-->

Kultwit Toggle

#HaulPram 30 April -> “Akhir Pasar Malam Setelah 66 Jam”

Booklovers, pkl 08.55 WIB, 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer (PAT) wafat di Jl Multikarya, Utan Kayu, Jakarta. Kami masih menyimpan catatan jam demi jam hingga PAT wafat. Dokumen itu ada di @warungarsip. Dokumen jurutulis @warungarsip itu bertarikh 27 April 2006 (pkl 15.00) hingga 30 April 2006 (pkl 08.55). Jadi, catatan 66 jam. Dokumen yang kami kultwitkan ini berjudul: “Akhir Pasar Malam Setelah 66 Jam”.

1 “Akhir Pasar Malam Setelah 66 Jam” | #HaulPram | 30 April | Dokumen catatan harian 66 jam hingga Pram wafat di Utan Kayu, #Jakarta

2 – 27 April 2006 | #HaulPram

3 – 15.00 Mengendarai bajaj, Mujib Hermani, Muhidin M Dahlan, dan Mike “Marjinal” berangkat ke kediaman Pram di Utan Kayu dari Rumah Biru belakang PerpusNas Salemba ke Utan Kayu

4 Di Utan Kayu hanya ada keluarga. Tak ada tamu lain. Ada Mas Yudi, Mbak Titi, Bu Maemunah dan beberapa lagi di kamar belakang.

5 – 15.30 Mujib, Muhidin, Mike tiba & langsung menuju peraduan dimana Pram terbaring lemah dan kurus. Mujib menyerahkan ammplop kepada Mbak Titi, tapi diserahkan kembali kepada Mujib.

6 “Bacakan sendiri saja,” kata Mbak Titi. Amplop itu adalah undangan buat Pram menjadi pemrasaran utama pada Kongres Front Perjuangan Pemuda Indonesia pada 11 Mei 2006.

7 Sadar ada yang datang, Pram buka mata. Mata itu mencari-cari & mengenali. Ia lalu bertanya: “Ada kabar apa?” Jawab Mujib setengah tereak: “Ada undangan kongres pemuda.”

8 Pram terdiam sejenak sebelum meluncur pernyataan singkatnya: “Oh… pemuda. Pemuda harus melahirkan pemimpin.” Ucapan yg selalu dia ulang2 di pelbagai pertemuan.

9 – 15.45 Pram terkulai kembali dg napas tersengal-sengal setelah Mujib didapuk membacakan isi undangan.

10 – 16.15 Semuanya duduk di beranda. Sementara Muhidin & Mas Yudi ke belakang mengambil buku-buku #Pram terbitan Lentera Dipantara utk diiklankan di tabloid Indonesia Buku edisi khusus #Pram.

11 – 16.45 Novelis dan jurnalis MI, Chavchay, muncul dg naik motor. Dan langsung masuk kamar melihat kondisi Pram yang napasnya kian tersengal-sengal.

12 Dalam kamar, Mujib, Mbak Titi, dan Mas Yudi berunding apakah Pram dibawa ke rumah sakit atau tidak. Rokok kretek Djarum tergeletak di meja dlm kondisi terbuka.

13 – 17.24 Pram kambuh lagi sakitnya. Ia terus mengerang. Sekeluarga kemudian kumpul lagi di kamar. Beberapa kali Pram minta buang air kecil. Walau Mbak titi sudah mengingatkan kencing di tempat saja karena dipakaikan diapers, toh Pram ngotot ke kamar mandi. Chavcahay, Mujib, dan Mike memapahnya ke kamar mandi. Saat itu saya kaget melihat belakang PAT yang tak berkain. Sangat kurus. “Sudah sepekan tidak makan. Ayo Jib, suapin. Suruh minum,” kata Mbak Titi. Mujib pun menyodorkan selang minuman vitamin bercampur diabetasol. Berkali-kali.

14 – 17.40 Kembali lagi duduk di beranda. Yudi menyodori Muhidin faktur terima buku yang berjumlah 8 eksemplar.

15 – 17.50 Derry datang dengan mengeluh standar kaki sepeda motornya rusak. Chavchay melompat. Mengira Derry ditabrak. “Wah, si Derry keterangannya nggak jelas. Saya juga takut kalau mukulin yang punya mobil, eh salah lagi. Urusannya bisa panjang,” gerutu Chavchay.

16 – 18.00 Kami saling mencandai lagi. Satu sama lainnya. Sebelum kemudian bubar karena PAT mengerang kesakitan lagi.

17 – 18.30 Kondisi PAT kian memburuk. Sementara belum ada kepastian akan dibawa ke rumah sakit atau tidak. “Susah, oma yang nggak sepakat. Dia kasihan lihat PAT disuntik terus. Badannya sakit.”

18 – 18.35 Kondisi PAT kian memburuk. Saat itu Mujib yang ditemani Mike dan Yudi bertanya: “Mau dibawa ke rumah sakit?” “Mau!” Pram menjawab. Atas anggukan itu, diumumkan semua keluarga untuk bersiap-siap. Termasuk Oma. Mbak Titi sibuk mencari semua berkas. Dan terutama sekali nomor telepon rumah sakit maupun dokter pribadi yang biasanya mengobati Pram, dr Sukendar. “Dokter, ada di mana sekarang. Saya Titi, putri Pak Pramoedya Ananta Toer. Pak Pram lagi sakit keras. Ada di mana?” kata Mbak Titi dengan suara yang tertahan. “Masih di India.” “Ada rujukan dokter lain?” Entah sampai sejauh mana pembicaraan itu.

19 – 19.00 Rita datang bersama keluarga. Rencana awalnya akan naik mobil keluarga. Tapi karena kondisi PAT, maka dipanggilkan ambulans. Mbak Titi berangkat mandi. Semua keluarga telah terkumpul semuanya.

20 – 19.20 Chavchay dan Mike pesan bakso. “Din, lihat tuh. Anak punk suka bakso. Sebelum tampil ngeband harus makan bakso dulu,” canda Mujib.

21 – 19.25 Chavchay masuk dapur mengambil sepiring nasi (yang 10 menit kemudian diulanginya lagi alias nambah) untuk disantap bersama bakso.

22 – 19.35 Ambulans datang. Dan langsung mempersiapkan evakuasi. Mike dan Chavchay berlomba menyelesaikan baksonya. Sementara yang lain sibuk ke sana kemari. Terlihat Pram mulai tak sabar sebelum ia dipindahkan ke dalam tandu.

23 – 19.48 Ambulans berjalan perlahan. Ikut ambulans: Mbak Titi, Mujib, Muhidin, dan seorang petugas. Sementara Viro berada di depan. Pram masih terbaring lemah. Tanpa suara. Hanya infus. Chavchay dan Mike naik motor. Yudi dan menantu masing-masing membawa mobil dengan isi penuh.

24 – 20.00 Masuk ke UGD RS St Carolus. Mike dan Chavchay bersiap mendorong. Demikian juga Mujib dan Muhidin. Berturut-turut keluarga masuk. Saat itu pasien-pasien atau pengunjung sempat kaget lihat penampilan Mike yang punk abis yang dengan gagah bersedekap dengan tato di sekujur lengan dan rambut gimbal. Pram terus mengerang dan menahankan sakit lambung dan dada. (semalaman begitu)

25 – 20.15 Mbak Titi dan Yudi sibuk mengurusi administrasi. Sementara semua keluarga tumplek blek dalam ruangan yang beberapa kali ditegur perawat agar keluar separuh.

26 – 20.45 Berombongan orang datang. Terutama teman-teman dari salemba maupun dari Utan Kayu. Dinal dari Lesbumi juga datang. Mereka datang setelah Mujib dan yang lain-lain mengabarkan Pram masuk UGD St Carolus. Muhidin pun diwawancarai Jawa Pos untuk konfirmasi keberadaan Pram. Mike dan Chavchay keluar dan tak kembali lagi.

27 – 21.00 Mas Taufik datang bersama Pak Eko dan Bunda Maria Adriana dari LKBN Antara.

28 – 21.30 Bunda Maria pamit. Dan Mas TR, Dinal, Mujib, Muhidin mencari makanan di luar rumah sakit. Semuanya kembali ke UGD kecuali Mas TR langsung balik.

29 – 21.45 Ucu Agustin mengambil dan merekam gambar dengan kamera kecilnya. Usaha ini dilakukannya semalaman hingga pindah ke ICU.

30 – 22.50 Pram terus mengerang. Selang-selang sudah bergelantungan. Beberapa kali terlepas.

31 – 23.30 Sudah banyak keluarga yang terkulai di kursi.

32 – 23.50 Tensi darah Pram masih naik turun. Tapi gula darahnya sudah turun dari 800 menjadi 400 karena suntikan. Untuk memastikan apakah di ICU atau rawat inap biasa menunggu 4 jam. Jadi sekitar jam 04 baru diketahui kepastiannya.

28 April 2006

33 – 01.00 Keluarga memutuskan pulang kecuali yang tertinggal Yudi, Muhidin, Mujib, Ucu Agustin dan asistennya, Mbak Titi, Vicky, Vito, dan Dinal. Mereka inilah yang menjaga sekaligus petugas piket.

34 – 01.30 Mbak Titi, Mas Yudi, Mujib, Muhidin, dan Dinal berunding apakah Pram masuk ICU atau tidak. Mayoritas menyetujui tak usah. Cukup di ruang rawat VIP saja. Dokter memang memberi dua alternatif apakah di ruang rawat biasa atau VIP dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Masih mengambang.

35 – 01.45 Wartawan Trans TV datang. Langsung mengambil gambar. Ditemani Mbak Titi dan Mujib.

36 – 02.00 Wartawan MetroTV juga tiba.

37 – 02.30 TV7 muncul.

38 – 03.15 Reporter An TV datang tergopoh-gopoh. Kedatangan kru TV ini menyadarkan para perawat yang sebelumnya acuh tak acuh terhadap pasien bernama Pramoedya Ananta Toer kemudian rajin menengok. Bahkan dokter piket juga demikian.

39 – 03.30 Semua penjaga piket berunding kembali. Entah bagaimana lalu diputuskan ICU. Pertimbangan perawat karena usia Pak Pram yang tak mungkin dituangkan sebanyak mungkin cairan ke dalam tubuhnya.

40 – 05.00 Pram masuk ICU

29 April 2006

41 – 09.00 Pram mengalami kritis. Soesilo, adik Pram, menguatkan spirit Pram akan usia. “Ini masih 81. Kuat. Kuat. Janjinya kan 100 tahun.”

42 – 16.38 Mengalami koma. Kondisi ini membuat perawat dan dokter menyerah. Bahkan detak jantungnya berada di titik nadir dan berkali-kali tensi darahnya hilang dari layar kontrol. Semua keluarga hanya pasrah dan berdoa. Putra-putri, cucu, dan kerabat dekat berkumpul. Istri Pram, Maemunah Thamrin sempat shock dan dipapah ke ruang lain.

43 – 17.15 Masa kritis lewat. Tapi Pram meminta untuk dipulangkan saja. Perundingan cukup a lot. Pram bersikeras untuk dibawa pulang. Pada akhirnya keluarga menyerah pada kehendak Pram. Bersepakat untuk membawanya pulang.

44 – 18.30 Pram keluar dari St Carolus dengan ambulans.

45 – 19.00 Pram tiba di rumah. Memberi sapaan kepada warga yang sudah menantinya di mulut gang depan rumah Utan Kayu.

46 – 19.15 SMS liar yang mengatakan Pram telah wafat beredar luas.

47 – 19.55 Pram kembali kritis. Nyanyi tangis kembali meriuh dari keluarga, sobat, dan cucu-cucunya yang mengitarinya dengan perasaan was was. Mujib bilang: “Pram akan drop saat tak ada orang yangdikenal PAT di sisinya.”

48 – 20.05 Pram tertidur. Semua sibuk menangkis SMS-SMS yang mengabarkan bahwa Pram telah meninggal. Bahkan orang-ornag yang berdatangan mengira Pram benar-benar telah meninggal.

49 – 20.35 Guru ngaji cucu Pram memperdengarkan kalimah La Ilaha Ilallah hingga sekeras-kerasnya yang membuat riuh rendah dan sesak dalam kamar. Bahkan ada yang sudah mengucapkan kalimat perpisahan: inalillahi……. yang membuat Mujib marah sekali.

50 – 20.49 Mbak Titi teriak-teriak membangunkan Pram. Ruangan sesak lagi. Stasiun televisi dan wartawan sudah berkumpul sangat banyak.

51 – 21.00 Pram minta rokok dan buah. Dia sempat menjawab akan tetap kuat dan kuat sambil mengepalkan tinju ketika Romo Mudji dan Budiman Sudjatmiko menguatkan semangatnya.

52 – 21.45 Karena melihat banyak orang di ruang tamu mengobrol tiada jelasnya, guru ngaji membagi-bagikan Yasiin. Pembacaan doa dan yasinan pun berlangsung.

53 – 22.00 Wartawan di pelataran ngerumpi tentang SMS-SMS yang mengabarkan wafatnya Pram.

54 – 22.24 Soesilo memberi keterangan kepada pers di beranda tentang penyakit paru-paru yang diderita Pram. “Itu pertama kali saya dengar penyakitnya dari dokter. Selama ini ia tak memberitahu penyakit itu.”

55 – 22.41 Semua menunggu. Hening. Pram beristirahat. Mas Taufik Rahzen tiba.

56 – 22.42 Rieke Diah Pitaloka datang. Langsung masuk ke dalam rumah.

57 – 23.00 Oksigen dalam tabung besar datang.

58 – 23.24 Taufiqurrahman Ruki bertamu dan melihat Pram.

30 April 2006

59 – 01.00 Pram membisiki kepada Mujib, Titi, Yudi bahwa ia sudah nggak kuat. Ia juga minta api. Ingin membakar sampah. Ketika disodorkan korek api gas, Pram bisa menyalakannya.

60 – 02.27 Pram koma lagi. Tapi orang-orang sudah tak terlalu ramai seperti sebelumnya. Sudah banyak para penjenguk pulang. Tinggal hadir keluarga dan beberapa kerabat, sobat, dan kawan angkatan muda.

61 – 02.45 Mas Taufik Rahzen bersama salah satu keluarga memikirkan bagaimana cara melakukan transfer energi kepada Pram secara bergantian.

62 – 03.08 Pram kritis kembali. Semua keluarga berkumpul. Tangis kembali membumbung. Iringan syahadat kembali diperdengarkan ke telinga Pram yang bernapas tersengal-sengal dengan tatapan kosong.

63 – 03.55 Hanya tinggal beberapa orang di luar. Mujib Hermani, Taufik Rahzen, Chavchay, Muhidin, Binhad, Dinal, Zen, Ella, Yudi yang berkumpul dan minum kopi di beranda.

64 – Suasana sangat sepi. Bahkan sempat membahas jika Pram pada akhirnya dipanggil yang maha kuasa perlu dipikirkan bagaimana dan di mana penguburannya.

65 – 05.00 Pram minta turun di ranjang. Juga minta rokok kepada Mujib. Tapi tak diberi. Kepada Ucu Agustin juga minta rokok. Mujib bilang jangan. Tapi pada akhirnya diberi juga. Tapi tak dibakar. Pram tersenyum.

66 – 06.00 Semua yang berpiket sudah mulai kelelahan. Mujib pamit pulang. Muhidin dan TR juga pamit pulang sejenak untuk bertukar pakaian.

67 – 07.00 Mujib kembali balik. Menuju studio untuk pejamkan mata sejenak. Sebab Pram mulai tampak lebih baik. Suaranya pun sudah terdengar. Pram ingin membakar sampah.

68 – 08.49 Pram mulai mengejang. Mbak Titik teriak-teriak memanggil semua. Dengan wajah kusut semuanya kembali berkumpul. Merapat. Tapi Pram sudah dalam posisi sangat tenang. Ada sembilan orang yang mengiringinya kemudian disusul keluarga yang lain. Chachay menuntun doa. Semuanya tampak tegang yang kemudian secara bersama-sama dipecahkan oleh tangis Mujib dan Yudi.

69 – 08.55 Pram meninggal dunia dengan tenang. Hanya dikelilingi keluarga & org2 dekatnya. Tanpa pers. Tak ada keramaian.

Demikian dokumen “Akhir Pasar Malam Setelah 66 Jam” yang diarsipkan juru tulis @warungarsip. Sampai jumpa pada kultwit berikutnya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan