-->

Esai Toggle

Arman Dhani | Lima Buku Tak Layak Terbit 2012

Menulis buku tak pernah mudah. Tapi bukan berarti setiap karya yang lahir harus diapresiasi dengan gegap gempita. Saya ingat dalam sebuah otobiografi, The Nightmare of Reason: A Life of Franz Kafka yang disusun Ernst Pawel, Kafka pernah hendak membakar semua karyanya karena dianggap tak layak baca. Beruntung naskah itu tidak jadi dibakar, karena semua orang kemudian tahu  bahwa karya Kafka akan melampaui zamannya. Penjaga estate Kafka Max Brod tidak hanya tidak membakar naskah itu, namun juga menerbitkannya sehingga kita bisa menikmati cerita-cerita kanonik yang luar biasa itu.

Hal yang hampir mirip terjadi pada James Joyce. Sebagai penulis ia tak serta merta diterima. Karya seminal-nya Ulysses ditolak berulangkali dan dicekal sebelum akhirnya bisa diterbikan oleh Shakespeare and Co yang berbasis di Prancis. Kisah ini begitu masyur karena meski Joyce menjadi penulis yang terkenal dunia, toh pada akhirnya ia mati miskin. Hal yang tak kalah mengenaskan juga terjadi pada Ezra Pound, sahabatnya, yang masuk rumah sakit jiwa karena mengidap penyakit mental.

Melawat ke toko buku hari ini bagi saya adalah upaya menahan sinisme. Saya seringkali tak bisa membedakan antara toko perkakas perkantoran dan toko buku. Beberapa toko buku mengubah strategi marketingnya karena menyadari bahwa menjual buku saja tak akan bisa menghidupkan bisnis. Tak setiap hari orang membeli buku. Harga buku yang mahal dan minimnya kebudayaan membaca di negeri ini tak membaik dari tahun ke tahun. Sehingga mengharapkan sebuah toko murni buku hanya akan bernasib seperti The Elliott Bay Book Co yang gulung tikar karena sepi peminat.

Belum lagi barisan buku-buku best seller yang dipajang di rak-rak membuat saya bergidik ngeri. Tingginya angka penjualan buku self-help hanya berarti satu hal. Bangsa ini masih butuh orang lain untuk bisa menemukan jati dirinya. Penulis cum motivator Ippho D. Santosa adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang memberikan harapan bahwa “Semua orang bisa kaya raya,” “Semua orang bisa hidup bahagia,” dan “Semua orang dapat mencapai hidup penuh berkah,” dengan penekanan kata “asal mau bla bla bla”.

Tahun 2012 boleh jadi salah satu masa suram dunia literasi Indonesia. Ini kali terulang lagi kejadian menyedihkan pembakaran buku. Menyedihkan lagi bahwa pelaku bakar buku tersebut adalah penerbit yang nota bene mencetak buku itu. Hal ini semakin diperparah dengan upaya penerbit-penerbit besar yang jarang menerbitkan karya bermutu karena dianggap kurang laku. Daftar yang saya buat tahun ini barangkali bisa jadi replika bahwa selera baca bangsa ini masih sama saja.

Catatan Pinggir 9, Goenawan Mohammad, Pusat Data & Analisis Tempo

Terbitnya rangkaian jilid 9 seri Caping pertengahan tahun 2012 merupakan bukti bahwa Majalah Tempo gagal melahirkan kolumnis, atau katakanlah, esais baru untuk mengasuh rubrik legendaris ini. Caping yang sejak 1976 diterbitkan sudah hampir melampaui lima presiden tanpa sekalipun melakukan pergantian penulis hingga hari ini, yang kemudian jadi kultus bahwa Caping itu adalah GM, tak mungkin yang lain.

Apalagi adanya urban legend yang mengatakan bahwa pembaca majalah Tempo selalu memulai dari Caping. Hal ini terasa menggelikan sebab jika mereka hanya ingin membaca Caping, kenapa membeli keseluruhan majalah? Atau jangan-jangan liputan jurnalisme investigasi yang enak dibaca dan perlu itu tak akan laku tanpa Caping?

Di seri ke 9 yang diambil dari periode Juli 2007 – Desember 2010, GM bahkan masih menulis dengan gaya yang sama. Menyigi masalah aktual dengan bahasa prosa, dengan sedikit nukilan-nukilan dari buku-buku yang ia baca, sedikit kutipan dari filsuf kontemporer maka jadilah. Almarhum Rosihan Anwar pernah berkata, yang mengerti Caping barangkali hanya GM sendiri. Di seri ke 9 ini saya lompati, tak membaca pengantar dan hanya tahan membaca sekitar enam esai saja. Kebosanan yang saya rasakan sudah mencapai titik kulminasi dan memutuskan berhenti membaca ulang Caping untuk seterusnya.

Supernova: Partikel, Dee, Bentang Pustaka

Untuk sebuah buku yang menunggu terbit 8 tahun setelah Supernova: Petir dirilis 2004 silam, Partikel nyaris gagal sebagai sebuah sequel. Dewi ‘Dee’ Lestari barangkali sudah terlalu nyaman menulis novel teenlit belakangan ini dan lupa caranya untuk menulis secara serius.

Partikel sendiri bercerita tentang anak pemberontak dengan kemampuan berpikir cerdas yang ingin mencari keberadaan ayahnya. Sepanjang perjalanan ia juga merintis usaha untuk menemukan identitas dirinya sendiri. Juga usaha mencoba berdamai dengam masa lalu –daripada menentangnya sebagai sebuah realitas liyan dengan bumbu pengkhianatan cinta dan perselingkuhan ala kisah picisan novel remaja.

Perihal pencarian diri? Tema usang ini memang sudah terlalu sering dituliskan. Dan Petir membuat semua episode Supernova nyaris jadi novel motivasional alias self help book belaka.

Books based on Tweets, all of ’em

Ini adalah bukti nubuat paling sempurna dari nabi posmodern Andy Warhol. Ia berkata “In the future everybody will be famous . . .” dengan sambungan kalimat penuh ejekan: “For 15 minutes.” Ini sebabnya penulis berkelas dan seabsurd Pidi Baiq bahkan bisa terjebak pada fenomena micro famous. Di Twitter seseorang yang mampu meramu kata-kata indah puitis dengan nada motivasional berpotensi menjadi seorang seleb tweet.

Apa yang bisa disampaikan oleh tulisan yang terbatas 140 karakter? Sebab membaca buku-buku semacam ini saya teringat masa-masa sekolah dasar ketika kita bertukar catatan harian dengan kata-kata mutiara. Fenomena semacam ini mirip dengan booming buku-buku dakwah romantis ketika novel Ayat-Ayat Cinta meledak di pasaran, yakni sebuah budaya dadakan yang lahir karena adanya fenomena Twitter.

Dalam desertasinya, Alice E. Marwick, seorang social media researcher menjelaskan bagaimana media sosial mengubah “something a person is to something a person does,” di mana ia “exists on a continuum rather than as a singular quality.” Marwick lantas melahirkan konsep microcelebrity sebagai “as a mind-set and set of practices in which one‘s online contacts are constructed as an audience or fan base, popularity is maintained through ongoing fan management, and self-presentation is carefully assembled to be consumed by others.

Maka jelas bahwa menulis buku-buku berdasarkan status twitter semacam ini hanya akan bernasib sebagai trend semu, seperti latah buku kumpulan sastra Facebook dua tahun lalu yang berakhir dengan cara mengenaskan.

Ngawur Karena Benar, Sujiwo Tejo, Imania

Ekspektasi saya ketika membaca buku ini adalah membedah apa itu maksud dari Ngawur Karena Benar. Apakah ia semacam usaha filosofis untuk mendobrak dogma usang? Atau sebuah catatan dialektis dari seorang so-called seniman serba bisa? Tapi saya hanya bertemu dengan sebuah kumpulan catatan ulang dari sebuah kolom dari koran nasional. Dengan narasi yang singkat dan bahasa Jawa Timuran khas buku ini berusaha melakukan tawaran perspektif.

Dengan menggunakan metafora tokoh-tokoh pewayangan, Agus Hadi Sudjiwo -nama asli Sujiwo Tejo, berusaha menuturkan isu aktual dengan gaya bercanda. Namun sayangnya ia gagal. Ngawur Karena Benar barangkali hanya sebuah buku kejar setoran, karena mbah Dalang tak lagi mampu melahirkan konsep orisinil paska negeri imajiner #Jancukers.

Chaerul Tandjung si Anak Singkong, Penerbit Buku Kompas

Do I have to tell you why this book sucks? Dengan rekor 17 kali cetak ulang barangkali ini adalah buku biografi terlaris paska era kedigdayaan Biografi Pak Harto susunan Gufron Dwipayana  dan Ramadhan KH serta otobiografi Soekarno susunan Cindy Adams. Namun bagi saya buku ini tak lebih dari semacam kronik megalomaniak Chaerul Tandjung atas glorifikasi hidupnya. Dengan gaya penulisan membosankan dan nyaris tanpa emosi membuat buku ini tak lebih baik dari teks book pengantar statistik.

Buku ini barangkali berniat memberikan janji, bahwa dengan bekerja keras kita bisa meraih mimpi. Buku yang lagi-lagi motivasional menawarkan mimpi semu. Walau sempat menjadi perbincangan akibat isu murahan gugatan dari sang ghost writer, buku ini hampir membuat pembacanya menarik kesimpulan yang sama, “Iye elu hebat. Terus?

Setiap bab adalah bukti bahwa narsisisme adalah penyakit akut  yang banyak diderita oleh orang kaya. Bagi saya buku ini adalah puncak dari sebuah kedegilan literasi Indonesia. Ketika buku-buku berkualitas hilang diganti dengan omong kosong yang tak semestinya ada.

Tanggapan:

  • epistemocrat

    Mas Arman, mungkin saya bukan orang yang membaca Ulysses ataupun Kafka. Tapi menurut saya, yang mas sampaikan terlalu chauvinist.

    Di buku mana pun, mas bisa menemukan idea yang bisa dijadikan pembelajaran.
    Mungkin menurut mas buku2 di atas tidak sesuai dengan standard mas sebagai so-called critics (ijinkan saya meminjam ucapan mas). Tapi apakah mas pernah melihat dari sudut pandang orang biasa yang belum pernah membaca “Ayat-ayat cinta” sekalipun?

    Dengan menyebut buku tidak layak terbit, yang mas lakukan bukan memberikan solusi akan pembakaran buku, tapi mas sudah mengaborsi ide-ide (yang menurut mas biasa saja) tapi bisa jadi menginfluence hidup seseorang, bahkan bisa jadi memotivasi orang lain untuk menulis buku (yang bisa jadi setara dengan Kafka).

    Dan menurut mas, apakah mungkin orang biasa seperti saya akan langsung rajin membaca jika disodorkan Ulysses? Membaca itu kebiasaan mas, dan kebiasaan harus dimulai dari sesuatu yang kecil bukan hal besar seperti Ulysses dan Shakespeare.

  • Ketika Membaca

    Semua buku2 so-called-selebtwit itu sampah. Ya ya dan saya gak beli . baca di gramedia gratisan udah tau dalemnya pun saaaampaaah.

  • anwarholid

    salut arman dhani, kamu berani bikin list seperti ini! semoga list ini jadi tamparan kecil bagi para peminat baca-tulis dan industri penerbitan indonesia secara umum. kita selalu butuh orang berani, meskipun biasanya sedikit. dan aku, yang agak penakut dan pengecut, hanya berani mendukung dari belakang.

    tapi begini, kita harus tega membedakan antara industri penerbitan/buku dengan wajib bisa menemukan buku hebat di tengah lautan buku yang terbit sebagai barang kodian. penerbit memperlakukan buku sebagai komoditas yang harus bisa diserap pasar, sementara penulis atau publik pembaca memperlakukan buku sebagai karya seni yang bisa mempengaruhi hidup dan memperkaya jiwa mereka. jujur, sebagai orang yang dapat nafkah di industri penerbitan—termasuk mengedit naskah dari tweets :D—aku tidak tega bilang bahwa buku self-help/motivasional, dari tweets, dan apa pun yang so-called murahan sebagai sampah. sebagian orang/pasar mendapat manfaat dari sana kok. selama ada orang yang dapat manfaat, aku cukup yakin buku itu tetap layak terbit. minimal untuk menggiatkan ekonomi dan memutar roda kehidupan. buku seperti itu punya pangsa pasar/pembaca yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan antusiasmenya melahap buku-buku yang kita nilai buruk. buku best seller memang belum tentu merupakan best book, tapi minimal memperhatikan ada buku yang bisa memenangi selera massa. dan aku pikir menulis atau menghasilkan buku yang seperti itu susah, karena itu tetap pantas untuk dihargai. nanti kalau bisa aku tunjukkan ada loh buku yang meski cuma berisi 2 kalimat tiap halaman, ia tetap bisa menohok ulu hati sampai nyeri.

    aku pikir kita cuma butuh tafsir pemaknaan yang masuk akal dan berani untuk bilang bahwa sebuah buku pantas dibaca atau tidak. artinya, buku yang menurut kita lebih pantas dibaca harus dipropagandakan, siapa tahu bisa mengalahkan buku-buku murahan itu. kalau buku-buku yang dinilai bagus/berharga itu susah diakses atau susah dipahami, kita mau apa? seingetku mikhail bakhtin pernah bilang, kalo leo tolstoy tidak hidup, maka akan ada orang lain yang melahirkan war and peace. cmiiw. masterpiece itu bisa lahir dari siapa saja kok, tinggal keyakinan dan penjelasan kenapa sebuah karya dianggap hebat atau busuk. jadi, kalo dulu karya kafka benar-benar dibakar dan menuruti wasiat penulisnya agar tidak diterbitkan, entah di mana dan kapan tetap akan terbit karya ataupun buku-buku yang mengguncangkan. sama seperti kasus meski sebagian orang tetap sulit mengapresiasi laskar pelangi; tapi harus diakui, menghasilkan karya yang lengkap—bertuturnya enak, lucu, menghibur, sekaligus mengharukan—itu susah. itu sebabnya karya seperti itu patut dihargai. manfaatnya lebih kentara daripada kekurangannya. barangkali memang tugas kita untuk berusaha mempersepsi/membentuk selera bahwa sebuah buku itu pantas dikonsumi/layak terbit, biar minimal buku itu sama-sama akan dibaca orang lain tanpa paksaan atau promosi yang menipu. kita banyak-banyakan saja mempropagandakan buku yang kita anggap bagus, biar orang berhenti membaca buku bodoh.

    terima kasih arman. akulah pendukungmu! sejak awal aku sudah sangsi dengan buku-buku yang masuk daftar kamu, dan sekarang aku yakin serta bersyukur bisa

  • Si-A

    mas arman ini kelihatannya sudah ekspert banget ya diksinya, keren2 lo mas. Tapi ijinkan sy meluruskan satu saja lah kesalahan anda. Saya kira buku biografi yang penulisnya jelas tertera namanya (misalnya buku biografi Bung Karno karya Cindy Adams) bukan otobiografi namanya tapi biografi saja, kecuali yg nulisnya Bung Karno sendiri. Pengertian oto pada otobiografi adalah berarti penulis biografi itu (seolah-olah) adalah dirinya sendiri (padhl mungkin juga yg nulisnya ghostwriter). Demikian, hatur tengkyuw.

  • saya

    Harusnya ini bisa jadi ‘tamparan’ atas semua orang yg masih perduli kualitas sastra di Indonesia, dimana tidak bisa dipungkiri, sudah sangat merosot. Seharusnya review ‘berani’ seperti ini diperbanyak, sudah saatnya kita menarik garis lagi tentang apa yang layak dan tidak layak, dan harus diakui, terlalu banyak buku yang menyianyiakan ‘pengorbanan pohon’. Layak dibaca, tapi mungkin sekali lagi, tidak layak terbit.

    Dan bagi penulis (siapapun itu) ini bisa jadi kritik yang menyenangkan karena mereka bisa menemukan alasan baru untuk menulis dan terus menulis. Toh sering kali suatu karya bisa monumental karena terus menerus dikritik.

    Salam 😀

  • Ragil Caitra L.

    The sarcasm and cynicism in this article is too damn high but I agree with this. Too many pop books and as far as I know, the buyers themselves are buying for the purpose of RT that they will get from the author so yeah bye.

  • Radik

    tulisan di atas adalah salah satu tulisan yang tidak layak muat di 2012. Komentar saya juga termasuk yang tidak layak baca..

  • Homer Harianja
  • Apa yang bisa disampaikan oleh tulisan yang terbatas 140 karakter?Haiku mas
  • Ilham satrio

    Nampak banyak introgator yah. Ah, tapi semua Buku tentang orang SUKSES memotivator(!) dgn cerita yg dieksploitasi habis-habisan, judul sensasional nan hiperbolis berkadar “alamak!”, dan terlalu cepat hilang dilibas gemah ripah linimasa, dgn sendirinya malah menjadi layak cetak sbg ornamen penghias lagi pemadat etalase, bung. E tapi, demi colombus, semuanya emang agak-sedikit-kurang-patut-dan-layak-utk-dibeli-terlebih-dibaca. Huahahahaha

  • Dion

    Sudahkah anda membaca SEMUA buku yang terbit tahun ini?

  • projo

    Gilaaa.. org bego kaya gini bisa jadi penulis? Tulisan ente lebih kgk layak lagi bro utk dibaca.. belajar dulu lah yg bener atau silahkan cari alternatif profesi yg lain… oke mas bro?

  • Chinerisme

    Motivasi menulis buku kan beda2 kalo motivasi mereka tersampaikan berarti

  • bahlul

    kalo buku si eks vokalis homogenic itu gimana kak?

  • A Snow Tiger

    Pengen tahu yang layak terbit tahun ini ada ga? Oh iya, bukunya Dahlan Iskan kok gak masuk sih? :p

  • Rere

    Kalo gak layak ya gak bakal pernah terbit buuuuk.. –“

    • Miaw

    Ya bisa aja terbit dong Nak, logikamu dimana si? Kan bisa diterbitkan karena sekedar memanfaatkan peluang (baca:oportunis), seperti penulis 140 karakter, bisa juga terbit karena modal sendiri seperti anak singkong. Esensinya ga nangkep ya? Tak layak terbit disini bukan sekedar ‘publish’ tapi juga tak layak ‘disimak’….

  • Erwin Santoso

    Kenapa cuma ada lima buku yang anda review saja? Apakah cuma lima buku itu saja yang menonjol di tahun 2012 ini? Lalu buku apa yang menarik (yang terbit di tahun 2012) untuk dibaca?

  • Yessi Greena

ya tiap orang kan bebas menilai segala sesuatu sik… dari kelima buku ini, saya cuma baca yang Partikel…umm..kalo tu Partikel sampeyan nilai nggak layak terbit, apakabar novel-novel saya yak? :)))lah sampeyan udah pernah bikin buku belum sik?

    • Nuran Wibisono

      “lah sampeyan udah pernah bikin buku belum sik?” Jadi kalo mau ngeritik presiden, harus jadi presiden dulu? :3

    • Yessi Greena

      yang bilang kalau mau ngeritik presiden harus jadi presiden dulu sapah?
      lah wong saya cuma nanya mas e udah pernah bikin buku apa belum kok? 🙂

  • Karel

    Wah, yang nulis artikel ini dpt beasiswa? Kok terlihat seperti anak yg tidak dididik ya?Memangnya kamu sudah hebat sampai mengkritik begitu? Coba deh kamu sendiri yg nerbit sebuah buku. Sebut saja kamu itu ‘penulis lepas’ yg iri dengan penulis-penulis lainnya. Hahaha! Menyebut diri sendiri sbg PENULIS. Tapi, kamu tidak tahu etika menulis sehingga mengkritik sesama penulis lainnya.

  • lala

    Mungkin judul artikel ini harus ditambahkan: Lima Buku Bestseller Tak Layak Terbit 2012. 😉

  • andregonzales

    analisisnya cerdas,

  • alfredpasifico

    buku-buku cerita perjalanan? atau mungkin penulis malah malas beli buku semacam itu, jadi akhirnya tidak direview 😀

  • sadjie

    Keren mas rahman, salam persaudaraan, dari Sadjie

  • hary

    namanya jg buku biografi, nggak ada ’emosi’ jg wajar. .
    Mslh narsisme jg wajar, namanya jg orang sukses. .
    Bagaimana dgn buku picisan yang lain?. .

  • Adi

    akut atau kronis? kalo maksudnya menahun ya ‘kronis’ terjemahan yg paling tepat 🙂

*) Jakartabeat, 26 Desember 2012

13 Comments

allpeoplesay - 28. Des, 2012 -

Ternyata ada ya kritikus buku. Sangat membantu untuk mendobrak sistem kapitalis industri buku, yang sering menjual buku tanpa kita diberikan sample buku untuk melihat daftar isi.

Usul saya buatkan juga daftar buku terbaik…

Ali Label - 28. Des, 2012 -

Wong kotoran manusia aja ada manfaatnya, apalagi sebuh buku..

Gitu Doank - 29. Des, 2012 -

Sekian minggu terakhir, saya juga masuk ke sejumlah toko buku dan entah berapa kali pulang tanpa menjinjing satu buku pun. Gawat memang. Nyaris tak ada buku yang layak menjadi santapan otak dan batin.
Pocong-pocong, tweet…omong-omong kenapa gak mencecar sekalian novel-novel ‘sok vulgar’ dari Ayu Utami yang, yah…lagi-lagi gitu doank, kata supir bemo?

Agus Rubiyanto - 29. Des, 2012 -

Kepada Mas Armand dani juangan takut dihujat. pantang mundur. yang menghujat anda berarti seleranya nggak bermutu. kritik seperi diatas justru membangun. penulis yang ga siap dikritik berarti bermental tempe.

satu hal lagi. kritik sastra dan penulis adalah dua wilayah yang berbeda. jadi yang sewot dan ngatain mas Dhani “emang elo bisa nulis ?”. ke kuburan aja sono

mahad - 30. Des, 2012 -

menurutku, ada benarnya apa kata mas arman, terutama tentang si anak singkong yang terkesan minta pujian,,,dari gembel ke gedongan…. tapi,,,, dalam hal ini yang paling penting adalah,,,, BUKU APA YANG SUDAH PERNAH BERHASIL DI TULIS OLEH AMS ARMAN YANG BERMUTU???? SEBUAH TANDA TANYA BESAR…JANGAN HANYA BISA MENCACI….NGERTI NGGAK??????

hahaha - 26. Feb, 2013 -

Kenapa agresif sekali terhadap sang kritikus? Kritik tidak sinonim dengan “cacian”; kritik adalah tanggapan yang muncul dari pemikiran matang, bukan sekadar hinaan tanpa dasar. Kritik adalah hasil apresiasi yang (bahkan, mungkin) lebih tinggi dari pujian semata. Apalagi kritik membantu penulis-penulis dan pembaca untuk menemukan kekurangan dari karya yang terbit. Contoh cacian adalah komentar anda disini. Satu hal lagi, komen anda menunjukkan logical fallacy klasik argumentum ad hominem, menyerang sang pendebat dan bukan argumen yang diberikan. Jadi ya, komen anda tidak bermutu. Jangan hanya bisa mencaci.

Aulia - 31. Des, 2012 -

Mas, salut untuk kritiknya. Tapi saya pikir lebih tepat menggunakan kata ‘overrated’ daripada ‘tak layak terbit’. Bagaimanapun, meskipun sedikit sekali (dan kejengkelan yang saya rasakan jauh lebih besar), masih ada hal baik yang bisa diambil dari buku self-help ataupun… buku kumpulan tweet (yang terakhir ini sih saya nggak pernah ngerti kenapa orang mau beli sesuatu yang bisa dibaca gratis secara online).
‘Overrated’, Mas, ‘overrated’!

Dian Ina - 02. Jan, 2013 -

setahu saya, Catatan Pinggir itu memang kolom milik GM. yang artinya kalau GM berhenti menulisnya, maka kolom itu akan hilang, atau tidak lagi bernama Caping. tetapi kalau majalah Tempo dianggap gagal melahirkan kolumnis, saya yakin itu tidak benar. penulis kolom di majalah Tempo ada banyak. bukan hanya GM.

padanan untuk Caping sebagai kolom misalnya ada di Celathu, kolom mingguan Butet Kertaradjasa di Suara Merdeka, atau Parodi –kolom Samuel Mulia di Kompas.

sementara untuk bukunya, setahu saya masing-masing buku Catatan Pinggir 1-9 sudah pernah terbit terpisah. Caping no 9 terbit tahun 2011. Rangkaian 9 jilid Caping yang terbit tahun 2012 ini, sejatinya hanya layout ulang kemudian cetak ulang sebagai satu set.

bagaimana anda bisa melancarkan kritik sembari mengabaikan fakta-fakta tersebut di atas?

arman dhani - 08. Jan, 2013 -

dear Dian Ina

Titik tekan saya soal regenerasi bukan soal caping milik GM atau bukan. Lebih pada perkembangan esais yang diciptakan Tempo. Ada banyak esais/kolumnis tempo yang berkualitas dan sangat sedikit yang kemudian dibukukan. Saya mencatat ada banyak varian Caping yang diterbitkan. Semacam Esai Kata Waktu, Conversation with difference, side lines. Bagi saya ini menyebalkan. Mengapa tidak ada cetak ulang kolom mahbub djunaedy yang legendaris itu? atau umar khayam, atau yang masih hidup Putu Setia dengan cari anginnya. regenerasi dan pengkultusan GM sudah berlebihan.

untuk isi, apa yang saya katakan barangkali hanya versi ringkas dari kritik panjang yang diberikan Ignas Kleden di pengantar Caping jilid II. Ignas Kleden dengan cemerlang mendedah ambiguitas,aforisme bertumpuk dan ke-emoh-an GM untuk memahami apakah tulisannya dipahami atau tidak.

begitu.

tolol - 04. Jan, 2013 -

Apakah Anda, sudah pernah belajar untuk mengkritik karya seseorang dengan cara lebih baik? Kalo gak kembali sono keSMP! Haha (n)

Amang - 08. Jan, 2013 -

Tidak ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan kritik selain setajam mungkin dan selugas mungkin. Tulisan Dhani ini jelas kritik pedas dan bisa jadi salah satu masukan bagi penerbit/penulis yang dikritik.

Memang, cara menulis kritik bisa macam-macam, jadi yang mau kritik lebih halus atau lebih sadis, silakan saja mengkritik mengikuti jejak Dhani ini. Kita perlu lebih banyak kritik kalau mau maju, termasuk kritik semacam ini.

Buat Dhani, risetlah lebih dalam tentang buku yang dikritik agar bisa lebih banyak mengkritik. Jumlah buku yang dikritik bukan soal, tetapi saya menyoal kedalaman setiap kritiknya.

Semangat!

Elisa - 07. Feb, 2013 -

Otobiografi itu bukannya ditulis sendiri oleh orang yang diceritakan riwayat hidupnya?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan