-->

Peristiwa Toggle

Keberadaan Naskah Kuno Masih Diabaikan

JAKARTA — Keberadaan naskah kuno yang merupakan warisan sejarah bangsa masih diabaikan banyak pihak, termasuk oleh pemerintah. Padahal, dalam naskah kuno itu tersimpan nilai-nilai luhur mulai dari sejarah, gambaran dan kearifan lokal masyarakat saat itu, hingga naskah yang mencatat soal pengobatan.

”Pemerintah harus berperan aktif dalam pelestarian naskah-naskah kuno tersebut,” kata Guru Besar Departemen Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Titik Pudjiastuti, Senin (24/6), di Jakarta, sebagaimana dikabarkan Kompas 25 Juni 2013.

Pekan lalu, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memasukkan naskah Babad Diponegoro dan Negarakertagama dalam Daftar Ingatan Dunia atau Memory of The World.

Selama ini, menurut Titik, Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, tetapi karena dianggap hanya mengatur benda-benda arkeologi, pemilik naskah kuno yang semestinya merupakan produk sebuah kebudayaan tidak mengetahui kewajiban mereka.

Agar pemilik naskah tidak kehilangan hak milik atas naskah-naskah kuno tersebut, pemerintah dapat membuat museum berukuran kecil di beberapa daerah.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Makassar, yang terlibat dalam penerjemahan naskah kuno I La Galigo, Nurhayati Rahman, mengatakan, sebelum melakukan upaya-upaya kontemporer, penerbitan naskah kuno yang asli harus dilakukan agar masyarakat mengenal dan mengetahui isi naskah kuno tersebut.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan