-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Katalog Seni – Heri Pemad | Yogyakarta

Heri Pemad asli dari Dukuharjo, Solo, Hijrah ke jogja pada tahun 1994. Ia masuk Universitas ISI pada tahun 1996 dan keluar pada tahun 2000, tidak lulus. Pada tahun 1994-2005 ia melukis, tapi sejak tahun 2001 ia sudah menekuni Art Management yang digelutinya hingga sekarang. Berdirinya Art Management ini berawal dari kegelisahan Henri pada infrastruktur seni rupa. Menurutnya, terdapat ketidakmerataan antara potensi seni rupa dan budaya dari para seniman dengan infrastruktur yang diberikan oleh pemerintah atau swasta. Yang seharusnya bisa mendukung kehidupan seni rupa ataupun kehidupan kesenian itu sendiri.

Lewat Art Management di bidang seni rupa, ia bermaksud menambal infrastruktur yang dianggapnya bolong. Pada saat jadi pelukislah kegelisahan itu hadir. Lalu, ia memilih untuk fokus pada Art Management yang tentu jalannya tak mudah. Tapi, ia tetap bermaksud berkesenian lewat Art Management

Di Program “Katalog Seni”, Heri juga bertutur buku-buku yang mempengaruhi hidupnya. Antara lain: Primbon, buku-buku Enny Arrow, dan juga buku seni rupa yang dicurinya dari perpustakaan kampus ISI, Sewon.

1 #HeriPemad, asli #Sukoharjo, #Solo. Hijrah ke #Jogja tahun 1994. Ia menjadi mahasiswa ISI tahun 1996-2000, tidak lulus.

2 Selama tahun 1994-2005 #HeriPemad melukis, tapi sejak tahun 2001 ia sudah merintis art management yang digelutinya hingga sekarang.

3 Berdirinya art management berawal dari kegelisahan #HeriPemad pada infrastruktur seni rupa yang dianggapnya janggal.

4 Bagi #HeriPemad, ada ketidakmerataan antara potensi seni rupa & budaya para seniman #Jogja dg infrastruktur yg diberikan pemerintah/swasta

5 #HeriPemad coba perbaiki infrastruktur yg bolong dg milih berkesenian. “Prinsipnya, berkesenian tak harus jadi pelukis/pematung”

6 Th 2000, #HeriPemad ikut pameran, karyanya sold out. 2001, pameran tunggal. Inilah tahun ia gelisah pd senirupa & merintis art management

7 Bagi #HeriPemad, tak imbang jumlah galeri dg seniman. Sebab, banyak seniman #Jogja hidupnya di bawah standar. Padahal, bisa hidup layak

8 Seharusnya ada lembaga yang memanage bagaimana seniman #Jogja bisa hidup dari karyanya. Lembaga yang disebut artpreneurship

9 #HeriPemad belajar dari pengalaman dlm lakukan managemen. Sebab, saat itu buku managemen seni belum ada. Praktek managemen dg improvisasi

10 Sulitnya menjadi manager artis adalah ketika menyamakan visi. Supaya secara wacana karya itu bagus, secara pasar juga bagus. #HeriPemad

12 Karena #HeriPemad kerja dg seniman #Jogja, ia benar-benar perjuangkan karya itu agar bisa menghidupi seniman, juga menghidupi dirinya

13 Meski institusi ini sudah dirintis sejak tahun 2001, tapi baru pada tahun 2004 nama #HPAM (Heri Pemad Art Management) dipakai

14 Bagi #HeriPemad, pekerjaannya takkan dikenal jika belum memiliki brand. Jadi, ia memulai hal paling dasar yaitu pengenalan pd semua artis

15 Nambah kenalan #HeriPemad harus main, nongkrong & nonton pameran. Ketemu siapapun baginya modal penting dirikan Art Management di #Jogja

16 Meski pada tahun 2004 logo #HPAM masih seadanya, tapi kegiatannya harus jelas agar dapat menjadi penyambung -> #HeriPemad

17 Sebelumnya, pada 2002 #HeriPemad memiliki sebuah kantor yang bernama sama -> #HPAM yaitu Handphone Art Management

18 Bagi #HeriPemad, jd kurir adalah pengantar pergaulan. Alasan untuk ketemu seniman, ambil ilmu, perkenalkan diri, bahkan menemani berkarya

19 Kakeknya mempunyai sebuah buku yang akhirnya menjadi buku yang sangat berpengaruh bagi #HeriPemad -> Primbon

20 Buku2 Enny Arrow yang dikonsumsi #HeriPemad saat SMP, masuk dalam buku yg berpengaruh. Baginya, pengalaman baca buku itu sangat virtual

21 Buku lainnya adalah buku-buku seni rupa, termasuk buku yg dicuri #HeriPemad dari perpustakaan kampus #ISI Sewon lewat jendela yg terbuka

22 Bagi #HeriPemad, membaca buku berulang-ulang memiliki kenikmatan tersendiri. Ketika memegang buku, ia seperti memegang sebuah karya

23 Demikian #23Tweets obrolan #katalogSeni bersama #HeriPemad. Saya, Chusna Rizqati @NonaNanaNdut, melaporkan. Sampai jumpa pd kisah yg lain

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan