-->

Kronik Toggle

Indonesia Kunci Perdamaian Timur Tengah

Peran Indonesia sangat dibutuhkan dalam proses perdamaian Timur Tengah untuk mendamaikan konflik Arab-Israel.

Pengamat militer Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jaleswari Pramowardhani, dalam diskusi buku Catatan Rais Abin Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah 1976-1979 terbitan Penerbit Buku Kompas, di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Rabu (12/12), menjelaskan, sejak Rais Abin, belum ada lagi pejabat Indonesia yang mampu menjadi komandan misi PBB sekaligus menciptakan perdamaian Arab-Israel.

”Sudah jelas Mesir dan negara Arab menjadi sahabat Indonesia. Rais Abin berani bertindak tidak populer dengan membuka komunikasi dengan Israel. Israel adalah pihak bertikai yang mau tidak mau harus dihubungi dan dibangkitkan rasa percayanya terhadap Rais Abin. Hasil akhir dari komunikasi tersebut sangat penting, yakni Perdamaian Camp David antara Mesir dan Israel,” kata Jaleswari yang akrab dipanggil Dhani itu.

Dipercaya pihak Arab dan Israel adalah kemampuan diplomasi militer yang langka. Terlebih Rais Abin mewakili negara dengan penduduk penganut Islam terbesar di dunia. Di sisi lain, ujar Dhani, negara-negara Barat banyak yang mendukung Israel karena kuatnya lobi Yahudi.

Dhani menyayangkan, setelah 35 tahun, belum ada lagi petinggi TNI yang menjadi Komandan Pasukan Perdamaian PBB. Meski diakui selama ini sejak tahun 1950-an Pasukan Perdamaian PBB asal TNI selalu mendapat pujian dalam penugasan.

Sejarawan Rushdy Hoesein yang juga pengajar di Sekolah Dinas Luar Negeri mendesak agar pemerintah mengambil peran lebih besar lagi dalam konflik Israel-Palestina.

”Para pemuda Palestina juga berhubungan dengan saya. Belajar dari pengalaman Rais Abin dan kondisi Arab yang sulit bersatu, peran Indonesia sangat dibutuhkan dalam mendorong agenda perdamaian Palestina dan Israel,” kata Rushdy. (Ong)

*)Kompas, 13 Desember 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan