// disable social bookmarks
-->

Peristiwa Toggle

Cerpen Terbaik Kompas 2012

JAKARTA — Cerpen berjudul ”Laki-laki Pemanggul Goni” karya Budi Darma terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2012. Cerpen ini menyisihkan 19 cerpen yang masuk nominasi. Pemberian penghargaan dilakukan di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (27/6) malam, sebagaimana dikabarkan Kompas, 28 Juni 2013.

Menurut para juri, cerpen karya Budi Darma berhasil membangun konflik yang menekan, mencekam, dan menakutkan dari seorang tokoh.

Dalam pembukaan malam Anugerah Cerpen Terbaik Kompas 2012 yang berlangsung semalam, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Rikard Bagun mengatakan, meski pendek, cerpen memberikan pesan yang jauh melambung seperti kehidupan. ”Selama puluhan tahun, Kompas bersama sastrawan dan budayawan menampilkan paradoksal kehidupan,” kata Rikard.

Pada acara itu pula digelar pentas tari karya koreografer Institut Kesenian Jakarta, Hartati, yang merupakan adaptasi dari cerpen ”Lelaki Pemanggul Goni”.

Selain itu, juga ada pentas musik Endah N’Rhesa. Hadir pula di acara itu para cerpenis dan penyair dari era tahun 1960-an seperti Gerson Poyk, Leon Agusta, dan Sori Siregar.

Menurut pengajar sastra Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, yang menulis pengantar dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2012, cerpen ”Laki-laki Pemanggul Goni” memperlihatkan betapa penting unsur-unsur intrinsik tampil kompak, berjalin-berkelindan dalam membangun cerita. Cerpen itu memperlihatkan dirinya sebagai cerpen yang kaya tafsir dan makna.

Secara sosiologis, cerpen ini pada dasarnya dapat ditempatkan sebagai potret masa kecil anak-anak Indonesia yang hampir selalu dijejali mitos dan tokoh-tokoh fiktif yang kerap dicitrakan sebagai makhluk menakutkan. Cerpen ini dapat menggambarkan satu kaki menginjak dunia modern dan satu kaki lagi berada di masa lalu, yakni tradisi dan mitos-mitos.

Cerpen Budi Darma lainnya, ”Derabat” pernah pula dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Kompas pada 1999. Pengarang senior ini bahkan pernah menerima Penghargaan Kesetiaan Berkarya dari Kompas.
Cerpen lain

Cerpen-cerpen lain yang masuk dalam nominasi peraih cerpen terbaik sekaligus masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2012 adalah ”Pohon Hayat” (Masdar Zainal), ”Mayat Mengambang di Danau” (Seno Gumira Ajidarma), ”Requiem Kunang- Kunang” (Agus Noor), ”Pemanggil Bidadari” (Noviana Kusumawardhani), ”Ambe Masih Sakit” (Emil Emir), ”Batu Asah dari Benua Australia” (Martin Aleida), ”Nyai Sobir” (A Mustofa Bisri), ”Sang Petruk” (GM Sudarta), ”Kurma Kiai Karnawi” (Agus Noor), dan berbagai cerpen lain.

Ketua Panitia Anugerah Cerpen Kompas 2012 Nur Hidayati menjelaskan, setiap tahun sejak 1992 Kompas memilih cerpen-cerpen pilihan untuk kemudian dibukukan. Di antara cerpen-cerpen pilihan itu, kemudian dipilih cerpen terbaik.

Setiap tahun pula, Kompas memberikan Penghargaan Kesetiaan Berkarya kepada seorang cerpenis yang dinilai memiliki pengabdian, kesetiaan, dan kualitas karya yang konsisten selama beberapa puluh tahun. Tahun ini, penghargaan itu diberikan kepada pengarang Martin Aleida. Ia dinilai memberikan kesetiaan, pengabdian, dan kualitas karya yang konsisten tanpa putus. Ia juga telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk dunia kepenulisan. Ia menggantungkan hidupnya pada dunia penulisan.

Kompas mulai memuat cerpen pertama kali tahun 1967 dengan cerpen berjudul ”Layang Saka Saidjah” yang dikutip dari majalah berbahasa Jawa, Praba.

Selain memberi penghargaan, Kompas juga menggelar Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas di Bentara Budaya Jakarta.

 

Pariwara

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan