-->

Peristiwa Toggle

Hamid Muhammad: Penghapusan Buta Aksara Lampaui Target

KENDARI — USAHA untuk mengurangi angka buta aksara diklaim melebihi target. Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 menargetkan sisa buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas sebesar 4,2% (6,4 juta orang). Namun, pada September 2014, angka buta aksara itu sudah turun menjadi 3,86% (6,17 juta orang). “Diperkirakan, pada akhir 2014 nanti angka buta aksara tinggal 3,94% saja atau sekitar 6,28 juta orang,“ ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendi dikan dan Kebudayaan, Hamid Muhammad, di acara puncak peringatan Hari Aksara Internasional di Alun-Alun Tugu Persatuan, Kendari, Sulawesi Tenggara (21/9/2014).

Meski begitu, diakui Hamid, masih ada 2 provinsi dengan persentase buta aksara di atas 10% dan 7 provinsi dengan jumlah penyandang buta aksara di atas 200 ribu orang. Kebanyakan penduduk niraksara itu merupakan perempuan, yakni sekitar 4,1 juta orang. Untuk mengatasi persoalan tersebut, berbagai program yang berpihak pada perempuan marginal akan terus digencarkan.

Pada kesempatan itu, Hamid juga mengungkapkan Indonesia bersama Republik Rakyat Tiongkok dan Meksiko menjadi tiga dari sembilan negara berpenduduk besar yang dinilai memiliki capaian di bidang keaksaraan dan akses pendidikan paling pesat. “Indonesia memperoleh penghargaan Aksara King Sejong dari UNESCO pada 2012.” Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi salah satu contoh yang baik. Meski 70% areanya terpencil, provinsi itu memiliki angka melek aksara hingga 96%. “Ini berkat keseriusan kami menjalankan program wajib belajar 12 tahun, pendidikan gratis, pemberian insentif guru, juga peningkatan kompetensi guru,” ujar Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam.

Pada kesempatan sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh mengungkapkan pendidikan merupakan kunci mengatasi tiga penyakit sosial, yakni kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan peradaban. “Tidak ada pisau yang lebih tajam untuk memutus rantai tiga penyakit itu kecuali pendidikan,” tegasnya.

Demikian dikabarkan Harian Media Indonesia edisi 21 September 2014.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan