-->

Peristiwa Toggle

Bahasa Indonesia Terpinggirkan di Pusat Perbelanjaan

JAKARTA — Pandangan masyarakat yang menyepelekan bahasa Indonesia membuat kondisi bahasa nasional memprihatinkan. Padahal, fungsi utama bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga penghantar nilai-nilai kebudayaan. ”Jati diri bangsa diwariskan ke generasi penerus melalui bahasa. Dalam berbahasa, orang tidak hanya belajar kosakata, tetapi juga gestur dan makna sosial,” kata ahli bahasa Indonesia, Dendy Sugono, di Jakarta, Sabtu (20/9).

Jika orang Indonesia tak sungguh-sungguh mempelajari bahasa mereka, banyak norma sosial yang tak sampai secara sempurna. Akibatnya, terjadi salah kaprah dalam mempraktikkan nilai budaya.

Permasalahan terletak pada penggunaan yang tidak konsisten. Dendy berpendapat, orang Indonesia merasa hebat ketika menggunakan bahasa asing. Banyak kata asing diserap sekadarnya meski sudah ada padanan bahasa Indonesia yang cocok dengan gagasan yang dibicarakan.

Di tempat-tempat tertentu, penggunaan bahasa Indonesia justru digeser oleh bahasa asing. Contohnya, iklan-iklan di pusat perbelanjaan yang menggunakan bahasa asing. ”Padahal, di negara-negara lain, iklan ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa nasional dan bahasa asing. Kenapa di Indonesia tidak bisa demikian?” ujar Dendy.

Dia mengungkapkan, jika orang Indonesia mempelajari bahasa asing tanpa memiliki pengertian lengkap atas bahasa nasional, akan terjadi ketimpangan budaya dan campur aduk norma. Identitas bangsa pun tidak jelas.

Penutur bahasa Indonesia mencakup Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei. Hal itu membuat bahasa Indonesia merupakan bahasa dengan pengguna terbanyak nomor lima di dunia.

Teladan
Pakar bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia, Ibnu Wahyudi, mengungkapkan, pemimpin hendaknya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar menjadi teladan bagi rakyat. Di samping itu, media massa sebisa mungkin menghindari pemakaian istilah asing dalam menyampaikan gagasan.

”Bahasa Indonesia adalah bahasa yang diperhitungkan. Terbukti semakin banyak mahasiswa asing mempelajari bahasa Indonesia di pusat bahasa atau universitas,” tutur Ibnu, sebagaimana dikabarkan Harian Kompas edisi 22 September 2014.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan