-->

Tokoh Toggle

Zara Zettira ZR | Anak Simbok Yang Doyan Menulis

Kariernya di dunia penulisan sudah begitu panjang. Puluhan buku sudah ditulis, tak terhitung lagi karya cerpen dan skenario sinetron. Kisah hidupnya sangat kaya warna, barangkali seperti sebagian kisah yang ditulisnya.

Aku lahir di Jakarta 5 Agustus 1969 sebagai sulung dua bersaudara. Adikku, Zisca Zevira, lahir tahun 1975. Orangtuaku, pasangan Zainuddin dan Oni Martalita Timotius, memberiku nama Zara Zettira. Aku menambahkan ZR di belakang namaku. Dua huruf ini singkatan dari nama ayah dan kakek, Ramadi. Tubuhku mengalir darah Padang-Banten dari Bapak, sedangkan Ibu berdarah China-Belanda.

Lucunya banyak yang menyangkaku keturunan Jawa. “Zara, kamu orang Jawa, ya?” Aku, sih, tersenyum saja. Kok bisa, ya? Mendengar logatku, orang memang mengira aku dari Jawa. Padahal, gaya bicaraku yang mendok Jawa ini kutiru dari pembantu rumah tanggaku yang biasa kusapa Simbok.

Simbok sangat setia kepada keluargaku. Dia sudah bekerja di rumah kami di kawasan Menteng, sebelum aku lahir sampai beliau meninggal tahun 1990. Lucunya, sampai akhir hayatnya, aku tidak tahu namanya. Bahkan, orangtuaku juga tidak tahu nama aslinya. Sejak datang ke rumah, ia langsung dipanggil Simbok (panggilan dalam bahasa Jawa yang berarti Ibu).

Samar-samar kuketahui, Simbok adalah janda yang pisah dari suaminya. Anehnya, sang suami pernah datang ke rumah menemui Simbok. Ia mau kawin lagi dan minta bantuan uang dari Simbok untuk biaya perkawinan. Dengan segala ketulusannya, Simbok mau saja membantu dengan memberikan kalungnya dan pinjam uang pada orangtua. Katanya, “Kasihan kalau enggak dibantu, calon istrinya sudah hamil.”

Suka Ngendon Di Rumah

Buatku Simbok adalah sosok orang hebat. Dialah yang mendidik dan menasihati aku. Ayah dan Ibu, kan, sama-sama sibuk. Mereka sering ada acara di luar. Di rumah, ke mana-mana aku selalu nginthil Simbok. Simbok pula yang mengajari aku membaca. Seingatku, umur empat tahun aku sudah bisa baca koran. Belajarnya, dari koran pembungkus barang-barang belanjaan Simbok. Aku belajar membaca sambil menemani Simbok memasak. Tiap aku mulai mengeja, Simbok yang membetulkan kata yang kuucapkan.

Suatu saat, aku membaca koran di hadapan Bapak. “Mbak, kamu baca apa?” tanya Bapak. Ketika kujawab sedang baca koran, Bapak tentu saja kaget. Bapak langsung heboh, sampai-sampai dia enggak jawab waktu kutanya kenapa di koran ada tulisan yang pakai huruf besar, tapi ada yang pakai huruf kecil. Bapak tidak tahu, diam-diam aku sudah belajar membaca.

Hubunganku dengan Simbok begitu dekat. Dialah yang selalu menemaniku di rumah. Apalagi, semasa kecil aku termasuk sangat pemalu. Aku lebih suka berdiam di rumah dan main-main bersama Simbok. Ketika aku ulang tahun, enggak pernah aku mengundang teman-teman. Bisa dibilang, sejak TK sampai SD, aku nyaris enggak punya teman. Aku lebih nyaman berdiam di rumah yang terbilang luas. Di situ ada beberapa paviliun yang ditempati keluarga Bapak, Om, dan rumah yang paling besar ditempati nenek.

Di sekolah, aku hanya berteman dengan Ali. Kebetulan, kami sama-sama kutu buku. Klop. Selain itu, aku enggak punya memori bermain dengan teman. Belakangan ini saja, aku bertemu dengan teman-teman SD, lewat Facebook. Ada seorang yang menyapa, “Zara, kamu ingat enggak dengan teman SD-mu.” Aduh, aku hanya samar-samar mengenalnya.

Malas bergaul dengan teman, tapi aku sangat rajin menulis. Waktu itu, aku sering menulis di buku harian, sehari sampai berlembar-lembar. Karena gemar menulis, buku jadi gampang penuh. Kegemaran lain, aku gemar membaca majalah anak-anak, salah satunya Bimba. Nah, saat kelas 4 SD Theresia ini, aku membaca rubrik Pengalamanku di Bimba. Rubrik ini bisa ditulis pembaca.

Rubrik ini merupakan pengalaman unik dan si penulis diberi tema tertentu. Salah satunya tentang Upacara Bendera. “Silakan mengarang cerita unik yang ada kaitannya dengan Upacara Bendera.” Wah, aku senang sekali. Aku menulis berdasarkan pengalamanku sendiri. Ceritanya, pas upacara bendera, aku mimisan lalu pingsan. Pengalaman inilah yang kutulis. Selanjutnya, Simbok mengirimkan naskah yang kutulis tangan ini via pos. Selang beberapa minggu kemudian, tulisanku dimuat. Bukan main girangnya. Apalagi, aku dapat hadiah dari Bimba. Antara lain kotak pensil, tas, dan buku-buku. Itulah pengalaman pertamaku menulis di majalah.

Senang Jadi Penulis

Ketika masuk SMP, aku mulai berteman. Tapi, karena tetap pendiam, aku enggak punya banyak teman. Di antara yang sedikit itu, ada beberapa teman yang curhat padaku. Ada yang habis putus sama cowoknya, ada juga yang curhat karena orangtuanya mau kawin lagi. Mungkin mereka percaya curhat denganku karena tahu aku begitu pendiam, tak mungkin cerita mereka bocor ke mana-mana. Kelak, sebagian ungkapan mereka menjadi latar belakang ceritaku.

Suatu saat di kelas 1 SMP itu, aku membaca Majalah Anita Cemerlang. Kubaca-baca cerpennya. Dalam hati aku membatin, rasanya bisa juga aku bikin cerpen. Dari situlah aku tahu Anita mengadakan lomba menulis cerpen. Aku langsung tergerak untuk ikut. Kupon formulir di majalah kupotong sebagai syarat lomba.

Apa yang ingin kuceritakan dalam cerpenku? Naskah yang kutulis ini berdasarkan curhat kawanku yaitu tentang ibunya yang kena kasus foto porno. Selebihnya aku berimajinasi sendiri. Mulailah aku mengetik sendiri naskah cerpen pakai mesin ketik lama. Tadinya mau buru-buru selesai. Akibatnya banyak kata-kata salah. Padahal, saat itu belum populer Tipp Ex untuk menghapus. Jadilah, aku menulis pelan-pelan sampai selesai 12 halaman.

Ternyata, aku berhasil meraih juara 2. “Enak juga jadi penulis,” pikirku. Hadiahnya memang besar untuk ukuran masa tahun 80-an itu. Aku mendapatkan uang Rp 200 ribu. Aku tergerak untuk lebih aktif menulis. Apalagi, kakak-kakak Redaksi Anita mendorongku, “Zara, nulis dong, jangan berhenti di sini.” Wah, senang sekali ketika cerpen-cerpenku terus dimuat. Honornya per cerpen Rp 25 ribu. Selain itu, aku juga menulis novel atau novelete. Banyak juga penerbit yang bersedia menerbitkan karyaku. Wah, enak sekali, aku enggak perlu kerja kantoran.

Mama, sih, selalu bilang, boleh saja aku kerja jadi penulis, asalkan menyandang gelar sarjana. Beda dengan Papa yang tidak ada syarat apa-apa, yang penting aku senang. Persentuhanku dengan dunia tulis-menulis sedikit mengubah kepribadianku. Popularitas membantuku yang semula pemalu. Aku bisa ngadepin orang, enggak begitu pemalu lagi.

Menang Lomba Model

“Zar, ini ada lomba Gadis Sampul, mau ikut enggak?” begitu seorang teman memberi informasi. Tak sekadar itu. Ia malah begitu menyemangati aku. Aku pun ikut sekadar ingin coba-coba dan tak pernah berpikiran bakal menang. Temanku yang mendaftarkan. Ternyata hasilnya tak mengecewakan. Aku jadi finalis Gadis Sampul tahun 1983 ketika SMP. Kembali temanku mendaftarkan aku ke berbagai acara.

Prestasiku kian panjang. Tahun 1985 aku menang Putri Remaja 85, juara 2 Gadis Sampul tahun 1987, Putri Kampus 88, Noni Jakarta Favorit 88. Semuanya berkat dorongan dan semangat teman-teman. Selalu saja mereka bilang, “Kamu pasti menang.”

Lama-lama karena sering ikut, aku jadi terbiasa menghadapi orang. Yang menyenangkan, aku bertemu dan sering ngobrol dengan kawan-kawan wartawan, salah satunya Mas Bens Leo. Kukatakan, sebenarnya aku ingin jadi penulis saja, bukan foto model. Mas Bens salah satu wartawan yang mengajari aku menulis. Aku pun makin yakin, menulis bisa jadi bekal mendapat pekerjaan, baik di majalah atau periklanan. Aku makin mantap jadi penulis.

Meski sudah sering menang di berbagai ajang, aku kerap menolak panggilan jadi model dengan berbagai alasan. Misalnya saja sakit. Padahal, kalau mau, ajang ini bagus untuk menuju popularitas. Terbukti banyak teman jadi artis bermula dari ajang seperti ini. Aku, sih, lebih senang jadi penulis saja. Apalagi, banyak kemudian majalah yang menawariku menulis cerpen. Aku mulai menulis cerita untuk beberapa majalah dan terus dimuat. Menulis sudah jadi kebutuhan. Kalau enggak menulis aku malah bingung.

Tak terasa, hingga kini sudah sudah 30 tahun aku menulis. Aku sudah memiliki ratusan cerpen dan puluhan judul cerita berasambung. Selain bikin buku cerita, aku sering pula menulis cerita.

Melangkah ke SMA, aku pernah bergabung dengan Swara Mahardhika (SM). Aku senang SM karena pada waktu itu memang ngetop banget. Aku mulai ikut seleksi awal dengan menirukan gerakan penari senior. Sungguh senang ketika aku diterima. Sebab, soal menari, aku memang suka. Sejak kecil aku pernah juga ikut les tari Jawa. Aku senang sekali Tari Bedhaya.

Bersama SM, aku pernah sekali ikut pentas dalam sebuah acara bridal fashion show . Ternyata, tari bukan duniaku. Aku tak merasa enjoy . Aku lebih senang jadi penulis.

Menikah Di Tengah Kekuatan Air

Sempat menjadi penulis skenario sinetron produktif, kehidupan perkawinan pertama Zara bak tragedi. Beberapa kali putus asa, sampai akhirnya perkawinan pun kandas. Di saat itulah ia bertemu sang tambatan hati yang mengubah hidupnya jadi penuh warna. Ia bahagia bersama dua anaknya dan tinggal di rumah asri di Kanada.

Lulus SMA, aku masuk Fakultas Psikologi, UI. Tiap hari aku ikut bimbingan belajar agar lolos. Sengaja aku ingin masuk Psikologi karena ingin memperbaiki penampilanku. Aku memang suka membaca buku-buku Psikologi. Meski banyak saingan dan tergolong fakultas favorit, aku berhasil masuk UI.

Namun, aku tidak cocok dengan suasana kampus. Aku susah banget dekat dan nyambung pembicaraan dengan teman-teman seumuran. Aku menganggap, cerita anak seumuranku sama saja dengan kisahku. Itu sebabnya, aku malah gampang akrab dengan satpam kampus. Aku betah berjam-jam ngobrol dengan mereka, termasuk mendengar ceritanya. Yang paling mengganggu pikiran mereka sebagai warga kebanyakan adalah soal masa depan anak-anak mereka.

Kampus tidak menjawab keinginanku. Semester enam, aku memutuskan meninggalkan kuliah. Mama bingung campur kesal. Ia, kan, ingin aku jadi sarjana. Papa, sih, tenang-tenang saja. Beliau selalu mendoakan dan mendukungku. Asalkan aku tidak menyakiti dan merugikan orang lain. Belakangan Mama mau mengerti, apalagi saat itu aku sudah kerja. Aku sanggup menunjukkan bisa cari nafkah dengan menulis.

Kala itu, aku bekerja di Cipta Citra (sekarang 1 citra), pindah ke Kreasindo (sekarang Leo Burnett), terakhir Nuvo. Hasil menulis kutabung dan setelah duit terkumpul, aku terbang ke LA. Di sana, aku numpang di rumah teman. Tidur gratis. Sambil terus menulis, aku ikut kursus film production .

Kalau ada uang lebih aku ikut workshop . Akan tetapi, kalau belum ada uang, aku main-main saja bersama teman-teman di LA sampai San Fransisco. Sungguh aku merasa beruntung punya begitu banyak teman yang baik. Mereka memberiku akomodasi gratis. Saking banyaknya teman, kadang siang sampai malam bisa makan gratis.

Pulang dari LA, teve swasta makin menjamur. Pak Raam Punjabi (pemilik rumah produksi Multivision) sudah mulai membikin sinetron. Judulnya antara lain Bella Vista dan Pelangi di Hatiku . Lalu, aku bergabung dan menulis skenario sinetron Janjiku dengan produser Manoj Punjabi. Aku eksklusif menulis untuk Multivision sampai hamil anak kedua dan memutuskan hijrah ke Kanada.

Selanjutnya, aku ikut Pak Leo Sutanto dari Indika, mendirikan Primavisi. Di Indika, skenario yang kutulis, di antaranya berdasarkan novel-novel Mira W yaitu Janji Hati , Jangan Ucapkan Cinta dll. Kami juga meluncurkan produk bartu FTV bersama SCTV. Dari Kanada, aku menulis beratus-ratus judul FTV, he he he. Setelah melahirkan anak kedua, aku sempat vakum sesaat.

Perjalananku menulis skenario makin panjang. Manoj yang membawa bendera baru MD Entertainment muncul lagi. Aku membantu MD dengan sinetron berjudul Dia 9 (hampir tiga tahun tayangnya). kemudian sinetron Mata Hati, Malin Kundang dan spesial Ramadhan (Hikmah 1, 2 , Ikhlas 1,2, Zahra ).

Sampai saat ini, aku kontrak mati sama MD Entertainment. Ha ha ha. Maksudnya hubungan kami sekeluarga dengan Manoj sudah seperti saudara. Jadi, sulit rasanya pindah ke PH lain. Ya, kami sudah merasa cocok. Begitulah, aku mengalir saja menjadi penulis skenario. Enggak pernah aku menawarkan cerita. Kalau ada PH datang, ya kusambut dengan baik. Bila ide sejalan, insya Allah bisa kami produksi bareng. Sebaliknya kalau konsepnya tidak cocok, anggap saja belum jodoh.

Hadapi Ujian Berat

Sebelum menikah dengan Zsolt Zemba, aku sudah cerai dari seseorang. Perjalanan pernikahan pertamaku menyedihkan sekali. Kekerasan dalam rumah tangga membuatku merasa tidak berarti. Efek psikologis domestic abuse membuatku begitu kecil. Sudah disiksa dan dihina, bukannya kabur melawan malah makin tunduk dan takut. Mau cerita, malu sama orang.

Sesungguhnya keinginan masa kecilku bukan untuk jadi penulis. Aku hanya ingin jadi ibu dan istri yang baik. Sempat aku bertanya, kenapa malah dikasih ujian berat dalam berumah tangga. Aku merasa hidup dan mati tidak ada bedanya.

Ada momen di mana aku mencoba bunuh diri beberapa kali. Tiga kali mencoba bunuh diri, tiga kali juga selamat. Dari situ aku sadar, yang susah bukan cuma bertahan hidup. Menjemput maut pun susah kalau belum waktunya. Aku sadar, hidup betul-betul bukan punya kita. Kesadaran itu merupakan titik balik dalam hidupku. Aku bertekad membuka lembaran baru. Tidak ada maksud mengungkit-ungkit atau menjelek-jelekkan pihak mana pun.

Sungguh beruntung aku punya banyak sahabat yang menyayangiku. Di antaranya Jody dan Manoj. Aku makin tegar. Aku pun menyiapkan diri untuk hidup mandiri. Saat itulah aku berkenalan dengan Zsolt Zsemba, pria Kanada, lewat internet. Anyway anyhow , aku ketemu Zsolt langsung di Montreal Quebec, pas ada festival film. Saat itu, aku dikirim meliput ke sana.

Setelah itu, gantian Zsolt ke Jakarta. Katanya, sih, liburan tapi ternyata dia enggak mau balik-balik ke Kanada sebelum lamarannya kuterima. He he. Aku, sih, mau saja. Dia mau menerima statusku yang janda. Tapi, Mama tidak setuju. Jadi, Zsolt dan keluarganya berjuang keras mengambil hati Mama. Mama dan adik Zsolt datang. Gitu deh sampai akhirnya kami menikah di Niagara Falls New York. Biar adil ya. Enggak menikah di Kanada dan Indonesia tapi di tengah-tengah. Dekat kekuatan air maha dahsyat. Kebetulan, aku paling suka air, sedangkan kata Zsolt, dia lebih suka matahari.

Tahun 1998, kami pindah ke Kanada. Sebelumnya, kami hidup di dua negara. Bolak- balik enam bulan di Indonesia, enam bulan di Toronto, sembari membangun rumah kami di Toronto, bersebelahan dengan rumah mertuaku Ann & George. Banyak manfaat tinggal bersama mertua. Dua anakku, Alaya Zsemba (14) dan Zsolt Zainuddin George Zsemba (8), dekat sama oma dan opanya. Semua persis seperti masa kecilku yang hidup di tengah keluarga besar (rumah gadang).

Tetangga Jagung dan Kuda

Alaya begitu dekat sama opa dan omanya. Sama Alaya tuh mereka kangen melulu. Terus dia melankolis selali. Maklum ya, namanya saja baru punya cucu. Anak-anakku, sampai sekarang jadi cucu mereka satu-satunya, karena adik Zsolt belum punya anak. Waktu kami tinggal di Indonesia, mereka maunya ketemu Alaya terus. Padahal mertuaku sudah sepuh. Apalagi mertua perempuan, kakinya suka bengkak-bengkak kalau terbang jauh dan kelamaan di pesawat.

Nah, ketika hamil Zsolt Zainudin alias Zsoltika, aku memutuskan melahirkan di Kanada. Maksudku biar mertua bisa terlibat dalam proses lahiran dan menikmati menjadi kakek-nenek. Waktu aku mau pindah, justru suamiku yang panik. Dia tahu, di Indonesia aku selalu ada pembantu dan sopir. Jadi, dia buru-buru mencarikan aku pembantu. Namanya Viki, orang Italia. Dia datang seminggu dua kali, dari jam 09.00 – 17.00. Waktu Zsoltika lahir. Zsolt juga carikan babysitter, namanya Sarah. Sarah membantuku merawat Zsoltika sampai umur tiga tahun dan masuk pre school .

Aku menikmati tinggal di Kanada. Termasuk benah-benah, masak, dan nyopir , semua kulakukan sendiri. Aku sudah betah tinggal di Kanada. Tapi, Mama enggak betah tinggal di rumahku. Sepi. Kami tidak tinggal di kota atau kompleks perumahan. Ibarat Jakarta, kami tinggal di Megamendung. Jauh dari mana-mana. Tetangganya kebun jagung, kuda, sapi. He he.

Ya, aku memang memelihara sapi, ayam, kambing, burung unta dan anjing. Dulu, tiap hari mungutin telor ayam sendiri. Bahkan menyembelih ayam dan membersihkan, semua kulakukan sendiri. Aku ini memang senang repot-repot, deh. Orangnya tak bisa diam. Tapi, setelah anak lahir, mesti slow down dikit ya. Kan sibuk sama anak.

Setelah anak-anak beranjak besar, kami commute ke daerah yang lebih dekat ke sekolah dan tempat les anak-anak. Kami pun pindah ke Mono Hokley. Ini juga masih di daerah gunung. Hi hi. Aku memang suka yang sepi-sepi. Kebetulan kami punya tiga ekor anjing herder yang perlu tanah luas supaya bebas lari dan tidak berisik diomelin tetangga. He he he.

Sekarang kami di Caledon, dengan luas tanah sekitar 4 hektar. Caledon itu adalah one of the highest point in Ontario . Dataran tinggi dengan pemandangan indah. Kalau cuaca cerah, Toronto Tower keliatan dari sini. Tempatnya masih segar. Sering ada ada rusa ngintip-intip dan cayote (sejenis anjing hutan) melolong-lolong kalau malam. Flora dan fauna masih wild banget. Burung tiap pagi berkicau depan jendela. Tupai suka jalan-jalan di bingkai jendela. I love nature and anak-anak juga love nature . Anak-anak bebas lari-lari tanpa perlu takut ketabrak mobil.

Aku masih sering pulang ke Indonesia, pas anak-anak liburan. Beberapa waktu lalu, kami sekeluarga liburan sekaligus aku ada acara launching buku terbaru, Prahara Asmara 2. Sampai sekarang aku memang masih suka menulis novel. Kesempatan pulang selalu kumanfaatkan bertemu dengan kerabat dan para sahabat. Menyenangkan sekali. (TAMAT)

Henry Ismono

*) Tabloid Nova, edisi 2 &  9 Juli 2009,

Foto:blog-zara.blogspot.com

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan