-->

Peristiwa Toggle

Buku Tentang Capung Terbit di Malang

MALANG — Komunitas pecinta capung, Indonesia Dragonfly Society (IDS) meluncurkan buku identifikasi capung berjudul “Naga Terbang Wendit”. Buku ini merupakan hasil penelitian selama dua tahun di kawasan perairan sumber Wendit Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Tim IDS menemukan sebanyak 31 jenis capung, tiga di antaranya merupakan capung endemik Jawa.

“Dicetak 2.000 eksemplar,” kata Ketua IDS Wahyu Sigit dalam peluncuran buku di Padi Resort Malang, Senin 3 Juni 2013, sebagaimana diwartakan situs daring tempo.co, 4 Juni 2013. Buku setebal 164 halaman full color dilengkapi foto capung yang hidup di perairan Wendit ini menyedot dana hingga Rp 35 juta. Dana tersebut ditutupi oleh sejumlah sponsor yang menanggung biaya percetakan. Sedangkan penelitian ditanggung organisasi yang beralamat di jalan Gresik 14 Kota Malang.

Buku yang dicetak 500 eksemplar akan dibagikan gratis untuk komunitas, perpustakaan, sekolah dan akademisi. Sedangkan 250 eksemplar dibagikan kepada para sponsor yang mendanai percetakan. Selebihnya akan digunakan untuk menggalang donasi bagi kegiatan organisasi. “Harganya Rp 60 ribu,” katanya.

Mereka mengidentifikasi setiap capung yang terdokumentasi. Satu per satu capung yang teridentifikasi dicatat dengan cermat. Gambar-gambar spesies tersebut juga dicantumkan dengan gamblang. Dilengkapi dengan ciri morfologi, kebiasaan dan habitat yang biasa disambangi sang capung.

Sigit tergerak mengeluarkan buku identifikasi capung karena sedikit publikasi ilmiah tentang capung. Sampai saat ini hanya dua buku yang membahas tentang capung, yitu “Mengenal Capung” karya Shanti Susanti terbitan LIPI tahun 1998, dan kumpulan esai berjudul “Capung Teman Kita” diterbitkan Pelestarian Pusaka Indonesia 2011.

Awalnya, Wahyu hanya mendokumentasikan capung di Wendit. Karena tidak ada referensi, Sigit kesulitan memberikan ulasan dan penamaan. Sehingga ia harus berkomunikasi dengan sejumlah ahli serangga dan capung dari Inggris dan Belanda. Dalam buku ini Sigit juga memberikan nama lokal berdasarkan morfologi, kebiasaan dan mitologi di masyarakat. Seperti memberikan nama Capungjarum Sunda (Nosoctita Insignis), Capungpancing Jawa (Paragomphus Reinwardtii) dan Capungbarong bercak biru (Anax Guttatus).

Dosen Universitas Diponegoro Karyadi Baskoro dalam buku Naga Terbang Wendit mengatakan jika buku ini tak hanya bermanfaat bagi akademisi tapi juga masyarakat awam. Buku ini, katanya, juga menjadi bukti berkembangnya citizen science. Sehingga saat ini ada tiga buah buku yang melengkapi identifikasi capung.

“Pada pertengahan abad 20, buku mengenai capung ditulis orang asing,” katanya. Ironi, katanya, mengingat Indonesia memiliki kekayaan capung mencapai 900 jenis. Atau sekitar 15 persen dari total jenis caung di dunia. Sedangkan sekitar 110 jenis capung berada di pulau Jawa.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan