-->

Lainnya Toggle

Pengarang, Referensi, dan Eksistensi

Oleh: Budiawan Dwi Santoso

Dalam pameran buku International Frankfurt Book Fair 2011 bulan Oktober, di Frankfurt, Jerman, di situ ada salah satu sastrawan sekaligus profesor kondang hadir di acara tersebut. Umberto Eco, namanya.

Ia hadir dalam acara itu, tak sekadar mencari dan membeli buku. Kunjungannya di tempat tersebut tak lain untuk mempromosikan novel terbarunya, Il cimitero di Praga (Pemakaman di Praha).

”Saya perlu lima tahun untuk mengumpulkan buku tentang abad ke-19,” ungkap Eco. Ungkapan itu merupakan sebuah jawaban Umberto Eco ketika ditanya salah satu wartawan mengenai proses lahirnya novel terbarunya: Il cimitero di Praga (Pemakaman di Praha). Dari hal itu, saya langsung terbayang dan berkata dalam hati: ”Bahwa untuk membuat suatu karya dibutuhkan proses waktu yang panjang. Dan, itu membutuhkan kerja keras pula.”

Dalam berkarya, ia tak mau setengah-setengah. Daya pikir, waktu, dan segala tindakan sepertinya diharuskan sampai ”titik penghabisan darah”. Ini seperti yang pernah dibilang oleh novelis ternama dari Indonesia juga. Abidah El Khalieqy.

Khalieqy (2007) menyatakan bahwa proses kerja penulisan kreatif yang seperti dialami Umberto Eco itu adalah proses penulisan untuk mencapai ”target estetis”. Maka, sekilas, saya membenarkan bahwa berkarya sastra memang tugas estetis yang di dalamnya juga mengandung estetika. Ia melanjutkan bahwa yang dimaksud ”target estetis” ini adalah menulis dengan mengisyaratkan adanya target-target tertentu yang terkait dengan idealisme ke- pengarangan. Di situ, pembaca atau kita akan menemui bahwa hasil olahannya selalu mengandung hal-hal yang bersifat pembaharuan, pemberontakan, perlawanan, dan penemuan yang bersifat estetis lagi.

Lebih lanjut, persoalan menulis dengan ”disiplin” waktu tersebut lebih menonjolkan dan bersifat kualitatif. Maka, tak ayal bila pengerjaannya bisa sampai apa yang dialami Umberto Eco maupun Nietzsche, yang konon juga dalam menyelesaikan karyanya berjudul Zarathustra membutuhkan waktu 14 tahun.

Referensi

Nukilan riwayat di atas menandakan kepada kita semua bahwa persoalan mengarang— entah yang ditulis itu bergenre fiksi atau nonfiksi—ialah persoalan untuk berkelana, mencari, mengamati, menyantap-menyerap, bahkan menggauli berbagai fenomena, baik secara tekstual maupun kontekstual. Baik lewat buku ataupun dengan melihat realitas sosial secara langsung. Dan, mengenai referensi yang digunakan pengarang seperti yang dilakukan Umberto Eco maupun Nietzsche, kiranya membutuhkan banyak referensi.

Salah satu peristiwa yang bisa kita jadikan representasi kecil adalah perjuangan keras tim peneliti dari Jepang yang dimotori Kasuya Toshiki. Bersama timnya, yakni Edy Priyono, Urano Takao, Wakabayashi Satoko, mereka mengarang makalah berjudul Tinjuan tentang Terjemahan Buku-buku Bahasa Jepang ke dalam Bahasa Melayu (dalam Henry Chambert-Loir, 2009).

Dalam mengarang suatu karya tersebut ternyata membutuhkan usaha keras yang berbulan-bulan. Mereka berhasil mengumpulkan buku ”…sebanyak 130 buah. Dari jumlah itu, 99 buah buku terjemahan dalam bahasa Indonesia dan 31 buah buku dalam bahasa Malaysia.”

Alhasil, satu makalah yang mereka buat turut memasok bagi lumbung pengetahuan di Indonesia. Kita pun bisa mengetahui telah lama persilangan budaya antara Jepang dan Indonesia terjadi. Ini yang kemudian turut juga mentransformasi pemikiran kita semua.

Suatu referensi menjadi kekuatan untuk menyakinkan, mempersatukan pendapat—dalam hal ini bisa juga menyeragamkan pemikiran. Referensi telah memorak-porandakan iman pengarang maupun pembaca. Namun, yang menjadi pemikiran paling fundamental bagi kita adalah bukan sekadar itu.

Ada sesuatu yang dirasa pokok. Referensi yang digunakan oleh mereka, selain memajukan suatu peradaban, justru di situ ada kesan memberi, mengakui, dan mengapresiasi pada tokoh si pengarang bahkan Sang Penciptanya. Dan, berhubungan dengan kita, cara pencarian dan pemakaian referensi tersebut berarti turut menyeimbangkan kosmologi alam. Kita menyeimbangkan proses sirkulasi dengan pengarang, penerbit, distributor, dan ”penjual”. Di situlah ada hubungan yang manusiawi. Ada jalinan yang membuat mereka dan kita sendiri untuk mengakui keberadaan manusia yang ”mengada”.

Budiawan Dwi Santoso, Penulis Bergiat di Bilik Literasi

*)Kompas, 27 Desember 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan