-->

Tokoh Toggle

Fahrudin Nasrulloh | Penggugah Sastra Jombang yang Mati Suri

Dengan keranda berwarna hijau, Fahrudin Nasrulloh (37), diantar ke peristirahatan terakhir di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Dusun Mojokuripan Desa Jogoloyo Kecamatan Sumobito Jombang. Tetesan air mata dan lantunan kalam Illahi mengiringinya, Jumat (31/5/2013).

Sebagaimana diwartakan situs daring beritajatim.com, 31 Mei 2013, banyak orang merasa kehilangan atas meninggalnya cerpenis muda ini, tak terkecuali Nasrul Illahi (Cak Nas), budayawan yang juga adik adik kandung Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Bagi Cak Nas, Fahrudin merupakan oase di tengah keringnya dunia satra di Kota Santri. Bahkan, Fahrudin juga mampu menggugah khasanah sastra di Jombang yang mati suri.

Cak Nas menceritakan, tahun 2000-an dunia satra di Jombang dalam kondisi memprihatinkan. Hal itu terlihat dari minimya karya sastra dan juga keringnya komunitas pegiat dunia tulis tersebut. Kalau pun ada, lanjut Cak Nas, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Fahrudin sendiri saat itu masih bermukim di Yogyakarta, karena memang sedang menyelesaikan studinya di UIN Sunan Kalijaga. Waktu terus berjalan. sekitar tahun 2007, sulung dari tiga bersaudara ini kembali ke kampung halaman. Nah, sejak saat itu dia terus menggelorakan dunia satra di Jombang.

Tulisan-tulisan ‘nakalnya’ mulai menghiasi sejumlah media lokal dan regional. Bahkan, dalam rubrik sastra di koran terbesar di Jatim, tulisan Fahrudin selalu mejeng tiap hari minggu. Tidak cukup itu saja. Ia juga kerap mengumpulkan koleganya untuk berdiskusi tentang sastra di Jombang serta mendirikan komunitas-komunitas pegiat sastra.

Menurut Cak Nas, Fahrudin yakin, dengan banyaknya komunitas tersebut, maka akan mampu meniupkan kembali ruh sastra di Jombang yang lama mati. Fahrudin sendiri kemudian mendirikan komunitas Lembah Pring di rumahnya. Gayung pun bersambut. Komunitas serupa mulai bermunculan seperti jamur di musim hujan.

“Alhamdulillah, sejak itu dunia sastra di Jombang mulai menemukan ruhnya kembali. Sekali lagi, semua itu tidak lepas dari peran Fahrudin. Kami berharap ada generasi yang meneruskan perjuangan Fahrudin dalam bidang sastra,” kata Cak Nas saat memberikan sambutannya di lokasi pemakaman.

Karena kegigihannya menghidupkan sastra itu pula, lanjut Cak Nas, Fahrudin pernah dicap sebagai teroris. Ceritanya, sekitar tahun 2010, komunitas Lembah Pring membedah tiga buku hasil karya seniman Lekra. Masing-masing buku itu ‘Kisah-kisah dari tanah Merah’, kemudian ‘Tanah Merah yang Merah’ dan ‘Gelora Api 26’.

Namun di tengah gayengnya acara, sejumlah intel menyatroni diskusi tersebut. Akibatnya, warga sekitar juga ikut panik, dan acara itu nyaris dibubarkan. “Karena itu pula, saya mewakili almarhum memintakan maaf atas kesalahpahaman waktu itu. Saya berani menggaransi bahwa apa yang dilakukan almarhum karena ingin menggerakkan sastra, bukan lainnya atau juga teroris,” urai adik kandung budayawan mbeling Emha Ainun Najib ini.

Terlepas dari itu semua, Fahrudin sendiri memang dikenal sebagai penulis yang produktif meski usianya masih muda. Dari tangannya lahir berbagai tulisan yang menghisasi media massa. Selain itu, almarhum juga menulis sejumlah buku dan kumpulan cerpen. Puisinya termuat dalam antologi Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang Budaya, 2006, Yogyakarta). Cerpennya berjudul Nubuat dari Sabrang masuk nominasi dalam antologi cerpen Loktong (kerjasama CWI dan MENPORA, 2007, Jakarta).

Beberapa buku yang telah terbit Syekh Branjang Abang (Pustaka Pesantren, 2007), Geger Kiai (Pustaka Pesantren, 2009). Fahrudin sendiri lahir di Jombang, 16 Agustus 1976. Usai menuntut ilmu di pesantren Denanyar Jombang (1995) dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2002). Namun sayang, di tengah produktifitasnya yang tinggi itu, Fahrudin dipanggil Sang Khalik karena mengalami gagal ginjal. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD dr Soetomo Surabaya, Kamis (30/5/2013) pukul 16.50 WIB.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan