-->

Kronik Toggle

Transliterasi Pustaha Laklak

Permintaan warga Batak untuk mentransliterasi dan menerjemahkan pustaha laklak, kitab bertuliskan aksara Batak dan berbahasa Batak dari daun lontar, mulai muncul. Permintaan didasari keingintahuan apa isi pustaha laklak warisan leluhur itu.

”Sebelumnya justru warga asing yang meminta transliterasi dan terjemahan, kini warga Batak biasa (bukan peneliti) sudah ada yang ingin tahu isi pustaha laklak,” tutur ahli transliterasi dan penerjemah bahasa Batak, Manguji Nababan, yang juga peneliti di Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Nommensen, Selasa (18/12).

Manguji kini sedang mentransliterasi dan menerjemahkan pustaha laklak atas permintaan seorang warga. Setelah diteliti ternyata kitab daun lontar itu beraksara dan berbahasa Batak Simalungun berumur 200 tahun. Pustaha berisi semacam primbon soal hari baik, sesajian, syarat berperang, juga mantra-mantra.

Para penulis pustaha yang biasanya adalah dukun-dukun adat, menurut Manguji, tidak secara gamblang menuliskan maksud tulisannya karena si penulis pun enggan kehilangan ilmunya. ”Apalagi ada kepercayaan bahwa ilmu itu melekat pada diri sang dukun. Jika ilmu dibagi, maka kekuatannya akan hilang,” tutur Manguji. Maka, tafsir atas sebuah tulisan sangat diperlukan.

Menurut Manguji, dukun dalam tradisi itu adalah pemimpin masyarakat yang bijaksana dan tutur katanya dipatuhi.

Manguji mengakui, banyak warga menyimpan pustaha karena kepercayaan akan kekuatan gaib yang ada di dalamnya meskipun tidak memahami isinya. ”Saya mengapresiasi warga yang mau memahami isi pustaha laklak,” kata Manguji. (WSI)

*)Kompas, 19 desember 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan