-->

Tokoh Toggle

Nursida Syam | Klub Baca Perempuan NTB

Harian Media Indonesia edisi 2 September 2014 menurunkan profil Nursida Syam, pendiri Sekolah Alam Anak Negeri dan Klub Baca Perempuan NTB. Bagi Nursida Syam, membaca bukan hanya mencerdaskan diri sendiri, melainkan juga bangsa ini. Berikut liputan RICHALDO HARIANDJA selengkapnya:Nursida Syam

MEMBACA merupakan hak semua orang, bukan hanya kaum-kaum terpela jar. Bukan hanya anakanak saja, melainkan orangtua pun wajib membaca agar bisa sama-sama berpetualang bersama anak lewat membaca. Hal itulah yang menjadi pola pikir dari Nursyida Syam, 35.

Perempuan yang akrab disapa Ida itu merupakan pelopor gerakan membaca di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Ia berhasil mendirikan Klub Baca Perempuan dan taman baca untuk masyarakat Lombok Utara, khususnya kaum urban, sejak 2007.

Ida memulai gerakan itu bersama empat orang ibu rumah tangga, Vita, Cicik, Nining, dan Eka. Mereka memiliki satu kebiasaan, yaitu berkumpul untuk membaca dan membahas sebuah buku setiap malam.

“Waktu itu yang sedang booming ialah novel Laskar Pelangi, kami berempat berkumpul tiap malam seperti orang pacaran,“ kenang Ida saat ditemui Media Indonesia di Grand Studio Metro TV, Jakarta, di acara penganugerahan Indihome Women Awards, Jumat (25/4).

Gerakan itu awalnya untuk mendorong masyarakat sekitar rumahnya menjadi sahabat buku. Setelah itu, meningkat menjadi keluarga membaca, yang memiliki jam khusus membaca di keluarga.

Segala cara Ida lakukan dalam menyebarkan kebiasaan baik itu, mulai dari kampanye ke sekolah-sekolah hingga ke ruang publik yang bisa dimasukinya. Upayanya tidak sia-sia, ia bisa mendirikan 12 taman baca baik di rumah penduduk, wihara, maupun musala.

“Bahkan di 2013 saya berhasil mengampanyekan gemar membaca di Kabupaten Lombok Utara, dan ada nota kesepahaman yang ditandatangani bersama pemda di sana,“ ujar Ida.

Nota kesepahaman yang ditandatangani oleh Bupati Lombok Utara dan sekretaris daerah kabupaten Lombok Utara itu merupakan tonggak perubahan. Tidak semata di kabupaten itu, tapi menyebar ke Kabupaten Lombok Utara.Kini di sekolah-sekolah ada jam khusus yang disediakan untuk membaca. Mengubah pola pikir Apa yang dilakukan Ida tidak hanya mengubah kebiasaan, tapi juga pola pikir masyarakat Kabupaten Lombok Utara. Di Lombok Utara, tidak sedikit masyarakat yang pergi menjadi tenaga kerja luar negeri untuk mencari penghidupan.

“Lewat membaca, mereka akhirnya paham bahwa tidak perlu ke luar negeri, menjadi kaya lewat membaca pun bisa, karena membaca menambah wawasan,“ ujar Ida.

Ida yang tahun ini berencana me nambah lima taman baca di Lombok Utara, sekarang bangga terhadap masyarakatnya, karena tidak hanya anak-anak yang gemar membaca, tapi juga para orang tua yang kesehariannya berprofesi sebagai nelayan, petani, dan pedagang sayur.

“Semuanya memiliki jam membaca pribadi,“ papar Ida.

Ida percaya kunci segala permasalahan ialah dengan membaca, baik itu ekonomi, kemiskinan, diskriminasi, dan pengangguran. Karena itulah, dia bekerja keras untuk menanamkan minat baca bagi orang-orang di sekitar.

Apa yang dikerjakan Ida tidak langsung berhasil. Banyak yang sempat memandang aneh apa yang dilakukannya. Terutama tahun itu merupakan tahun pemilihan legislatif, sehingga tak jarang orang beranggapan Ida sedang menggalang suara untuk mencalonkan diri sebagai caleg.

“Setelah terbukti saya tidak nyaleg, masih saja ada yang beranggapan bahwa saya mencari sensasi agar terpilih sebagai bupati,“ terang Ida sambil tertawa geli.Sekolah Alam Tidak hanya membaca, bersama suaminya, Badrul Islam, Ida juga membentuk kelas kreativitas untuk anak-anak di Kabupaten Lombok Utara. Salah satunya ialah kelas kamera lubang jarum.

Apa yang dilakukan Ida dan suami ialah upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kreativitas anak-anak di Kabupaten Lombok Utara agar dapat bersaing dengan orang-orang asing.

Sekolah Alam yang didirikan pada 2011 itu bertempat di taman baca dari Klub Baca Perempuan yang tersebar di Kabupaten Lombok Utara, sehingga tidak terlalu sulit untuk ditemukan, meskipun banyak permintaan untuk mendirikan kelas tersebut di tempattempat lain.

“Banyak keterbatasan, tapi kami lebih memilih untuk mengoptimalkan yang ada,“ ujar Ida.

Bukan hanya kelas kreativitas, Ida sendiri pernah mengajak tenaga profesional seperti pilot, dokter, maupun pramugari berperan serta dalam kelas inspiratif yang didirikannya di Sekolah Alam. Tujuannya agar anak-anak yang dari kecil sudah memiliki sebuah citacita dapat mengerti benar bagaimana jalan yang harus dilalui menuju ke profesi impian mereka.

“Gambaran tersebut agar mereka dapat mantap memutuskan dan memikirkan langkah mereka,“ pungkas Ida.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan