-->

Kultwit Toggle

#Kultwit | Sukarno Sang Penulis: Genealogi Lahirnya ‘Indonesia Menggugat’

Pada 1964, Njoto mewacakan Hari Buku Nasional diambil dari hari dibacakannya pertama kali naskah “Indonesia Menggugat” oleh Sukarno. Sebuah naskah klasik; tidak saja isinya mengguncang, namun juga cerita di balik kelahirannya. Tak hanya itu, sebelum dibukukan, naskah ini pernah melewati proses “dramatic reading” yang memukau lewat sebuah panggung istimewa: Landraad Bandung.

1 Mei 1929, keputusan diambil Hoofd-Bestuur dan cabang-cabang PNI mengadakan aksi kekerasan (daadwerkelijke actie). Hal ini bikin berang pemerintah.

2 Bunyi2 keputusan Mei PNI: Untuk mentjapai Kemerdekaan, kita harus bersatu, membinasakan imperialisme dan kapitalisme atau merubuhkannya.

3 Yang dimaksud imperialisme adalah pemerintah Hindia Belanda sekarang. Yang dimaksudkan dengan kapitalisme ialah Belanda2 jang berdagang dan orang asing.

4 Kemerdekaan akan datang didalam tahun 1930. Djika kita gunakan kesempatan dalam Perang Pasifik untuk memutar pemerintahan sekarang.

5 Didahului atau mendahului. Pada 24 Des 1929, pemerintah Hindia Belanda perintahkan Procureur General bij het Hoog Gerechtshof.

6 Tugasnya Procurer: geledah dan tangkap pemimpin-pemimpin pergerakan di seluruh “Nederlandsch Indie”

7 Rumah-rumah dan kantor pemimpin PNI digeledah. Dokumen2 dibeslah. Tuduhannya tunggal: “Melakukan perbuatan pelanggaran keamanan umum”

8 Pemimpin pergerakan kebangsaan di Bandung selenggarakan pertemuan bersama dirikan badan permusyawaratan utk pusatkan tenaga2 politik kemerdekaan.

9 Hadir antara lain: Thamrin, Sukarno, Sartono, Dachlan Abdullah, Bakri Suraatmadja, Otto Subrata, Iskaq, Anwari, Sukiman, dll

10 Usaha bikin permusyawaratan PPPKI ini dilanjutkan di Solo pada 27 Des 1929. Rombongan dari Bandung terdiri: Sukarno, Inggit Garnasih, Maskun, Mang Ojib, Gatot.

11 Usai pertemuan, rombongan Sukarno ke Jogja. Menginap di rumah Sujudi. Pihak Pakuaman mengundang utk resepsi.

12 Pada 28 Desember 1929 diselenggarakan rapat umum PNI di Jogja. Tampil bicara: Sukarno, Gatot, Maskun, Ki Hadjar.

13 Rombongan bermalam di rumah Sujudi, Jl Tugu Kidul. Jelang subuh, terjadi kegaduhan. Pintu digedor keras Komisaris Polisi Belanda.

14 Sambil bentak2 kasar, Kompol itu menyuruh Sukarno dkk keluar dari kamar di bawah todongan pitol.

15 Sukarno dkk hanya dibolehkan tukar pakaian tidur dgn pekaian sehari2. Itu pun dilakukan di halaman. Gak boleh lagi balik ke kamar.

16 Sukarno dkk digiring ke penjara Mergangsan (Wirogunan), depan gedung Taman Siswa. Sukarno senyum-senyum saja.

17 Hanya sehari Sukarno dan interniran PNI lainnya diinapkan di Wirogunan. Subuh, sipir penjara membangunkan. Muncul komisaris polisi dan intel bebaju kain carik, pakai ikat kepala, dan bajututup.

18 Melihat mata-mata ini, Sukarno bisiki kawan2nya, cecunguk ini bernama “Salamun”. Pangkatnya wedana. Mata-mata sipil memang dipakai Dinas Reserse utk mengawasi aktivis pergerakan.

19 Cecunguk Salamun ini kasih perentah dlm basa Belanda: “De heren worden nu naar Bandung getransporteerd, ga nu maar vlug aankleden” (Tuan2 sekarang diangkut ke Bandung. Lekas kenakan pakaian)

20 Dari St Tugu, Sukarno diangkut dgn kereta. Jendela2 ditutup rapat. Dikawal ketat polisi2 bersenjata.

21 Di peron St Tjijalengka, Sukarno dkk disambut hamba2 wet kolonial bersenjata lengkap. Digiring ke penjara Bantjeuj.

22 Sukarno mengingatkan lagi kawan2nya para spion sipil di lingkungan reserse Belanda, seperti Edjeh Kartahadimedja (patih) dan Rahmat (camat).

23 Dijaga satu regu tentara KNIL, Sukarno dkk resmi jadi tahanan penjara Banceuy, 30 Des 1929. Selama dua bulan Sukarno, Gatot, Maskun, Supriadinata diinterogasi Parket Pokrol Djendral.

24 Sukarno ditahan di Banceuy pd usia 30 tahun sbg pendiri dan Voorzitter Bestuur PNI, Gatot Mangkuprajda sbg Sekretaris II Hoofdbestuur PNI, Maskun Sumadiredja sbg Sekretaris II Bestuur Cbg Bandung , Supriadinata sbg kandidat propagandis PNI Cbg Bandung

25 Strafproses atas 4 pemimpin PNI dimulai pada 18 Agustus 1930 hingga 22 Desember 1930 di Landraad Bandung.

26 Selama 27 hari, 18 Ags – 29 sept 1930 Sukarno dkk proses verbaal Sukarno di Landraad Bandung berlangsung. Ada 32 saksi dihadirkan.

27 Setelah proses verbaal, sidang ditambah dengan mendengarkan pembacaan pleidoi Sukarno yang dipersiapkannya di penjara Banceuy dan diberi judul: “Indonesia Menggugat”. Sukarno membaca “Indonesia Menggugat” pada 1 Desember 1930.

28 Sukarno adalah penulis pamflet. Pilihan diksinya seperti belati. Dan bersifat menyerang. Sebagaimana orasi-orasinya.

29 Sadar bahwa tulisan membawa dampak perubahan kesadaran, Sukarno membuat koran sendiri. Mula-mula “Suluh Indonesia Muda”

30 Koran SIM pertama kali terbit pd Des 1927. Tulisan Sukarno yg penting adalah “Swadeshi dan Masa Actie di Indonesia”. Berhenti terbit karna Sukarno dipenjara.

31 Ada juga “Persatuan Indonesia” yg terbit pertama kali pada 15 Juli 1928. Artikel Sukarno yg terbit: “Indonesianisme dan Pan Asiatisme”, “Kewadjiban Kaoem Intelektuil terhadap Pergerakan Rakjat” dll

32 Sukarno berhenti menulis karna ditangkap. “Persatoean Indonesia” dioper ke Inggit Garnasih dan kerja harian dibantu Sartono.

33 Saat di penjara Banceuy inilah sebuah naskah nonfiksi yang mengguncang Hindia Belanda lahir: “Indonesia Menggugat”

34 Naskah pleidoi Indonesia Menggugat itu mencengangkan. Bahasanya bergemuruh, penuh gelora, propagandis, menghentak, menjambak, menunjuk, dan sekaligus membanting. Juga naskah itu kaya literatur.

35 Jika naskah itu diindeks dengan jeli, maka kita dapatkan ada sekira 66 nama tokoh yang dikutip Sukarno.

36 Sebut saja Albarda, Anton Menger, August de Wit, Bauer, Boeke, Brailsford, Brooshooft, Clive Day, Colenbrander, Daan van der Zee, de Kat Angelino, Dietrich Schafer, Dijkstra, Duys, Engels, Erskin Childres, Federik Peter Godfried, FG Waller, Gonggijp, Henriette Roland Holsts, Herbert Spencer, HG Wells, Houshofer, Huender, Jaures, John Robert Seeley, dan Jozef Mazzini.

37 Ada juga Jules Harmand, Karl Kautsky, Karl Marx, Karl Renner, Kilestra, Koch, Kraemer, Lievegoed, Mac Swiney, Manuel Quezon, Michael Davitt, Multatuli, Mustafa Kamil, Parvus, Peter Maszlow, Pieter Veth, Raffles, Reinhard, Rouffaer, Rudolf Hilferding, Sandberg, Sarojini Naidu, Schrieke, Scmalhausen, Sister Nivedita, Sneevliet, Snouck Hugronje, Stokvis, Sun Yat Sen, Treub, Troelstra, van den Bergh van Eysinga, van Gelderen, van Heldingen, van Kol, van Lith, dan Vleming.

38 Tokoh-tokoh itu menempati posisi dari pelbagai penjuru aliran pemikiran; dari sosialis liberal, komunis, kaum agamawan, hingga penganjur kapitalis modern.

39 Nama-nama yang dikutip Sukarno itu berbaur dalam 33 judul buku yang dijadikan sandaran gagasan Sukarno di mana 99 persennya berbahasa Belanda.

40 Bagaimana bisa Sukarno mendapatkan begitu banyak pasokan buku? Padahal, naskah itu ditulisnya saat ia disekap dalam penjara sudra Banceuy yang kotor dan jorok selama 330 hari

41 Dalam kamar sel no 5 berukuran 1.5 x 2.5 meter itu, Sukarno dijaga ketat dan berlapis oleh spion2 karena dianggap sebagai musuh pemerintah kolonial kelas wahid.

42 Adalah Inggit Garnasih yang mengambil peran itu. Inggit adalah ibu kos Soekarno saat ia kuliah di ITB Bandung yang kemudian dinikahinya.

43 Umur Inggit dan Sukarno terpaut cukup jauh. Tapi Sukarno yang masih berusia ting-ting merasa lebih tenteram dalam dekapan Inggit ketimbang dengan putri Tjokroaminoto, Utari, yang kemudian dipulangkannya lagi ke Peneleh Surabaya.

44 Inggit tahu Sukarno hantu buku. Ia pelahap buku yang rakus. Bahkan, ketika rekannya yang membeli buku belum sempat membacanya, sudah direbut Sukarno duluan dan setelah selesai barulah buku itu dikembalikan.

45 Penjara dan pengucilan di Banceuy memutus hobi Sukarno pada buku dan diskusi.

46 Di Banceuy Sukarno menghibur diri: “Biar engkau meringkuk di antara empat tembok ini, tetapi besarkanlah engkau punya hati; ide yang terkandung di dalam dadamu memecahkan ini tembok, akan menjalar keluar tembok ini.”

47 Sukarno boleh jadi hantu buku yang lahap, tapi penjara Banceuy tetap mengharamkannya bertemu dengan buku.

48 Inggit yang membuka jalan bagaimana Sukarno kembali bergulat dengan buku, terutama sekali saat ia sedang mempersiapkan pleidoi panjang atas tuduhan subversif yang dituduhkan pengadilan kepadanya.

49 Cara Inggit sederhana mempertemukan Sukarno dan buku. Inggit menempuh jalan klandestin.

50 Mula-mula, Inggit mengutus kurir ke Jakarta untuk mengambil buku-buku milik Sartono, kawan sepergerakan dan jaksa pembela Sukarno.

51 Inggit memesan kurir untuk berpindah-pindah kendaraan agar tak diketahui spion-spion pemerintah kolonial yang berkeliaran menginternir aktivis2 pergerakan.

52 Untuk bisa lolos ke dalam penjara, buku2 dililitkan Inggit distagennya dengan didahului puasa tiga hari supaya perutnya bisa kempis betul.

53 Lolos dari pintu depan, tak berarti mata para spion Banceuy lepas. Namun Inggit selalu berhasil memperdaya penjagaan berlapis spion itu hingga Sukarno mendapatkan pasokan buku yang cukup dalam selnya yang apak.

54 Buku-buku pasokan Inggit itu yang dinukil Sukarno secara diam-diam nyaris setiap malam.

55 Naskah Indonesia Menggugat ditulis Sukarno di atas kaleng rombeng yang berbau pesing lantaran dipakai untuk buang hajat sekalian. Pada saat ingin menulis, kaleng ini dibersihkan lagi.

56 Tiap pekan, antara Oktober-Desember Sukarno membacakan pleidoi ini dengan didampingi kwartet pembela: Sartono, Sasromuljono, Sujudi, dan R Ipih Prawiradiputra.

57 Sebut saja, pembacaan pleidoi ini Dramatic Reading. Naskah yang dipanggungkan sebelum jadi buku. Dan panggung itu bernama: Landraad Bandung

58 Tapi Landraad tetap tak bergeming dengan keputusannya. Sukarno tetap dihukum 4 tahun penjara.

59 Tiga rekan Sukarno di PNI, Gatot Mangkupradja, Maskun, dan Supriadinata masing-masing kena 2 tahun, 1 tahun 8 bulan, dan 1 tahun 3 bulan.

60 Bukan soal gagalnya pleidoi itu membebaskan Soekarno dan rekan-rekannya dari interniran, melainkan bagaimana pleidoi itu sendiri menjadi naskah klasik yang paling gemilang yang dilahirkan manusia republik di masa pergerakan.

61 Sukarno: “Saya mencari consolation, hiburan hidup dari buku-buku. Saya membaca buku-buku. Saya meninggalkan alam ini, alam jasmaniah. Saya punya pikiran, saya punya mind terbang, meninggalkan alam kemiskinan ini, masuk di dalam ”world of the mind”; berjumpa dengan orang-orang besar, dan bicara dengan orang-orang besar, bertukar pikiran dengan orang-orang besar”

62 Sukarno: “Kalau buku yang saya anggap penting, saya baca dari A sampai Z. Dan yang penting-penting saya garis-bawahi. Saya tulisi dengan pendapat saya. Pendek kata saya orek-orek (corat-coret) setengah ajur (hancur) buku tersebut”

63 Buku nonfiksi Sukarno “Indonesia Menggugat” ini kemudian oleh nasionalis kiri dan sekaligus CC PKI, Njoto, dijadikan tonggak penentuan Hari Buku Nasional, 1 Desember (1930), pada 1964.

64 Mengapa harus “Indonesia Menggugat”? Kekuatan isi, drama, dan kisah lahirnya naskah ini sulit untuk menafikannya menjadi buku yang fantastik yang pernah dilahirkan oleh manusia Indonesia di era pergerakan. Bahkan kini.

65 Demikian Kultwit kami di bulan Juni, “Bulan Sukarno”. Sampai jumpa di kultwit berikutnya. Saya Muhidin M Dahlan dari @warungarsip. Kronik drama lahirnya naskah “Indonesia Menggugat” bisa dilihat di buku “Bung Karno di Hadapan Pengadilan Kolonial” yang disusun H.A. Notosoetardjo (1963)

NOTE: Disampaikan dalam Obrolan “Kelas Nonfiksi Akademi Bercerita Jogja” di acara Festival Buku Indonesia, XT Square Yogyakarta, 1 Juni 2013.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan