-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Buku Pertamaku – Ragil Nugroho | Yogyakarta

Ragil Nugroho adalah aktivis mahasiswa era 90-an. Pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Filsafat UGM. Ia bergerak bersama
kawan-kawan aktivis di bidang jurnalistik mahasiswa. Juga pernah bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik. Bagaimana jejak langkah bersama buku-buku yang menginspirasi hidupnya?

1. Ragil Nugroho, sehari-harinya lebih banyak menulis di media sosial.

2. Ragil mulai lebih intim dengan buku setelah berada di Jogja.

3. Lewat kelompok diskusi, Ragil dikenalkan beragam buku-buku sastra&politik.

4. Diskusi hangat&iklim perbukuan Jogja yang bagus,memacu Ragil mengembangkn bacaannya.

5. 1996, Ragil berkenalan dengan Tetra Buru-nya Pram.

6. “Bumi Manusia” menjadi pemicu ketertarikan Ragil dengan dunia sastra.

7. Ragil menyebut “Bumi Manusia” sebagai sastra perlawanan.

8. Ragil juga berkenalan dengan D.N Aidit lewat “Masyarakat Indonesia&Revolusi Indonesia”

9. Ragil melanjutkan analisis Aidit dan merekamnya dalam stensilan : “Primitif&Perbudakan” dan “Kapitalisme Pasca ’65”

10. Ragil pun menjelajahi dunia Lenin dalam “Darimana Kita Mulai”

11. Ragil bergabung dalam pers PRD berkat “Darimana Kita Mulai”-nya Lenin

12. Persentuhan Ragil dengan Pram berlanjut di “Arok-Dedes”

13. “Arok-Dedes tidak sekedar roman,novel sejarah,tapi juga novel pemberontakan ala Jawa”,tafsir Ragil

14. Dari “Arok-Dedes” Ragil belajar 4 modal perubahan : uang,senjata,kesetiaan&kawan

15. Hemingway juga sempat menjadi kawan Ragil melalui “Lelaki Tua dan Laut”

16. Ragil melihat kisah “Lelaki Tua dan Laut” sebagai kisah revolusi Kuba dan Fidel Castro-nya

17. Dunia perbukuan, kata Ragil, berkembang pesat tapi mengalami kemunduran

18. Jika buku sudah jadi industri,maka kualitas dinomor sekiankan

19. Kuantitas tidak sebanding dengan kualitas karna’ kejar profit!

20. 96′-97′, Jogja terkenal dengan penerbit-penerbit alternatifnya.

21. Tapi saat ini, buku bukan menciptakan wacana tapi memuaskan nafsu profit industri!

22. Bacaan untuk mahasiswa juga banyak,tapi jarang yang diarahkan ke bacaan alternatif di luar perkuliahan

23. Buku menjadi pintu masuk ke dunia luas,maka jangan batasi bacaanmu pada satu jenis buku saja.

Nah booklovers, demikian obrolan Program “Buku Pertamaku” bersama Ragil Nugroho. Saya, Achmad Fikri Faqih, terima kasih sudah menyimak.
Indonesia!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan