-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Angkringan Buku – Negara Gagal Mengelola Konflik (Novri Susan) | Surabaya

Novri Susan, penulis buku “Negara Gagal Mengelola Konflik”, adalah staf pengajar di Jurusan Sosiologi Universitas Airlangga Surabaya. Studi S1 diselesaikan di Jurusan Sosiologi UGM, lalu mengambil master di United Nations University for Peace di Amerika Serikat. Pada tahun 2010 Novri berangkat ke Doshisa University Kyoto untuk mengambil jenjang pendidikan doktoral. Dari semua jenjang pendidikan yang diambilnya, semua-muanya tentang studi konflik. Mengapa Novri gandrung dengan studi konflik? Booklovers, ikuti obrolan dengan Novri Susan di Program Angkringan Buku. Kali ini Novri berkisah bagaimana bukunya diriset dan lahir menjadi sebuah buku. Novri Susan bisa dihubungi via twitter @novrisusan.

1 Menurut @novrisusan, dalam relasi sosial esensi dasarnya adalah konflik, itulah mengapa banyak pertengkaran2 di sekitar kita. Pernah berkelahi?

2 Mengapa memilih studi konflik? Kata @novrisusan: “Karena dalam kesejarahan hidup saya sering sekali saya melihat percekcokan, entah itu orang tua atau tetangga-tetangga saya”

3 Menurut @novrisusan, dalam relasi sosial esensi dasarnya adalah konflik. Itulah mengapa banyak pertengkaran di kiri kanan.

4 Di titimangsa itu masyarakat harus mampu mengelola konflik di lingkungannya sehingga dia merasa tenang | @novrisusan

5 Skripsi @novrisusan meneliti tentang konflik komunal di Ambon pada 1999-2002. Ia terjun langsung ke Ambon bertemu dg tokoh2 yg sdg berkonflik

6 Pengalaman  meneliti konflik d Ambon ini meyakinkan @novrisusan bahwa esensi dari relasi sosial adalah konflik. Tapi bukan kekerasan

7 Manusia selalu punya pilihan2 dari konflik: mau menyelesaikan dgn kekerasan/membunuh atau dialog | @novrisusan

8 Dalam studi S2 di University of Peace USA, @novrisusan lagi-lagi mendalami konflik dalam masyarakat. Untuk mempertajam pengetahuan ilmiah!

9 Bagi @NovriSusan, negara adalah sebuah organisme hidup yg syarat nilai2; bukan benda mati yang kosong tanpa nilai

10 Nilai2 ideologi yang berbentuk konstitusi dan hukum itu kemudian dipraktikkan pemimpin2 politik dalam Negara tsb | @NovriSusan

11 Pemimpin2 politik memiliki pilihan2 untuk mengatasi konflik yg ada dalam Negara: mau dengan kekerasan atau tidak | @NovriSusan

12 Masyarakat lokal sebetulnya sdh punya instrumen sendiri dlm menyelesaikan konflik. Di Aceh ada tradisi “Tepung Tawar”, dll | @NovriSusan

13 Walaupun demikian, kata @NovriSusan, pemimpin politik dalam Negara tetap saja bertanggung jawab atas konflik lewat alat-alat yg dipunyainya.

14 Menurut @NovriSusan, Negaralah yg selama ini merusak kelembagaan pengelolaan konflik yg dipunyai masyarakat lokal

15 Mengapa lembaga konflik masy lokal rusak? @NovriSusan berpendapat karena Negara lebih sbg anjing penjaga kepentingan pasar

16 @NovriSusan berpendapat karena membela pasarlah Negara berlaku kejam kpd masyarakat. Selesaikan konflik dgn senjata

17 Aparatus politik dalam Negara kerap menjadikan rakyat kecil sbg statistik dlm Pemilu. Ini kejam dlm bentuknya yang sangat lunak

18 pasar sbg dimensi pertama mengapa Negara gagal dlm selesaikan konflik & cenderung memproduksi kekerasan secara terus-menerus | @novrisusan

19 Dimensi selanjutnya adalah lemahnya ikatan perasaan antar pemimpin dengan rakyat kecil sehigga semua kebijakan oleh pemimpin itu tidak ada yg pro rakyat kecil

20 Respons terhadap tulisan @NovriSusan beragam. Politisi & aparatus Negara tidak suka. Bahkan dicibir karena hanya teriak di luar pagar

21 Sebagai seorang akademisi, @NovriSusan tetap berada pada posisi membela sesuatu yang benar dan adil. Penanganan konflik harus selalu dlm poros demokratis, damai, dan berpihak kepada rakyat lemah

22 Buku apa yang paling berpengaruh buat @NovriSusan? Komik Donald Bebek, Kho Ping Hoo, Saman (Ayu Utami), buku2 Pramoedya & John Steinbeck

23 “Mencintai buku itu mencintai masa depan. Menulis buku adalah melukis masa depan” begitu pesan penutup @NovriSusan buat Booklovers sekalian

Booklovers, demikian Angkringan Buku bersama @NovriSusan. Saya, Nadia Aghnia @nadanakaneh. Sampai jumpa!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan