-->

Kronik Toggle

Revisi Buku Sejarah, PDRI masuk Kurikulum

PADANG–Sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948 yang pada hari ini diperingati sebagai Hari bela Negara (HBN), akan diintegrasikan dalam pendidikan sejarah di Indonesia. Karena sejarah HBN akan otomatis bersangkut paut ketika bicara sejarah kemerdekaan danĀ  mempertahankan kemerdekaaan.

“HBN akan masuk ke dalam pembelajaran. Tanpa disuruh pun, otomatis akan masuk dalam pembelajaran sejarah,” kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Musliar Kasim kepada Padang Ekspres (Grup JPNN), Selasa (18/12).

Menurut mantan Rektor Unand sekaligus penerima PDRI Award ini, terbuka peluang ke depan merevisi buku-buku sejarah yang ada saat ini, jika di dalamnya belum termuat sejarah PDRI. Bahkan, bukan tidak mungkin akan masuk dalam kurikulum pendidikan. “Mudah-mudahan pada kurikulum baru bisa dimasukkan,” harapnya.

Terkait pemberian PDRI Award, Musliar Kasim menyambut baik penghargaan itu. Menurutnya, apa yang telah dilakukannya selama ini yang berhubungan dengan PDRI merupakan kewajiban sebagai warga negara untuk meneruskan dan menghargai sejarah. “Bagi saya pribadi apa yang telah saya lakukan itu adalah kewajiban untuk meneruskan dan meluruskan sejarah,” akunya.

Maka dari itu, katanya ketika seseorang sudah melakukan kewajibannya, dan memerjuangkan HBN, sah-sah saja jika ada pihak yang memberikan penghargaan. Termasuk anugerah PDRI Award yang rencananya juga bakal diberikan kepada Presiden SBY.

Dalam hal ini, ia melihat Presiden SBY jeli melihat bahwa PDRI adalah peristiwa yang sangat nasionalisme, tidak seperti dibayangkan orang sebagai peristiwa yang separatisme. “Jadi menurut saya intinya, pak SBY bisa melihat itu secara murni. Orang-orang yang berjuang menegakkan agar eksistensi negara ini tetap ada, dari PDRI itu,” tukasnya.

Bertepatan dengan Hari Bela Negara, ia mengajak segenap anak bang agar meningkatkan kompetensinya sebagai wujud cinta tanah air dan bela negara. Hari Bela Negara, menurutnya, jangan sekadar diperingati. Semangat bela Negara, harus diaplikasi dalam perbuatan sehari-hari. “Melekat dalam perbuatan sehari-hari, dengan mencintai negara tidak secara pasif. Ketika menjadi seorang pelajar, maka jadilah pelajar yang rajin agar mempunyai kompetensi memadai dalam mengisi kemerdekaan. Begitu pula ketika jadi seorang pekerja, maka jadilah pekerja yang bekerja produktif, memiliki integritas tinggi serta kemauan keras,” jelasnya.

Pria kelahiran Tanahdatar yang juga peraih PDRI Award itu menambahkan, HBN yang diperingati tiap 19 Desember, harusnya dapat dijadikan momen penting sebagai introspeksi diri, sudah sejauh mana rakyat atau bangsa saat ini mencintai dan membela negaranya.

Pertanyaan ini tidak terlepas dari kontrasnya kenyataan hidup yang dialami bangsa Indonesia saat ini. Banyaknya terjadi tawuran dan kerusuhan yang justru melukai bangsa sendiri, dan merusak infrastruktur yang notabene dibiayai uang negara. “Kita tahu infrastruktur itu dibayar dengan uang negara. Tapi menjadi pertanyaan mengapa kita masih saja tega merusaknya. Melakukan tawuran dan kerusuhan,” tukasnya.

Untuk itu kata mantan Rektor Universitas Andalas (Unand) Padang itu mengajak anak bangsa untuk mencintai negara ini. Caranya melalui kebersamaan seluruh rakyat Indonesia. Dengan persatuan dan kesatuan itu, negara ini bisa dibangun serta tumbuh besar dan kuat. “Kuncinya, mari bersama-sama ktia bersatu membangun negara ini. Janganlah kita bercerai berai lagi, seperti yang terjadi selama ini,” ajaknya.

Semangat cinta negara dan hidup dengan kebersamaan untuk mengisi masa depan, harus selalu ditumbuh kembangkan ditengah masyarakat. Dia tak segan memberi contoh semangat cinta negara yang selama ini ditunjukkan Amerika Serikat (AS). Karena salah satu aspek penting yang dipegang teguh negara maju seperti AS pun, adalah mencintai negaranya. “Amerika itu sangat bangga dengan negaranya. Mereka punya nasionalisme yang tinggi,” ujarnya.

Ini katanya, boleh saja ditiru, tapi bagaimana ke depan nasionalisme itu tidak saja sekadar nasionalisme, tapi yang paling penting impelementasinya.”Belajar dengan keras dan bekerja dengan giat demi negara,” tuturnya. (bis)

*)Jawapos, 19 Desember 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan