-->

Kronik Toggle

Mengapa Komik Indonesia Tidak Eksis?

Komik Indonesia sudah ada sejak tahun 1930-an, dalam bentuk komik strip dengan tokoh Put On karya Kho Wan Gie, terbit di surat kabar Sin Po di Jakarta. Berlanjut ke era komik stip di majalah Star 1939 – 1942.

Pada era 1940-an, muncul komik “Mencari Putri Hijau” karya Nasroen AS di mingguan Ratu Timur di Solo. Sedangkan di kota tetangga, Yogyakarta, Abdul Salam membuat komik di harian Kedaulatan Rakyat. Era 1940 – 1950-an munculah RA Kosasih dengan komik “Sri Asih”.

Selanjutnya, mulai muncul penerbit komik Melodi, dan komik wayang dan tokoh pendekar silat yang digawangi oleh Ganesh TH, Hasmi, Jan Mintaraga, Wid NS, dan lainnya pada dekade 1960 – 1970.

Setelah era di atas, muncul komikus Dwi Koen pada 1980-an, dekade selanjutnya muncul komikus yang saat ini masih eksis, diantaranya Benny, Mice, Beng Rahadian dari Akademi Samali, Ismail dengan Si Kribo. Mereka membuat komik strip di koran, setelah komik terkumpul, baru diluncurkan dalam bentuk kumpulan komik.

Namun, industri komik Indonesia sejak tahun 1990-an terlihat lesu. Hal ini dikarenakan “gempuran” komik manga dari Jepang. Kebanyakan komik manga menyasar anak-anak sebagai target marketnya. Ditambah lagi, penggemar komik era 1950 – 1980 semakin berkurang.

Sebuah survei tentang permasalahan Komik dipetakan oleh Komikoo, sebuah situs komik Indonesia. Komik Indonesia kurang diminati pembaca dikarenakan cerita kurang bagus, komik susah ditemukan di toko buku, kurangnya apresiasi dan rasa cinta pada produk lokal, gambar kurang konsisten, serta kurang mampu memroduksi komik secara massal.

Beng Rahadian, komikus sekaligus pendiri Akademi Samali, menyoroti tentang distribusi komik dan masalah komikus. Indonesia banyak memiliki komikus andal. Tetapi ketika mereka berhadapan dengan industri, mereka mengalami kendala, seperti pembagian hak cipta, kreativitas, distribusi, dan pasar. Jadi mereka banyak membuat komik ke luar negeri.

“Komikus Indonesia jarang yang mau ngomik di sini, padahal sebenarnya mereka mau, tapi ada kendala ketika menghadapi industri,” ujar Beng, dalam Bincang Komik, Kamis (22/11/2012), di Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI), di Jakarta.

Di sisi lain, ada toko buku, bagian dari industri, yang mendukung komik Indonesia. Beng menyebutkan toko buku Gramedia Depok yang memiliki rak buku khusus komik Indonesia. Tetapi hal ini tergantung sang manajer toko, apakah mau menyediakan rak khusus komik atau tidak.

“Masalahnya komik yang dipajangitu-itu aja. Distribusinya kurang. Kalau pembaca akan melihat komik itu-itu saja, mereka tidak mau,” lanjut Beng.

Menariknya adalah, jika pelaku industri komik telaten pasti dapat berhasil. Tetapi satu komunitas komik tidak harus mengerjakan semuanya. Komikus, penerbit, distributor, masing-masing bekerja dengan baik dan saling menduku akan dihasilkan kesuksesan sebuah karya.

“Yang namanya industri komik harus banyak aja, jangan bergantung pada satu figur. Saya tidak ingin pembaca terbuai indahnya komik, tapi ceritanya tidak ada.”

Menurut Bang, penyajian komik harus menceritakan, cerita haruslah baik, selanjutnya gambar muncul kemudian. Di sisi lain, banyak komik berkualitas bagus. Dari sisi kemasan, gambar, dan penerbit. Tetapi penjualannya tidak bagus.

“Ternyata mereka ada jarak dengan pembaca. Taste komik internasional, tapi soul-nya nggak masuk ke pembaca,” lanjut Beng.

Pembaca Komik Indonesia Beralih Selera

JAKARTA – Sunny Gho, komikus dan pendiri komik digital MAKKO berpendapat bahwa pembaca komik Indonesia selalu ada, hanya saja mereka beralih selera.

“Para komikus banyak yang ingin menerbitkan komik secara indie atau self publish, melalui media digital,” kata Sunny.

Sementara itu, Tri Damayantho selaku panitia Kompetisi Komik Indonesia (KKI) mengungkapkan dukungannya terhadap industri komik. Salah satu caranya adalah menggelar KKI secara rutin setiap tahunnya. Dalam penyelenggaraan KKI 2012, telah tersaring 16 nominasi, karya pemenang akan dibantu penerbitannya, sehingga bisa menghasilkan karya dalam wujud nyata ke publik. Malam penganugerahan KKI 2012 diselenggarakan pada 24 November 2012 di Epicentrum Walk, Jakarta.

Tri mengharapkan KKI tahun depan dapat mengadakan workshop komik dengan merambah ke berbagai kota untuk disinggahi. Begitu juga dengan kualitas hasil karya peserta yang diharapkan banyak peningkatan

*)Tribunnews, 24 November 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan