-->

Peristiwa Toggle

Festival TBM: Dari Buku Bacaan Menjadi Praktik Nyata

KENDARI — Taman bacaan masyarakat, yang semula untuk merawat minat baca warga yang telah bebas dari buta aksara, kini berkembang pesat. Taman bacaan tumbuh di kota besar hingga pelosok dengan ragam kreativitas untuk menghidupkan kecintaan pada literasi. Tak hanya tempat membaca, warga dapat belajar teknologi informasi, bahasa asing, bahkan membuat pupuk di taman bacaan.

Perkembangan dan keragaman aktivitas literasi yang digagas pegiat literasi dari berbagai penjuru di Tanah Air itu dirayakan lewat Festival Taman Bacaan Masyarakat (TBM) 2014 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Pembukaan festival yang dihadiri lebih dari 150 pegiat TBM itu dimulai pada Kamis (18/9) hingga puncak perayaan Hari Aksara Internasional ke-49 pada Sabtu, 20 September 2014.

TBM Mata Aksara di Yogyakarta, misalnya, mengembangkan program praktik buku. Buku keterampilan yang ada di TBM untuk anak-anak hingga orang dewasa menjadi sumber pengetahuan yang bisa dipraktikkan dan menghasilkan uang. Salah satunya, pembuatan pupuk organik. Pembuatan pupuk itu dipelajari dari buku keterampilan dan mulai dipraktikkan petani salak dengan pendampingan TBM Mata Aksara.

”Buku tidak lagi membosankan, tetapi sahabat yang memberi pengetahuan,” kata Ketua TBM Mata Aksara Heni Wardatur Rohmah.

Lain lagi kegiatan Sanggar Anak Tangguh di Gianyar, Bali. Pendiri Sanggar Anak Tangguh, I Komang Adhiarta, mengatakan, sanggar itu dihadirkan para pemuda lokal guna membantu anak-anak Desa Guwang mendapatkan pendidikan. Kegiatan di sanggar membekali anak-anak desa untuk belajar bahasa Inggris, menggambar, dan bimbingan belajar. Kegiatan disediakan gratis dengan bantuan relawan, bahkan oleh turis asing yang berwisata ke Bali.
Gerakan Literasi

Ketua Umum Pengurus Pusat Forum TBM Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong mengatakan, perkembangan TBM pesat setelah tahun 2005. Pegiat literasi di TBM mendukung upaya pemerintah agar warga yang bebas buta aksara terpelihara kemampuannya membaca. ”Kami dorong untuk berkembang dengan penulisan, seperti novel, puisi, cerita sukses, atau modul,” ujar Gol A Gong yang juga dikenal sebagai penulis novel.

Menurut Gol A Gong, penyelenggaraan Festival TBM ke-3 dengan dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu merupakan upaya untuk menggaungkan gerakan literasi. Pada Festival TBM itu, masyarakat dapat melihat beragam kegiatan yang berkembang di TBM. Selain kegiatan membaca, ada pula menulis, menerbitkan buku, mendongeng, serta melatih keterampilan dan kewirausahaan.

Pada pembukaan festival, Gol A Gong menyerahkan sejumlah buku karya pegiat TBM kepada Wartanto selaku Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tenggara Damsid turut menyaksikan.

Wartanto mengatakan, peran TBM kini berkembang sebagai sarana memberdayakan masyarakat yang gemar belajar, menguasai teknologi informasi dan komunikasi, serta memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi. ”TBM juga mulai hadir di ruang-ruang publik, seperti rumah sakit,” ujar Wartanto.

Demikian Harian Kompas edisi 19 September 2014 mengabarkan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan