-->

Peristiwa Toggle

Papua Kekurangan Buku Kurikulum 2013

JAYAPURA — Hanya 3 dari 29 kabupaten di Provinsi Papua yang telah menerima buku pelajaran SD dan SMP berbasis Kurikulum 2013. Ketiga wilayah yang sudah menerima buku itu ialah Supiori, Biak Numfor, dan Mimika. Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua, sebagian kabupaten baru menerima buku Kurikulum 2013 untuk murid SMP. Bahkan, sebanyak 15 kabupaten di wilayah Pengunungan Tengah belum mendapat buku pelajaran Kurikulum 2013. Padahal, jumlah siswa di 15 wilayah itu mencapai 70 persen dari total jumlah murid di Papua, yakni 510.848 murid SD dan SMP.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Alo Jopen mengatakan, keterlambatan distribusi ke 26 wilayah lainnya karena biaya pengiriman per buku yang ditetapkan pemerintah pusat sangat kecil.

”Biaya pencetakan dan pengiriman yang ditetapkan ke Papua Rp 8.000 hingga Rp 15.000 per buku. Harga itu tak masuk akal. Biaya pengiriman ke daerah pedalaman sudah melebihi Rp 80.000 per buku karena sulitnya kondisi geografis,” papar Alo di Kota Jayapura, Minggu (21/9).

Dia mengatakan, pemerintah pusat mengirimkan dana Rp 14 miliar untuk membayar biaya distribusi buku ke 29 wilayah di Papua. ”Berdasarkan perhitungan kami, jumlah itu tidak akan dapat menutupi biaya distribusi buku ke daerah-daerah pedalaman yang hanya bisa ditempuh dengan pesawat dan berjalan kaki,” tutur Alo. Dia berharap pemerintah menambah anggaran biaya distribusi dan menggunakan BUMD Percetakan Rakyat Papua untuk mencetak buku khusus bagi murid Papua.

Modul literasi
Masih terkait Kurikulum 2013, The United States Agency for International Development bersama 16 Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan di Indonesia mengembangkan modul khusus literasi guna memperkuat kemampuan sekolah mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran. Program itu dinamai Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers (Prioritas).

”Modul didesain lebih praktis sehingga mudah digunakan oleh guru,” kata Spesialis Pengembangan LPTK USAID Prioritas, Ajar Budi Kuncoro, pekan lalu.

Guru Besar Universitas Negeri Makassar Patta Bundu mengatakan, literasi tidak hanya berhubungan dengan bahasa Indonesia, tetapi juga mata pelajaran lain. Dalam pelajaran IPA, misalnya, konsep dikuasai dengan cara membaca. Demikian Harian Kompas edisi 22 September 2014 mengabarkan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan