-->

Tokoh Toggle

Alexander Beding | Percetakan Arnoldus, Penerbit Nusa Indah, dan Budaya Baca Ende

Usianya terbilang uzur, 89 tahun lebih. Namun, masih tampak kegairahan Alexander Beding saat berbicara tentang sejarah, toleransi umat, dan pers. Menguasai lima bahasa asing, Alexander Beding cerminan orang Indonesia bagian timur yang berpikiran maju.Alexander Beding

Pater Alex, demikian panggilannya, kini menghabiskan hari-harinya di biara di kompleks Katedral Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang teduh karena rimbun pohon beringin dan mahoni. Menempati salah satu ruangan di lantai dua biara, Pater Alex kerap menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis. Di ruangan itu, ia dikepung buku dan majalah dari semua penjuru.

”Rata-rata saya menghabiskan waktu enam jam untuk membaca. Jika kondisi badan sedang bagus, kadang menjelang tengah malam baru tutup buku,” ujar Pater Alex di ruang kerjanya, akhir Mei lalu.

Selain membaca berbagai jenis buku, peristiwa di dalam negeri masih diikuti Pater Alex lewat koran-koran nasional yang ia baca. Ia juga berlangganan beberapa majalah terbitan Jerman, Belanda, dan Italia. Pengalaman belajar di beberapa negara tersebut membuat Pater Alex fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, Jerman, Latin, Belanda, dan sedikit Italia.

Disibukkan dengan kegiatan rohani setelah ditahbiskan sebagai pastor sejak 1951 atau dalam usia 27 tahun, Pater Alex ternyata memiliki perhatian terhadap dunia penerbitan dan pers, khususnya di NTT. ”Membaca adalah ibarat membuka jendela dunia. Sayangnya, meski ada kegemaran membaca pada rakyat NTT, mereka tidak memiliki bahan bacaan,” ujarnya.

Perkenalan Pater Alex dengan dunia penerbitan buku dan majalah terjadi pada tahun 1970 atau setelah 10 tahun sebagai pengajar di Seminari Mataloko. Pater Alex ingin merasakan petualangan baru, yaitu menuntut ilmu di universitas. Di saat yang sama, ia mendapat tawaran dari seorang ahli percetakan Br Vitalis SVD dan Direktur Percetakan ”Arnoldus” Heinz Neuhaus SVD untuk bekerja di bidang komunikasi di Ende. Hal itu rupanya memancing minatnya.

Percetakan Arnoldus, yang berdiri sejak 1926 di Ende, hingga kini masih operasional. Untuk penerbitannya dipakai nama Nusa Indah yang tak lain adalah toko buku sederhana yang didirikan Vitalis dan Heinz di Ende.

Akhirnya, terhitung 1 April 1970, Pater Alex memiliki kantor baru di percetakan tersebut. ”Pada mulanya, kami menerjemahkan buku-buku asing tentang kerohanian untuk memenuhi kebutuhan rohaniwan, rohaniwati, dan seminari,” kenang Pater Alex.

Penerbit Nusa Indah makin berkembang. Buku-buku rohani yang diterbitkan mendapat sambutan hangat di NTT. Setelah belajar di sana-sini, Pater Alex lalu mendirikan satu media yang dapat dibaca semua orang di NTT. Ketika itu belum ada media massa di NTT yang bisa menyentuh langsung kebutuhan informasi yang diinginkan masyarakat saat itu. Setelah berdiskusi dengan rekan-rekannya, akhirnya tabloid mingguan bernama Dian terbit perdana pada Oktober 1974.

”Jika tak ada jaringan komunikasi lewat pers, masyarakat kita akan ketinggalan informasi. Harus ada surat kabar yang bisa dibaca,” kata Pater Alex.

Tak lama setelah Dian terbit, Pater Alex dan kawan-kawan mendirikan majalah anak-anak bulanan Kunang-Kunang. Sayang, karena suatu hal, majalah yang ia rintis tersebut kini tinggal cerita. Dian tak lagi terbit sejak akhir 1993.

Atas ketekunannya menggiatkan pers di NTT, Pater Alex mendapat penghargaan dari Gubernur NTT Frans Lebu Raya pada 2011 dan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT pada 2009. Pada peringatan Hari Pers Nasional 2011 di NTT, Pater Alex termasuk satu dari 10 insan pers yang berasal dari NTT yang mendapat penghargaan di bidang pers.

”Setidaknya ada 30-an buku terjemahan yang saya tulis dan tiga lagi buku hasil karya sendiri,” katanya.
Toleransi

Pater Alex juga pemerhati sejarah, khususnya di Flores, NTT. Dengan lancar dan runtut, mantan pastor yang pernah jadi prajurit relawan pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia ini tampak bersemangat saat membicarakan sejarah tentang Flores.

”Satu hal yang saya banggakan tentang toleransi di Flores, meski ada berbagai penganut keyakinan, tak pernah sekali pun kami bercerai-berai. Semua tetap bersaudara di Flores,” ujarnya.

Ingatan tentang sejarah didukung dengan kejelian dan ketelatenan Pater Alex menyimpan berbagai arsip berupa dokumen atau foto. Surat-surat yang ia terima pada tahun 1950-an, termasuk foto-foto semasa ia kecil, masih tersimpan rapi hingga kini. Jika ia lupa tentang suatu hal, dengan cepat ia membuka halaman-halaman pada sebuah buku.

Pater Alex yang pernah terpeleset di kamar mandi pada 2011, kini harus berhati-hati jika berjalan. Lama tak lagi memimpin misa di gereja, Pater Alex lebih banyak menghabiskan waktunya di biara. Ia ingin menghabiskan waktunya di Larantuka. Baginya, Larantuka adalah bagian dari sejarah penting penyebaran agama Katolik di Flores.

”Di Indonesia, perayaan Semana Santa hanya ada di Larantuka. Upacara (Semana Santa) inilah yang membuat Larantuka ’hidup’ dan dikunjungi banyak orang,” kata Pater Alex.

Semana Santa adalah perayaan keagamaan yang dikenal sebagai Pekan Suci yang ditutup dengan Minggu Paskah. Di Larantuka, Semana Santa sudah berlangsung sejak 1599. Hingga kini, Semana Santa selalu dibanjiri peziarah atau sekadar wisatawan yang jumlahnya mencapai belasan ribu orang yang datang dari berbagai penjuru Indonesia atau mancanegara.

Sumber: Kompas, 24 Juni 2013

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan