-->

Tokoh Toggle

Veven SP Wardhana | Penulis Budaya Massa | Obituari

SURABAYA–Setelah 10 hari berjuang melawan kanker paru-paru yang dideritanya, sastrawan Veven Sp Wardhana akhirnya mengembuskan napas yang terakhir pada Jumat 17 Mei 2013 pukul 01.30 dini hari. Veven meninggal dunia di Rumah Sakit Adi Husada, Surabaya dalam usia 54 tahun. Pemakaman  dilangsungkan pada 18 Mei 2013 di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Putri Veven, Sheridan Olenka, sebagaimana dikutip hot.detik.com mengenang hari-hari terakhirnya bersama sang ayah yang masih sempat mengomentari tayangan gosip artis di televisi. “Saipul Jamil dan Nassar memang selalu cari sensasi ya,” ujar penulis novel ‘Stamboel Selebritas’ itu seperti ditirukan Sheridan. Industri hiburan televisi memang bukan dunia yang jauh dari Veven. Selain dikenal sebagai penulis novel dan cerpen, ia juga menulis naskah sinetron televisi dan ulasan mengenai budaya massa secara umum.

Veven bahkan boleh dibilang salah satu pelopor kajian budaya massa di Indonesia. Ketika stasiun televisi swasta jumlahnya belum banyak, dan mulai bersiaran nasional, Veven tampil sebagai pencatat yang tekun atas fenomena-fenomena dan dampak yang muncul dari budaya baru tersebut. Hasil amatannya diterbitkan dalam buku ‘Televisi dan Prasangka Budaya Massa’ serta ‘Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa’.

Mengawali karier sebagai wartawan, Veven Sp Wardhana antara lain pernah menjadi redaktur Majalah Hai, dewan redaksi Tabloid Monitor, wakil pemimpin redaksi Tabloid Bintang, redaktur Pelaksana Tabloid Citra dan redaktur senior Majalah Tiara. Sebagai sastrawan, cerita pendeknya beberapa kali masuk buku tahunan Cerpen Terbaik Kompas. Kumpulan cerpen tunggalnya yang sudah terbit berjudul ‘Panggil Aku Peng Hwa’.

Penulis ini juga meninggalkan banyak kenangan. Dia dikenal sebagai sosok guru, pemberi semangat, dan penyuka humor. Daring tempo.co, 17 Mei 2013, merawikan tahun 1996 hingga 1997, Veven pernah menjadi editor untuk Tempo Interaktif (sekarang Tempo.co). Situs yang dibuat setelah setelah Majalah Tempo dibereidel awalnya hanya dikerjakan oleh tim kecil, antara lain almarhum Yusril Djalinus, Bambang Bujono, Toriq Hadad, Bina Bektiati, dan Hadriani Pudjiarti. Ketika itu, ada beberapa mahasiswa yang menjadi wartawan untuk situs ini antara lain Ali Nuryasin, Mustafa Ismail, Edy Budiyarso, Wenslaus Manggut, dan Iwan Setiawan. Belakangan bergabung mantan wartawan Bernas, Yogyakarta, Purwani Diyah Prabandari.

Dalam penerbitan awal Tempo Interaktif, setiap malam Veven, Toriq Hadad, dan Wahyu Muryadi–saat itu Wahyu juga wartawan dan editor di Majalah Forum Keadilan, menjadi penyunting naskah berita yang ditulis para wartawan Tempo Interaktif.

“Mas Veven pribadi yang kalem, tenang, tidak banyak omong. Biasanya kalau mengedit berita Mas Veven memilih berada di meja paling sudut. Kalau kami sering senda gurau dan ketawa, Mas Veven sangat diam dan tenang mengerjakan tugasnya,” kata Edy Budyarso, yang kini produser di RCTI.

Namun, di balik kediaman Veven, banyak contoh positif yang dilakukannya. “Dari Mas Veven saya diajari menulis sesuatu dengan muatan kalimat sastra, tapi tetap ringan bisa dikunyah atau dipahami untuk masyarakat umum. Saat itu, dia guru dan pemberi semangat mengajari kami menulis,” kata Edy.

Veven pada masa Tempo Interaktif saat itu memang banyak mengedit tulisan nasional dan pokok tokoh. Tangan dingin dan kemampuan Veven sebagi penulis dan sastrawan memberikan sentuhan pada setiap tulisan yang dieditnya.

Di lain waktu saat malam-malam deadline, Veven suka mengejutkan kami dengan gaya khasnya, yaitu meninggikan kerah jaket yang dikenakan sebagai penutup kepala. Bila dilihat sepintas, kerah jaket tersebut menjadi kerudung yang menutupi kepala. Hal itu membuatnya tenggelam dalam ketenangan mengedit naskah berita.

“Biar enggak kena AC, mesin pendingin. Kalau pakai topi entar mengurangi gantengnya saya, hehehe,” ujarnya bekelakar pada suatu malam menjawab pertanyaan kami mengapa dia melakukan kebiasaan ini setiap malam deadline? Jawaban spontan dan sederhana itu langsung mengundang tawa kami. Maklumlah, meski Tempo Interaktif saat itu terbilang media baru dengan eksistensinya hadir di dunia Internet, tapi semangat dan cara kerja kami persis seperti media cetak di majalah Tempo yang dibereidel pada 21 Juni 1994.

Di Juli 2012, kami kembali mendapat kesempatan bekerja sama dengan Veven sebagi volunter lepas Media Expert yang bertugas memberikan analisis tentang tren gaya hidup, gaya urban sosial, dan hiburan oleh sebuah perusahaan riset nasional di Jakarta. Merajut kerja sama dan bertemu kembali dengan Veven seolah mempertemukan nostalgia bekerja satu tim di masa Tempo Interaktif dulu.

Di tahun 2012, Veven terlihat tidak lagi berbadan tegap dan gempal seperti di masa Tempo Interaktif dulu. Menariknya, saat itu Veven tidak lagi merokok dan lebih banyak menyantap makanan sehat dengan menu serba sayur, buah, dan minum jus. “Saya harus menjaga kesehatan dengan pola hidup dan makan sehat ini,” ujarnya saat melwati makan malam bersama.

Tak jarang dalam kesempatan bertukar pikiran dan diskusi dengan para mahasiswa dan dosen yang tergabung di lembaga ini, Veven menuturkan bagaimana indahnya dan semangat kerja keras kami di Tempo Interaktif dulu. “Saya kenal Hani jaman TI, Tempo Interaktif dulu. Kami media pertama untuk online dan tetap semangat kerja meski di lapangan banyak yang mempertanyakan Tempo Interaktif itu apa?” kata Veven di depan forum diskusi tersebut.

Veven merupakan sosok orang rendah hati yang meski memiliki nama besar, jam, dan pengalaman panjang tak membuatnya sombong atau susah berbagi ilmu. Dengan wartawan muda atau mahasiswa baru yang menemui atau menjadikan dirinya sebagai narasumber dan pusat referensi, Veven tetap terbuka dan memberikan banyak pelajaran, pengetahuan, dan wawasan.

“Saya membaca buku-buku Mas Veven. Dan setelah saya bekerja satu tim saat ini dengan Mas Veven, saya banyak diajari berbagai pengetahuan tentang menulis. Awalnya saya takut, merasa ngeri dengan sosok Mas Veven yang sangat melegenda sekali. Tapi setelah berkenalan, ternyata beliau tak sesombong yang saya bayangkan,” kata Aruni Sitompul yang menjadi anggota tim di sebuah pusat riset nasional, Jakarta.

Lain lagi dengan Galuh Ruspitawati, wartawan tabloid Cempaka, yang mengaku pernah merasa terbantu dengan sosok Veven. Tahun 1998, Galuh mengenal Veven dalam diskusi sastra yang digelar aktivis mahasiswa.

Saat itu, Galuh yang sedang menyelesaikan skripsi mengaku takjub dengan Veven. Sebab, meski dia baru mengenal sosok Veven, tapi Veven berkenan membantu skripsinya yang mandek atau terhenti di tengah jalan. “Dari Mas Veven, aku mendapat banyak bahan dan literatur untuk skripsiku. Mas Veven membantu memberikan literatur budaya Betawi plus rekomendasi ke beberapa tokoh budaya Betawi. Dia sosok pemberi semangat dan sosok guru sejati,” kata Galuh sedih.

Kedekatan Veven tak hanya dengan para mahasiswa dan wartawan. Politikus dan Menko Hatta Rajasa pun menaruh perhatian khusus dengan sosok penulis berkulit hitam manis ini. Sabtu, 11 Mei lalu, Hatta menyempatkan diri menjenguk Veven yang saat itu masih terbaring di ICU Rumah Sakit Adi Husada, Kapasari, Surabaya.

Dalam pesan pendek melalui telepon seluler yang dikirim Terry, istri Veven, kepada Tempo, Sabtu lalu Hatta menjenguk Veven bersamaan dengan kunjungannya ke Surabaya untuk memberikan kuliah umum Tantangan Insinyur dan Scientist dalam AFTA 2015, di Institut Teknologi Surabaya.

Seperti dituliskan Terry, Hatta mengaku bahwa Veven adalah sahabatnya. Dan dalam kondisi memprihatinkan begini, sahabat harus saling mendukung dan membantu. “Pak Hatta bilang meski jarang bertemu, dia mengenal Veven melalui karya dan tulisannya di media,” kata Hatta seperti dituliskan Terry.

Hatta Rajasa menyampaikan duka citanya. “Kita kehilangan seorang sahabat, budayawan, dan wartawan senior yang banyak memberikan kontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.

Kini, sosok Veven telah berpulang dalam damai dan tidur panjang untuk selamanya. Selamat jalan Mas Veven, kakak, sahabat, guru, dan inspirator sejati!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan