-->

Peristiwa Toggle

Diriset, 125 Naskah Cerita Tiongkok Beraksara Jawa

JAKARTA — Sebanyak 125 naskah cerita kepahlawanan tokoh Tiongkok masa lalu ditemukan ditulis menggunakan aksara bahasa Jawa. Hal ini diriset Dwi Woro Retno Mastuti, dosen Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. ”Setiap naskah itu memiliki tebal 500-800 halaman dengan tahun yang tercatat paling tua 1856. Dari sebanyak 125 naskah yang saya temukan, universitas kami mengoleksi 19 naskah, lainnya tersebar di beberapa museum di Yogyakarta, Solo, Leiden (Belanda), dan Berlin (Jerman),” kata Dwi Woro, Rabu (24/9), di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat.

Naskah-naskah tersebut anonim, tidak disebutkan siapa penulisnya. Bahkan, rata-rata naskah tak memiliki cantuman tempat dan tanggal penulisan.

Dwi Woro meriset naskah Tiongkok Jawa sejak 10 tahun terakhir. Hasil risetnya itu nanti digunakan untuk bahan penyusunan disertasi gelar doktoral.

”Dari naskah-naskah itu saya menjadi mengerti kisah-kisah yang dimainkan di dalam wayang potehi,” kata Dwi Woro.

Karya-karya sastra kuno itu berhasil dikembangkan menjadi kisah menarik di dalam dunia pewayangan, terutama wayang potehi. Namun, selama ini wayang potehi masih menjadi kajian yang marjinal. ”Kisah para punakawan di dalam pewayangan Jawa juga dikembangkan dari karya sastra kuno yang cukup lama pada masa Kerajaan Kanjuruhan abad VIII-IX, di Malang,
Jawa Timur. Kemudian dikembangkan sampai akhir Kerajaan Majapahit abad XIII-XIV,” ujar Darmoko, dosen Pusat Studi Jawa Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya UI.

Menurut Darmoko, pewayangan di Indonesia merupakan bagian dari kejeniusan lokal. Induk ceritanya dimungkinkan dari negara lain, tetapi adaptasinya tidak kalah menarik.

Demikian Harian Kompas edisi 25 September 2014 memberitakan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan