-->

Kronik Toggle

Novel Pulang, Raline Shah Berjodoh dengan Lintang

Jakarta – Aktris Raline Shah mengaku pas dengan karakter tokoh novel Pulang. Ia merasa memiliki banyak kesamaan dengan tokoh dalam buku karya Leila S Chudori yang dibacakannya.

Pada peluncuran buku Pulang, gadis ini membacakan salah satu tokoh bernama Lintang Utara. Lintang Utara adalah gadis keturunan Prancis-Indonesia yang ingin membuat film tentang sejarah Indonesia untuk tugas akhir. Mahasiswa Universitas Sorbonne itu rela pulang ke Indonesia, tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya. Di Indonesia, Ia meneliti serta mewawancara tokoh-tokoh yang terkait peristiwa 30 September 1965. Padahal, saat Lintang pulang, pada Mei 1998 itu, kondisi politik Indonesia sedang tegang.

Latar belakang Raline sebagai lulusan National University of Singapore bidang Political Science and New Media Communication mirip dengan Lintang yang juga meneliti tentang masalah politik di Indonesia. “This is a perfect combination. Jurusan aku media dan political science, and this book is about journalism and politic, yang merupakan my two major,” katanya dengan campuran bahasa Inggris yang fasih setelah acara peluncuran buku itu pada Rabu, 12 Desember 2012 di Goethe House, Jakarta.

Selain itu, Raline juga merasa cocok dengan Lintang karena bahasa Prancis. Ada beberapa bagian Lintang yang harus menggunakan bahasa Prancis. Bahkan, Raline juga sempat menyanyikan sebuah bait singkat berbahasa Negeri Menara Eiffel itu. Logat sengau Prancis, yang menurut orang Indonesia cukup sulit, diucapkan oleh pemain film 5 cm ini dengan mudahnya. “I speak a bit of France, jadi jodoh aja sih dengan Lintang,” kata gadis yang mengenakan atasan putih dan celana hitam itu dengan santai.

Ia mengaku tidak sulit membacakan potongan novel itu. Menurut Raline, persiapan untuk melakukan pentas itu juga tergolong singkat, hanya dua hari. “Persiapannya nggak banyak, this is so relax. Aku kayak hanya reading naskah aja,” kata dara berusia 27 tahun ini.

Pulang menceritakan tentang Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia bersama ketiga sahabatnya yang terhadang pergi ke Indonesia setelah meletusnya peristiwa 30 September 1965. Paspor mereka dicabut. Latar novel ini pun berganti keĀ  Mei 1968 tentang gerakan mahasiswa yang berkecamuk di Paris. Kemudian berlanjut ke Mei 1998 di Indonesia dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa 32 tahun.

Novel Pulang ditulis pada 2006-2012. Leila dua kali ke Paris untuk mewawancarai eksil politik yang mendirikan Restoran Indonesia dan mendapatkan buku-buku serta literatur untuk menyangga novelnya itu.

*)Tempo, 13 Desember 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan