-->

Kronik Toggle

Klub Asia Afrika Budayakan Literasi di Museum

Bandung– Kegiatan diskusi berdasar semangat literasi bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun, termasuk di sebuah museum. Asian African Reading Club (AARC), sebuah komunitas baca, yang melakukan hal ini. Mereka melakukan aktivitasnya di Museum Konferensi Asia Afrika di kawasan Braga, Bandung. Komunitas ini ingin menafikan anggapan umum bahwa fungsi museum hanyalah sebatas tempat berhentinya peradaban dan wadah penyimpanan benda-benda mati di masa lalu.

“Kegiatan baca dilakukan dengan menggunakan metode tadarusan, seperti di pesantren,” kata Adew Habtsa, Sekjen AARC, di ruang Audiovisual Museum Konferensi Asia Afrika, pada acara khataman buku Bunga Rampai Bandung Ibukota Asia Afrika, Rabu, 5 Desember 2012.

Teknisnya, kata Adew, setiap peserta membaca satu teks secara bergantian, sedang peserta yang lainnya mendengarkan. Setelah itu, barulah dibuka sesi diskusi dengan mengundang pemateri dari golongan akademisi dan budayawan.

Bunga Rampai Bandung Ibukota Asia Afrika adalah salah satu produk komunitas ini. Buku ini memuat kumpulan tulisan anggota AARC sebagai realisasi nyata dari kegiatan baca yang telah dimulai sejak pertengahan Juli 2011 lalu.

Ada tiga kelompok kegiatan yang bisa diikuti para anggota AARC, di antaranya klub budaya, di mana kita bisa belajar bahasa Esperanto, Prancis, Mandarin, dan Jepang. Sedangkan kegiatan andalan mereka tahun ini adalah diskusi buku berjudul Tonggak-Tonggak Perjalananku setebal 666 halaman, karya Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri ke-8 Indonesia.

Adew menjelaskan, awalnya klub baca ini diadakan sebagai upaya menjejaki peninggalan bersejarah yang ada kaitannya dengan peristiwa fandung. Di antaranya mengunjungi Istana Bogor, Gedung Pancasila, hingga sampai juga di kediaman Bapak Roeslan Abdulgani di Jakarta Pusat.

Selanjutnya buku lain yang sudah diselesaikan pembacaannya sepanjang tahun 2011 adalah Asian Future Shock, yang sebagian besar menceritakan problematika sosial-politik di negara-negara yang tersebar di Asia. “Setiap negara punya kisah yang bisa dipetik pelajarannya,” ujar Adew.

Kegiatan AARC lainnya antara lain bakti sosial dan talkshow di Radio Bobotoh FM tiap hari minggu pukul 10 pagi. Komunitas ini juga melahirkan Audiobook “The Bandung Connection”, lukisan Ali sastroamidjojo oleh seniman E.S. Edos, dan album musik Merayakan Perdamaian.

Menurut Adew, saat kegiatan ini dimulai, peserta masih sedikit. Jumlah peserta diskusi paling banter 20 orang. Namun AARC disetiap aktivitasnya ingin menyampaikan empat pesan, yakni niat baik, kesetaraan, perdamaian, dan kerja sama.

Adew berharap anggota AARC bisa menempatkan dirinya sebagai public educator lewat media yang mereka minati, misalnya tulisan, sastra, musik, seni rupa, dan lain-lain.

“Membaca hanyalah salah satu medium untuk menggali ilmu dan pengetahuan agar api dalam batin tetap bersinar terang,” katanya. Setelah membaca ada tugas lain yang menanti, yakni menuliskan apapun yang tertangkap dari pengertian, pemahaman, sehingga tersiar khazanah pengetahuan kepada khalayak banyak.

Pemandu Museum Asia Afrika, Desmond Satria Andrian, kegiatan ini merupakan salah satu upaya pengakraban museum kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat Bandung. “Secara bertahap museum menjadi tempat yang menarik sebagai sarana edukasi,” kata dia.

Kebijakan pemerintah yang memasukkan pengelolaan museum ke Kementerian Ekonomi Kreatif dan Pariwisata juga menjadi salah satu penyebab. Menurut Desmon, seharusnya pengelolaan museum masuk ranah pengelolaan di bawah Menteri Pendidikan. “Museum bukanlah sarana pariwisata. Ia hadir untuk dihayati, serta ada kontemplasi. Meresapi kenikmatan sejarah dalam perenungan yang hening,” kata Desmon.

*)Tempo, 7 Desember 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan