhana, anak-anak bangga kepada buku yang berisi karya mereka itu.
Tak menyesal

Sebelum menjadi guru, Patmi adalah akuntan di sebuah lembaga keuangan di Kalimantan Timur. Kesibukan pekerjaan membuat dia ingin beralih profesi. Tahun 1997, dia mengisi lowongan menjadi guru taman kanak-kanak (TK). Pilihan menjadi guru TK membuat pendapatannya turun drastis, dari Rp 250.000 per bulan menjadi Rp 30.000 per bulan.

”Ibu saya sampai bertanya, apakah saya tidak menyesal?” ceritanya.

Kebahagiaan menjadi guru TK membuatnya bertahan. ”Saya bisa menciptakan tarian, menulis buku, menyusun naskah drama, dan melukis. Menjadi guru TK membuat saya mengenal diri sendiri secara lebih baik,” ujarnya.

Pada 2003, selain mengajar di TK Bunayya, Kalimantan Timur, Patmi membuat kelompok bermain anak usia dini. Dia memanfaatkan ruang tamu di rumah ibunya berukuran 8 meter x 12,5 meter untuk mengajar. Murid pertamanya 15 orang. Tahun kedua, muridnya bertambah menjadi 30 orang. Namun, memasuki tahun ketiga, dia hanya mempunyai enam murid.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan usia dini yang belum merata di masyarakat membuat jumlah muridnya berkurang. Atas bantuan orangtua murid yang bertahan, Patmi membiayai 18 anak agar kembali belajar. Kini, kelompok bermain itu berkembang menjadi TK Islam Kreatif Salsabila.

Sejak awal membuka kelompok bermain, ia bertekad menumbuhkan kreativitas anak lewat pendidikan berkualitas. Dia menekankan sistem pengajaran kreatif dengan bermain dan belajar di dalam dan luar kelas. Mengajak anak bercerita adalah salah satu metode pendidikan yang ia terapkan kepada 60 murid.

Bagi Patmi, proses bercerita adalah metode pendidikan yang bisa mengasah kepekaan sosial dan menumbuhkan kecerdasan kognitif anak. Mereka juga belajar percaya diri dan berimajinasi.
Kebanjiran

Tahun 2012, TK Islam Kreatif Salsabila rusak karena banjir yang datang tiga kali setahun. Tembok dan lantainya rusak parah. Untuk biaya perbaikan, Patmi dan anggota komite sekolah menjual kerupuk dan kalender. ”Saat itu, tercetus ide menjual buku cerita anak-anak untuk memperbaiki sekolah,” ujarnya.

Dia bekerja sama dengan orangtua murid dan sejumlah donatur untuk menerbitkan buku layak jual. Orangtua murid membantu dia mencari dana dengan merancang sampul dan ilustrasinya. Buku itu dicetak di Surabaya, Jawa Timur, karena di daerahnya tak ada percetakan buku.

Biaya cetak buku Rp 6 juta dia dapatkan dari donatur. Buku itu diterbitkan sebanyak 300 eksemplar, lalu dijual di toko-toko buku dan digunakan sebagai lampiran proposal permohonan bantuan dana perbaikan sekolah.

”Saat bertemu donatur, saya tunjukkan buku cerita anak-anak. Buku itu membuat mereka percaya pada kualitas sekolah kami dan mau menyumbang,” katanya.

Berkat kepercayaan itu, Patmi pun mendapatkan pinjaman uang Rp 110 juta untuk pembangunan sekolah. Selama tiga tahun, dia mengangsur Rp 3 juta per bulan. Kini, bangunan sekolah hampir selesai. Lantai pertama untuk kelas belajar dan bermain, serta lantai kedua untuk perpustakaan.

Dia juga menyusun buku kumpulan cerita siswa SD dan SMP yang dihimpun lewat komunitas menulis Rumah Kreatif Salsabila. Komunitas itu dia dirikan tahun 2012. Atas bantuan sastrawan Kalimantan Timur, Syafruddin Pernyata, buku itu diterbitkan penerbit Pustaka Spirit.

Idenya menerbitkan buku bacaan anak menginspirasi guru lain melakukan hal serupa. Patmi menerima permintaan menjadi editor buku dari sejumlah SD dan SMP di Kalimantan Timur. Dia juga sedang menyusun buku cerita yang ditulis guru-guru TK. ”Saya sedang penjajakan kerja sama dengan penerbit nasional, semoga segera terwujud,” katanya.

Bagi Patmi, menjadi pendidik adalah panggilan hidup. Dia pernah mencoba berhenti, tetapi profesi guru kembali memanggilnya. ”Saya ingin menjadi pendidik sampai habis usia…,” ujarnya bertekad.

Biodata Ringkas PATMI YATI

  • Lahir: Samarinda, Kalimantan Timur, 24 September 1972
  • Suami:  Hesti Priyambodo
  • Anak: Amanuloh Teguh (16) | Diah Qonita Puspita Ningdinnie (14) | Shabrina Ghina Alimah (11)
  • Pendidikan: SMPN 1 Samarinda | SMAN 1 Samarinda | D-3 Akuntansi, lulus 1993 | S-1  Pendidikan Guru PAUD Universitas Terbuka,  2008
  • Karier: Staf keuangan Ikatan Cendekiawan Muslim Kalimantan Timur, 1996 |Guru TK Islam Al Kautsar, 1996–2000 | Guru TK Islam Bunayya, 2000–2010 | Guru dan Kepala Sekolah TK Islam Kreatif Salsabila, 2003–kini
  • Penghargaan:  Guru Berjasa tingkat Provinsi Kalimantan Timur, 2013 | Pengelola PAUD Berdedikasi tingkat provinsi dalam Edukasi  Kaltim Award, 2013 | Kepala TK Berprestasi tingkat nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014
  • Buku: Delapan buku cerita anak-anak TK, antara lain ”Indahnya Pelangi Ceritaku” (2013), ”Bercerita Itu Asyikk…!!” (2014), Karena Rumah Itu Surga, 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan